Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Tiwul Kuliner Tradisional Sarat Sejarah
Tiwul legit pemberian Ainur Riza yang membangkitkan sejarah.

Tiwul Kuliner Tradisional Sarat Sejarah

Saat sedang asyik menonton guru-guru syantiq yang berlatih menari untuk persiapan peringatan Hari Guru Nasional 2023 sambil menikmati bekal yang dibawa dari rumah (masak sendiri, makan sendiri) hihihi, penulis dihampiri Ainur Riza, S.Pd bu guru cantik pengampu mata pelajaran Sosiologi. Apa hal? “Ini, tiwul.., uthi,” ucapnya sambil menyodorkan bungkusan daun pisang bersemat pincuk lidi. “Terima kasih, Riza. Uthi suka banget,” jawabku riang.

Penulis memang fans berat kuliner tradisional, terutama yang berbungkus daun pisang. Jajanan lokal memang selalu menawarkan sensasi rasa yang berbeda dan aesthetic, tiwul salah satunya. Merujuk pada **(censored)** , dijelaskan bahwa makanan tradisional yang berasal dari daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI.Yogyakarta ini, adalah penganan yang dibuat dari tepung gaplek, diberi gula sedikit, kemudian dikukus, dapat dimakan bersama kelapa parut yang telah diberi garam sedikit.

Tiwul ( baca : thiwul) merupakan makanan pokok pengganti beras terutama pada saat musim paceklik masyarakat di daerah Ponorogo, Trenggalek, Wonosobo, Wonogiri, Gunung Kidul, Pacitan dan Blitar. Meski kandungan kalorinya lebih rendah daripada beras, namun pada masa-masa sulit seperti paceklik dan zaman penjajahan dulu, tiwul cukup memenuhi sebagai bahan makanan pengganti beras. Tiwul dipercaya dapat mencegah penyakit maag dan yang pasti mencegah perut keroncongan. Hehehe.

Di masa penjajahan Jepang, tiwul sempat dibuat menjadi tiwul instan sebagai alternatif pengganti nasi karena sulitnya mendapatkan beras pada saat itu. Sekarang keberadaan tiwul sudah meluas secara nasional termasuk di kota kami, Medan. Tiwul diolah sebagai jajanan tradisional yang legit dan memanjakan lidah. Seiring dengan perkembangan zaman, makanan tradisional yang berbahan baku gaplek ini sering juga dimodifikasi menjadi makanan dengan nilai tambah sendiri yaitu dengan menambahkan bahan toping seperti santan kelapa, gula aren, coklat, nangka bahkan keju.

Hitung-hitung mengenang masa-masa sulit ketika belum merdeka. Makan tiwul sambil mengenang sejarah. Agar senantiasa bersyukur dan tak lupa diri.

(Terima kasih untuk tiwulnya, Riza.)

#kulinertradisional#

#lestarikanbudayamengenangsejarah#

#edisikuatkanhati54#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 23 November 2023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post