Puasa Tasu'a dan Asyura dalam Rangka Menggapai Mardhatillah
Sangat berbeda dengan zaman dahulu, di zaman teknologi canggih ini informasi sangat mudah didapatkan. Semua hal dari berbagai lini kehidupan dapat diperoleh dengan mudah. Seperti halnya informasi mengenai puasa Tasu’a dan Asyura yang segera tiba. Informasi mengenai puasa sunah ini pun memenuhi atmosfer dunia maya. Bagi yang ingin melaksanakan puasa sunah ini tentunya hal ini akan sangat membantu.
Tiap kali ada pelaksanaan puasa sunah, memori penulis menerawang ke masa kanak-kanak. Betapa bapak dan emak selalu mencontohkan pelaksanaan berbagai puasa sunah setiap tahunnya. Bahkan seingatku puasa sunah yang dilakukan oleh emak sangat banyak jumlahnya. Dari mulai puasa Senin Kamis yang beliau lazimkan hingga puasa-puasa ayyamul bidh, puasa di bulan Rajab, Nisfu Sya’ban, puasa Arafah ataupun puasa di bulan mulia Muharam. Apalagi puasa di bulan Muharam adalah puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, sebagaimana hadis Rasulullah SAW :
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163).
Dalam penilaianku puasa-puasa yang dilakukan oleh almarhumah orang tuaku tampak begitu ringan dilakukan. Mungkin inilah bagian dari peribahasa yang berbunyi alah bisa karena biasa. Kebiasaan bapak dan emak berpuasa sunah membuat puasa-puasa ini tidak memberatkan mereka. Semoga semua ini menjadi catatan amal baik bapak dan emak yang kelak memberatkan timbangan amal sholeh saat dihisab. Tulisan sederhana ini pun penulis persembahkan kepada keduanya. Sebagai wujud apa yang mereka ajarkan menjadi amal jariah yang pahalanya terus saja mengalir. Aamiin yaa Robbal alaamiin.
Memasuki tanggal 9 Muharam 1445 H di mana puasa Tasu’a dilaksanakan dan keesokan harinya tanggal 10 Muharam disunahkan pula melakukan puasa Asyura. Pelaksanaan kedua puasa ini tidak terlepas dari sejarah hijrahnya Rasulullah SAW. Di dalam sebuah hadis dijelaskan tentang sejarah puasa Asyura sebagai berikut :
"Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, beliau berkata: ‘Rasulullah SAW hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang Yahudi berpuasa Asyura. Mereka ditanya tentang puasanya tersebut, lalu menjawab: ‘Hari ini adalah hari dimana Allah SWT memberikan kemenangan kepada Nabi Musa Alaihissalam dan Bani Israil atas Fir’aun. Maka kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa. Kemudian Nabi SAW bersabda: ‘Kami (umat Islam) lebih utama mempuasakan Nabi Musa dibanding dengan kalian’. Lalu Nabi SAW memerintahkan umat Islam untuk berpuasa di hari Asyura." (HR Muslim).
Adapun keutamaan puasa Asyura yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharam sangatlah besar, yaitu dihapuskannya dosa-dosa setahun yang lalu. Hal ini dijelaskan di dalam hadis berikut ini :
Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, "Nabi SAW ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, "Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura. Beliau menjawab, "Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim no. 1162).
Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa puasa Tasu’a merupakan keinginan Rasulullah yang belum sempat dilaksanakan. Keinginan ini didasarkan agar berbeda dengan puasanya orang Yahudi dan Nasrani.
Sejarah puasa Tasu’a ini berdasarkan pada hadis berikut:
“Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW berpuasa Asyura (10 Muharram). Para sahabat memberi tahu, ‘Ya Rasul, itu adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Kalau ada kesempatan pada tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa Tasua (9 Muharram).’ Ibnu Abbas berkata, ‘Belum datang tahun depan, tetapi Rasulullah sudah terlebih dulu wafat,’ (HR Muslim).
Puasa Tasu’a dianjurkan sebagai perbedaan dengan kebiasaan puasa orang Yahudi. Anjuran ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang menyatakan, "Berpuasalah pada hari Asyura (10 Muharram) dan bedakan diri dengan orang-orang Yahudi. Berpuasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya." (HR Bukhari).
Berikut ini dituliskan niat puasa Tasu’a dan Asyura. Semoga pelaksanaan puasa sunah ini adalah salah satu bentuk upaya menggapai mardhatillah.
Niat Puasa Tasua نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ يَوْمِ تَسُوْعَاءٍ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى. Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin min yaumi tasuu-'aa-in sunnatan lillahi ta'aalaa. Artinya: "Saya niat berpuasa sunnah hari Tasua esok hari karena Allah Ta'ala." Niat Puasa Asyura نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ يَوْمِ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى. Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin min yaumi 'aasyuuraa-a sunnatan lillahi ta'aalaa. Artinya: "Saya niat berpuasa sunnah hari Asyura esok hari karena Allah Ta'ala."
Wallahu a’lam bisshawab
#edisipuasatasuadanasyura#
#menggapaimardhatillah#
#amaljariahbapakdanemak#
Baiti Jannati, 8 Muharam 1445H/ 26 Juli 2023
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
