Jauh Berjalan Banyak Belajar
Jauh Berjalan Banyak Belajar
(Episode 1 : Membaca Ayat Kauniyah Allah)
Tetes embun masih memenuhi permukaan daun. Udara dingin pun masih terasa menggigit. Meski begitu kami harus bergegas untuk segera sampai di Bandara Kuala Namo Deli Serdang pada pukul 04.30 WIB sesuai dengan kesepakatan di grup WA rombongan muhibah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan ke MUI Bandung.
Untuk wilayah Medan dan sekitarnya, tentu saja waktu tersebut belum memasuki waktu untuk sholat Shubuh. Namun tak masalah karena fasilitas mushollah di bandara sangat baik untuk memenuhi kewajiban hamba kepada sang Khalik.
Seraya menunggu proses boarding pass panitia keberangkatan dari MUI sibuk membagikan sarapan kepada rombongan yang sudah hadir berupa nasi uduk, kebab dan air mineral. Sebagian rombongan ada yang memilih sarapan sambil menunggu boarding pass dan yang lain segera menuju ruang tunggu serta melaksanakan sholat Shubuh. Semua proses berjalan runut dan tertib.
Mendampingi suami dalam perjalanan muhibah dari MUI Medan ke MUI Bandung sungguh memberi kesempatan bagi penulis untuk banyak belajar. Belajar bersyukur, belajar membaca ayat-ayat Allah, baik ayat qauliyah ataupun kauniyah.
Membaca ayat qauliyah adalah dengan membaca ayat-ayat di dalam Al Qur’an sementara itu yang dimaksud dengan ayat-ayat kauniyah adalah dengan membaca fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita seperti peristiwa alam, sosial, dan sebagainya.
Berada di dalam pesawat yang kemudian terbang di atas awan, kesempatan membaca ayat kauniyah Allah terbuka lebar. Membuat diri ini menyadari betapa Maha Besar dan Maha Kuasa Allah SWT. Sejauh mata memandang terhampar bentangan awan dengan segala misteri yang ada di dalamnya.
Tiap kali pesawat melewati gerombolan awan yang terasa adalah ibarat berada di dalam mobil yang berjalan di atas jalanan yang rusak. Mengapa demikian padahal secara kasat mata yang terlihat gumpalan kapas putih yang sangat lembut. Namun memiliki kekuatan untuk menggetarkan pesawat. Pastilah ini disebabkan karena ada sesuatu di dalam awan.
Hal ini disebabkan karena turbulensi yaitu gerakan udara tidak beraturan sebagai akibat perbedaan tekanan atau temperatur. Awan yang pada mulanya terbentuk dari air yang mengalami penguapan di bumi kemudian dibawa oleh angin dari tempat penguapan ke tempat pengendapan di mana akan diturunkan kembali ke bumi sebagai hujan. Angin juga dapat mengumpulkan gumpalan-gumpalan awan sehingga terkumpul di atmosfer bumi.
Proses pembentukan awan seperti dijelaskan di atas, 14 abad yang lalu jauh sebelum teknologi yang canggih seperti saat sekarang ini, Allah telah menjelaskan di dalam Al Quran pada surat An-Nur ayat 43 :
Allah SWT berfirman: "Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan."
Sejatinya, jauh berjalan banyak dilihat. Segala sesuatu yang dilihat memberikan kesempatan bagi kita untuk belajar.
Belajar memahami ayat-ayat Allah.
#edisibacalingkungan#
#jauhberjalanbanyakbelajar#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Wallahu a’lam bishshowwab.
Perisai Pribumi, 11 Januari 2023
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
