Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Senjata Makan Tuan
Sumber : Kompasiana.com

Senjata Makan Tuan

Alhamdulillah, setelah melalui perjalanan lebih kurang 4 jam akhirnya kami tiba di kampung halaman. Perjalanan ini dalam rangka mengantarkan emak kembali ke kampung setelah beliau selama tiga hari berada di rumah kami di Kota Medan untuk menyaksikan wisuda ponakan di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Namun perjalanan ini menyisakan ibrah yang bagi penulis bagaikan senjata makan tuan. Alamak..., segitunya. Iya, dalam menggiatkan gerakan literasi di sekolah, penulis sering kali menggunakan kalimat “Jika literat maka tak akan sesat” sebagai senjata andalan. Dengan ilustrasi-ilustrasi yang mudah diterima siswa, misalnya ketika kita melakukan perjalanan ke suatu tempat meski kita belum pernah ke tempat tersebut dan hanya seorang diri, kita tidak perlu khawatir akan tersesat jika kita adalah orang yang literat. Mengapa demikian, karena dengan membaca petunjuk yang ada di sekitar kita maka kita akan sampai pada tujuan yang diinginkan.

Sesungging senyum malu-malu kucing terlukis di sudut bibir. Bagaimana tidak? Itu tadi, penulis baru saja mengalami apa yang dikatakan senjata makan tuan. Ketika perjalanan menuju ke kampung halaman sudah mencapai sepertiga perjalanan, emak mengatakan bahwa beliau ingin buang air kecil. Kami segera mengamati situasi di daerah yang sedang kami lalui dan mengingat-ingat adanya masjid ataupun SPBU di mana biasanya bisa menunaikan hajat eksresi tersebut.

“Sabar ya..., Mak. Lima menit lagi kita akan sampai pada sebuah masjid,” ucap suami. Benar saja tidak berapa lama kami menemukan sebuah masjid. Mobil segera memasuki area pekarangan masjid. Dari balik kaca jendela mobil berjarak sekitar 50 meter terlihat tulisan yang dapat kubaca dengan jelas “WANITA”. Bergegas kubimbing emak menuju ke sana. “Hati-hati Mak, kita naik tangga sedikit.” Kulihat ada tiga anak tangga yang harus kami lalui.

“Di mana toiletnya,” terdengar nada suara emak mulai tidak sabar karena toilet yang dimaksud belum juga terlihat setelah kami melewati tiga anak tangga tersebut. Aku menoleh kanan dan kiri memperhatikan keadaan sekeliling, tak kutemukan petunjuk di mana toilet berada. Akhirnya kuputuskan untuk bertanya pada dua orang ibu yang baru saja menyelesaikan sholat.

“Ibu, numpang tanya. Toiletnya di mana ya...Bu?” Tanyaku mulai khawatir mengingat kondisi emak. “Di bawah, Bu.” Jawab mereka hampir serempak. “Haa..., di bawah? Turun ke bawah lagi, Bu?” Aku mengulangi pertanyaan untuk memastikan. “Iya,” mereka menjawab dengan pasti. “Terima kasih, Bu.” Segera kuhampiri emak dan membimbingnya hati-hati menuruni anak tangga kembali dan menemukan toilet yang gelap. Syukurnya, meski dengan intensitas cahaya yang lemah aku masih bisa menemukan keran air dan menghidupkannya.

Setelah selesai semuanya, hatiku yang dihinggapi rasa jengkel dipenuhi pula dengan rasa heran. “Aneh sekali masjid ini. Letak toiletnya bikin sport jantung, kayak ninja hatori aja naik turun tangga,” gerutuku. Setelah tiba kembali di parkiran dan emak sudah duduk di posisinya semula di dalam mobil. Masih dipenuhi keheranan aku mengitari pandangan ke seluruh bagian masjid. “Owalaa.., ternyata aku yang tidak literat.” Pekikku di dalam hati. Ternyata, yang kulihat tadi adalah tulisan “Tangga masuk WANITA” sementara tak jauh dari pintu masuk utama masjid di sisi kiri ada tulisan “Toilet Wanita”. Toilet yang kudatangi bersama emak adalah toilet lama yang sudah tidak dipergunakan lagi.

Begitulah, jika tidak literat maka akan sesat. “Senjata makan tuan,” gumamku. “Anak-anak, jika kita literat dan selalu mengamati lingkungan di mana kita berada, kita tidak akan sesat.” Terngiang kembali kalimat yang kerap kuucapkan untuk membangkitkan gairah literasi di dalam diri peserta didik. Tapi kenyataannya hari ini aku tidak menerapkan kalimat senjata pamungkas literasi tersebut dengan baik sehingga aku tersesat membawa emak ke toilet masjid. Benar-benar senjata makan tuan.

Kedua ibu tempatku bertanya tadi, seakan bisa membaca suasana hatiku dan menghampiri. “Tak mengapa, Bu. Namanya manusia pasti ada khilaf dan salahnya.” Ucapannya seakan menghibur hatiku yang merasa tidak literat. Terima kasih ibu yang baik. Semoga ke depannya aku akan selalu literat.

#literattakakansesat#

#edisikuatkahhati52#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

Kabupaten Simalungun, Desa Bahung Kahean, 21 November 2023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post