Songket Pengantin untuk Boru Hasian
Bel tanda istirahat berbunyi. Kegiatan belajar mengajar pun dihentikan. Sebagian besar siswa bergegas ke kantin, namun ada juga yang tetap di kelas menikmati bekal yang dibawakan oleh ibunda. Sangat beruntung siswa-siswa yang membawa bekal masakan ibunda. Tentulah ia tak perlu menghabiskan waktu antrean di kantin demi mengisi kampung tengah (baca: lambung) guna mendapatkan energi untuk melanjutkan aktivitas belajar. Tak jarang, bel pun berbunyi padahal belum sempat menikmati makanan yang dibeli.
Penulis mengayunkan langkah menuju ruang kantor guru. Saat memasuki ruangan, ada pemandangan unik yang bagi penulis sangat menarik. Baru terasa, ternyata kebiasaan menulis membuat kita kerap peka “membaca lingkungan”. Di salah satu sudut ruangan, terlihat seorang guru yang tengah asyik menjahit. Semakin mendekat ke arahnya, penulis melihat jelas dua lembar selendang songket bersama aneka payet dan perlengkapan menjahit. “Syantiiiiqqq sekaliii, “ tegurku mengganggu ketekunan Bu Berlian Hutabarat yang tengah asyik memasang payet pada selendang songket tersebut.

Ternyata, songket itu untuk si boru (panggilan untuk anak perempuan Batak) Irene Cynthia Clara Panjaitan yang dalam waktu dekat akan menikah. Kebetulan Irene alumni SMA Negeri 14 Medan sehingga penulis pun tak asing dengannya. Sebagai sesama ibu, ada rasa yang menyelinap ke dalam hati penulis. Sangat kental terasa aura kasih sayang yang tak ternilai dari adegan yang dipertontonkan ketua MGMP Biologi ini. Merajut kasih sayang melalui untaian payet pada selendang songket untuk borunya. Di tengah aktivitas mengajar, sang ibu masih menyempatkan diri menjahit songket yang akan dikenakan borunya pada hari yang sangat berbahagia dan bersejarah seumur hidupnya.
Bagi seorang ibu, tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat anak-anaknya berbahagia. Apa yang dilakukan Bu Berlian Hutabarat untuk borunya merupakan wujud rasa syukur dan kasih sayang yang tiada habisnya. Sejak mengandung, melahirkan dan membesarkan dipenuhi rasa kasih sayang di setiap langkah. Tak bisa dipungkiri bahwa kasih sayang seorang ibu adalah pancaran cahaya yang tak kan pernah redup hingga akhir kehidupan. Cinta seorang ibu adalah cinta sebenar-benarnya cinta.

Tak hanya untuk Bu Berlian Hutabarat, tulisan ini dipersembahkan untuk semua ibu. Peluk erat untuk semua ibu dengan ketangguhan dan kesabarannya. Semoga kita bisa meningkatkan rasa syukur kita sehingga menjadi ibu yang kuat yang siap menghadapi rintangan dan menjadi panutan terbaik bagi buah hati belahan jiwa.
#berlianhutabaratmamihebat#
#selamatboruirenecynthiaclarapanjaitan#
#edisikuatkanhati35#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 4 November 2023


Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan