Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bermain Kotor yang Menyehatkan
Fakhril Muhammad Keyoza Alfarezel cucu penulis yang asyik bermain lumpur di kampung halaman. (Sumber: RaRa)

Bermain Kotor yang Menyehatkan

Judul di atas terasa kontroversi karena biasanya yang sehat menuntut syarat bersih. Lantas bagaimana caranya yang kotor bisa jadi sehat ? Bermula dari kunjungan penulis ke kampung halaman. Dua orang cucu yang berusia 4 dan 6 tahun tak mau ketinggalan selalu ikut serta. Dalam ingatan penulis, kedua bocil ini memang selalu semangat dan antusias untuk melakukan perjalanan ke tempat kelahiran si Mbahnya.

“Nanti kami main lumpur di tempat uyut...yaa...Uthi,” demikian mereka ungkapkan setiap kali akan bepergian ke rumah uyutnya (orang tua dari kakek/nenek). Setiap akan pergi, mereka pun mempersiapkan perlengkapan yang mereka perlukan. Dari mulai serokan dan cetakan plastik aneka bentuk sebagai peranti bermain pasir atau lumpur nantinya.

Semula, penulis hanya menilai dari apa yang terlihat saja. Dalam pikiran penulis betapa bahagianya anak-anak ini dengan gelak tawanya yang lepas saat bermain di dalam lumpur. Membuat aneka bentuk hewan, bunga dan buah dari pasir serta istana. Tentunya rasa bahagia akan membawa dampak positif bagi tumbuh kembangnya. Demikian pemikiran sederhana penulis.

Tapi.., benarkah bermain lumpur miliki dampak positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak? Pertanyaan ini dibarengi pula dengan rasa khawatir umumnya para ibu jika anak-anaknya bermain lumpur.

Ternyata, dari beberapa referensi yang penulis baca bahwa anak-anak memang sangat suka bermain lumpur sehingga ada alasan untuk bermain air setelah mereka berlumpur ria. Tekstur lumpur yang basah namun bisa dibentuk, sangat disukai anak-anak. Mereka pun menjadi lebih kreatif dengan membentuk lumpur sesuai keinginannya.

Kekhawatiran orang tua jika anaknya bermain kotor tentunya wajar mengingat di dalam lumpur pastilah ada mikroorganisme. Namun menurut penelitian Johns Hopkins Medicine bahwa anak-anak yang sejak dini terpapar mikroorganisme lebih mungkin memiliki respon kekebalan tubuh yang baik dan adaptif dengan perubahan lingkungan. Selain itu paparan bakteri tanah Mycobacterium vaccae dapat merangsang otak melepaskan hormon serotonin yang berfungsi untuk mengatur suasana hati sehingga dapat membantu anak terhadap risiko depresi.

Meski demikian, tentunya orang tua harus berhati-hati saat anak-anak bermain lumpur atau pasir. Pastikan agar kita senantiasa dapat memperhatikannya dan anak bermain dalam kondisi aman. Maka perlu kita perhatikan beberapa hal sehingga permainan kotor namun menyehatkan ini dapat dilakukan anak dengan penuh kegembiraan :

1. Pastikan bahwa pasir ataupun lumpur tidak terkontaminasi dengan kotoran-kotoran hewan, sampah, ataupun limbah kimia.

2. Menjelaskan pada anak agar tidak bermain lempar-lemparan yang bisa membuat pasir/lumpur masuk ke mata, hidung, telinga ataupun mulutnya.

3. Segera mandikan mereka setelah bermain lumpur dan jika perlu potong kukunya untuk menghilangkan sisa-sisa lumpur yang melekat.

P

Referensi pendukung :

**(censored)**

**(censored)**

**(censored)**

**(censored)**

**(censored)**

#edisibacalingkungan#

#bermainsambilbelajar#

#permainanedukatif#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 7 Februari 2023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post