Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Rasanya Aku Ingin Mati di Sini Saja
Suasana di dalam masjid Baitul Aziz sesaat sebelum pelaksanaan sholat jenazah.

Rasanya Aku Ingin Mati di Sini Saja

“Kita berhenti di sebelah mana, Bu?” Tanya driver ojol yang sebelum menjawab aku mengitari pandangan di lokasi yang kami tuju. “Di sebelah situ saja, Bang,” jawabku setelah memastikan bahwa kami telah tiba di alamat yang sesuai. Yayasan Perguruan Baitul Aziz Jalan Pusaka Pasar X Tembung, aku membaca ulang alamat di dalam gawaiku. Betul, tepat di sebelah gedung perguruan tersebut kulihat gang kecil dan di mulut gang terpasang bendera STM (Serikat Tolong Menolong) pertanda kemalangan.

Susana duka terasa kental. Tak ada suara. Kulihat ada banyak siswa berseragam pramuka yang duduk di dalam ruangan dan kupastikan mereka bersama dengan beberapa guru. Setelah mengucapkan salam, kujabat tangan beberapa di antara mereka.

Dari bincang sekilas, aku tahu jika jenazah sedang dimandikan di masjid yang tak jauh dari rumah duka. Kulihat arloji di tangan kiriku, masih menunjukkan pukul 10.15 WIB. Kabar yang kami terima jenazah abang dari rekan kerja kami ini akan dimakamkan pada pukul 11.00 WIB.

Bergegas kami melangkah menuju ke masjid. Terlihat beberapa orang ada di ruang utama masjid. Namun, semakin lama orang yang datang ke masjid semakin banyak dan terus bertambah. Terdengar pula pemberitahuan bahwa sembari menunggu kedatangan yang lain, akan disampaikan tausiah oleh pemuka agama.

Ini pemandangan tak biasa. Kusaksikan sendiri begitu antusiasnya masyarakat melaksanakan fardhu kifayah sholat jenazah ini. Masya Allah tabarakallah, semakin bertambah kekagumanku karena yang ikut sholat saat itu terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yaitu anak-anak dan remaja ( yang jarang terjadi kecuali jika bertepatan dengan sholat Jum'at) dan orang-orang tua tentunya. Bahkan para ibu muda pun banyak yang membawa ikut serta anak balitanya.

Jujur, pemandangan seperti ini langka terjadi. Beberapa saat menjelang pukul 11.00 WIB, masjid pun menjadi penuh. “Kayak sholat Ied,” bisikku pada teman di sisi kananku. “Yaa...Allah...yaa...Robb, semoga ini pertanda husnul khotimah.”

Selesai sholat, ku dapatkan informasi bahwa hal ini sudah menjadi tradisi masyarakat setempat untuk bersama-sama melaksanakan sholat jenazah tiap kali ada warga yang berpulang ke rahmatullah. Masya Allah, tradisi yang sangat indah. Memberikan hadiah paling berharga bagi jenazah. “Ya Allah, rasanya ingin mati di sini saja.” Kekagumanku berkelana membawa halusinasi.

Astaghfirullah.., segera kuperbaiki kata hatiku. Yaa...Robb, entah kapan pun itu, aku berharap bisa mendapatkan hadiah terindah seperti ini. Semoga pula tak hanya di tempat ini, di mana pun berada kiranya semua orang akan dengan mudah melangkahkan kakinya untuk turut serta dalam fardhu kifayah ke-3 ini. “Apalagi Allah janjikan mendapatkan pahala sebesar satu qirath. Satu qirath diartikan setara dengan besarnya gunung Uhud.” Suara ustadz di depan sana jelas menggema memenuhi ruangan masjid.

#edisikuatkanhati#

#husnulkhotimah#

#hadiahindahbagijenazah#

Selalu Ada Asa Terindah, Perisai Pribumi 8 Juni 2023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post