Kimkit si Jeruk Unik yang Bisa Dimakan Bersama Kulitnya
Di tanganku terdapat dua buah berwarna kuning seukuran kelereng lebih besar sedikit, pemberian Halimahtussakdiah Nasution, S.Pd., guru mata pelajaran Geografi. Saat itu di ruang kantor guru telah sepi karena semua guru sedang mengawas ujian akhir semester. “Buah apa ini?” Tanyaku sambil mengamati buah mungil berwarna kuning yang mirip dengan jeruk kesturi . “Buah langka,” jawabnya sambil ketawa. “Namanya apa? Memang langka ya?” Tanyaku lagi semakin penasaran. Yang ditanya malah buka contekan setelah itu baru bisa menjawab, “Kimkit namanya, Kak.” Sahutnya lagi sambil menunjukkan sebuah catatan dari siswa.
Ternyata buah tersebut dibawa oleh seorang siswa untuk memenuhi tugas mata pelajaran Geografi dalam materi “PERSEBARAN JENIS-JENIS FLORA DAN FAUNA DI INDONESIA DAN DUNIA”, dengan sub bab “BUAH LANGKA”.
Sambil terus memperhatikan buah mungil yang memang belum pernah kulihat sebelumnya, Aku mencoba menebak rasanya sambil membayangkan jeruk kesturi yang asam. “Rasanya manis kali, Kak.” Halimah menjelaskan. Saat itu pikiranku pun sedang menimbang bahwa ternyata materi pelajaran Geografi hampir sama dengan Biologi yang juga membahas tentang Keanekaragaman Hayati Indonesia dan Dunia. Jiwa Biologi untuk mengetahui lebih banyak mengenai Kimkit ini pun meronta. Hehehe.
Berselancar di dunia maya untuk mengetahui segala sesuatu tentangnya pun segera dimulai. Hanya dengan mengetikkan kata “kimkit” berbagai informasi pun disuguhkan oleh mbah Google. Sungguh, kemajuan teknologi sangat membantu dalam proses pencarian informasi. Sejatinya, sangat mudah bagi generasi Z untuk mempelajari segala sesuatu.
Hasil penelusuran di dunia maya menunjukkan bahwa buah ini memiliki banyak nama lokal yaitu Jeruk kingkit dikenal juga sebagai kimkiat, kingkit, limau kiah, limau kunci (bahasa Melayu), kalijage, kingkip (bahasa Sunda), jeruk kingkit (bahasa Jawa), jeruk rante (bahasa Madura), lemo-lemo (bahasa Makassar), lemo-lemo (di Ternate), serta joji koyo (di Tidore) dan limeberry.
Tumbuh-tumbuhan bisa saja memiliki nama lokal yang berbeda, namun nama ilmiah haruslah sama. Kimkit yang memiliki nama ilmiah Triphasia trifolia ini, diperkirakan berasal dari Malaysia yang kemudian tersebar hingga ke pulau-pulau di Samudera Pasifik. Kimkit sangat subur tumbuh di China sehingga sering disebut jeruk China.
Kimkit masih satu kerabat dengan jeruk yaitu genus Citrus. Berikut ini klasifikasi dari kimkit :

Kimkit ini termasuk sebagai buah langka bersama-sama dengan Jamblang, Sirsak Ratu, Kecapi, Jambu Mawar, Belimbing Dewi, Buah Buni, dan lain-lain. Jeruk kimkit dapat tumbuh subur di negara subtropis maupun tropis. “Betul, memang termasuk buah langka.” Ujarku setelah membaca referensi.
Sepintas memang kimkit ini sangat mirip dengan jeruk kesturi, namun kulitnya lebih mulus dan tak terlalu berpori. Uniknya, kulit jeruk kimkit ini bisa dimakan. Rasa buahnya cenderung manis tidak terlalu asam seperti kebanyakan jeruk. Berbeda dengan jeruk lain adalah kulit jeruk kimkit ini juga tak pahit, dan tidak getir. Sehingga memang rasa manis dan renyah kulitnya langsung menyatu begitu saja di mulut. Tapi, jeruk ini tak terlalu berair.
Tak hanya dimakan begitu saja, jeruk kimkit juga sudah digunakan sejak lama sebagai obat alami. Buah ini kaya akan antioksidan dan vitamin. Mengutip jurnal PLOS One 2014, kulit jeruk mengandung flavonoid yang bermanfaat untuk mengobati obesitas, hiperglikemia, dan hiperlipidemia. Sementara, selayaknya jeruk, buah ini juga kaya akan vitamin C yang bermanfaat untuk menjaga daya tahan tubuh guna melawan berbagai serangan penyakit menular.
Yuk, kita lestarikan kimkit. Selain unik namun ternyata memiliki banyak manfaat.
#buahlangkaindonesia#
#unikdanbermanfaat#
#edisikuatkanhati69#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 8 Desember 2023
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
