Kreativitas Tak Berbatas Ruang
“Anak-anak, setelah kita mengetahui morfologi tanaman baik akar, batang, daun dan bunga, bagaimana kalau kita mengamati langsung tanaman-tanaman di lingkungan sekolah?” Tawaran ini mendapat respon luar biasa dari siswa. “Iyaa., Bu. Kita keluar kelas saja.” Hampir serempak mereka menjawab. Tentu saja ini sebagai indikasi bahwa belajar di luar lebih mengasyikkan. Terlepas dari apakah ada yang bertujuan untuk bisa bermain-main di luar kelas, berpikiran positif tentu lebih utama.
Penulis pun mengajukan beberapa persyaratan bagi mereka agar keinginan belajar out door dapat dipenuhi. Sesungguhnya untuk materi pelajaran Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan) belajar di lingkungan terbuka lebih mendukung agar siswa dapat secara langsung mengamati jenis-jenis tumbuhan.

“Anak-anak sebelum kita keluar kelas, pastikan dirimu dapat mematuhi peraturan berikut ini.” Penulis pun segera membacakan tata tertib di lapangan yang harus mereka patuhi :
1. Harus tertib, tidak membuat kegaduhan agar tidak mengganggu kelas lain yang juga sedang belajar.
2. Tidak membuat kerusakan pada tanaman yang menjadi objek pengamatan.
3. Harus menyebar, sehingga jenis tanaman yang diamati lebih banyak.
4. Untuk satu tumbuhan, tidak lebih dari 3 orang yang mengamatinya.
5. Masing-masing siswa harus memperoleh jumlah tanaman yang sudah ditentukan.
6. Jangan lupa mencatat hasil pengamatan.

“Bagaimana, bisa dipatuhi?” tanya penulis pada seluruh siswa. "Bisaaa.., Bu." Jawab mereka penuh semangat. Selanjutnya, siswa pun diperkenankan bergerak menuju halaman sekolah. Tapi.., kenyataan tidak semudah apa yang dikatakan. Berulang kali harus berteriak, “Nak.., jangan di situ. Kita menuju ke lapangan yang sebelah sana.” Sambil menunjuk ke arah lapangan, mengajak mereka yang sebagian besar berhenti di depan beberapa kelas-kelas yang memang dipenuhi tanaman. Mungkin keinginan untuk cepat mendapatkan jenis tanaman yang ditugaskan membuat mereka lupa sehingga berhenti di mana saja. Padahal ini akan mengganggu konsentrasi siswa lain yang sedang belajar di dalam kelas.

Begitulah.., belajar tak berbatas ruang memang mengasyikkan bagi siswa. Namun butuh energi ekstra untuk berulang kali mengingatkan mereka pada tujuan awal.
“Aduuh.., nak. Kenapa dibuat seperti itu?” Tanyaku pada beberapa siswa yang mengerjakan tugas tak sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan di dalam kelas sebelumnya. “Ayooo.., tadi apa yang Ibu bilang di dalam kelas. Coba diingat?” Penulis berusaha menggiring ingatan mereka pada apa yang sudah dijelaskan. “Oh...iya.., Bu.” Sebagian menjawab dengan cengengesan. Ada pula yang nyeletuk, “Tuu kaan...tak percaya klen. Tadi pun kubilang bukan kayak gitu.” Mencoba meyakinkan temannya dengan apa yang sudah disampaikan.
Apakah itu bagian dari kreativitas yang berkembang karena belajar tak berbatas ruang? Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Sejatinya lebih baik belajar walaupun salah karena selanjutnya kita akan mengetahui mana yang benar.

#edisibelajardarilingkungan#
#belajartakberbatasruang#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 10 Februari 22023



Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan