Literasi Budaya Ala Mbah Sonto
Sambil menikmati kuliner kampung halaman berbahan sayuran yang dipetik di sekitar rumah yang dikreasikan dengan menu andalan Sambal Teri Joss, cerita pengalaman masa kecil dari salah satu adik ipar sangat menarik. Diawali dari ikan teri yang kami sambal. “Sekarang terinya kok jarang dapat yang bagus. Dulu saat Mbah Sonto yang berjualan, ikan terinya bagus-bagus.” Adik Ipar memulai ceritanya sambil mengenang Mbah Sonto yang membuka usaha “Kede Sampah”. Kedai atau warung yang menjual sembako, sayuran, cabai, bawang dan bahan-bahan dapur sehari-hari, di tempat kami disebut Kede Sampah.
Penulis sangat tertarik dengan cerita ini. Bagi penulis, tanpa disadari ada gerakan literasi budaya dalam kisah yang diceritakan ulang oleh adik ipar. “Jangan harap dilayani jika kita membeli dengan menggunakan bahasa Indonesia.” Terdengar adik ipar bersemangat dengan ceritanya. Mbah Sonto tak kan melayani anak-anak yang disuruh orang tuanya ke kede jika tidak berbahasa Jawa halus. “Yang lucunya, aku sering lupa apa bahasa Jawa halusnya benda yang akan dibeli. Terpaksa harus balik lagi ke rumah menanyakan ke emak nama benda tersebut dalam bahasa Jawa halus.” Kenang adik ipar sambil tertawa riang mengingat dirinya yang berulang ke kede karena lupa bahasa Jawa halus benda yang harus dibelinya.
Mbah Sonto tak peduli dagangannya tidak laku. Pokoknya, jika berbelanja di kede-nya harus berbahasa Jawa halus. Sehingga anak-anak di masa itu (tahun 70-an) di kampung kami terpaksa harus belajar menyebutkan benda-benda yang akan dibeli dalam bahasa Jawa halus. “Mbah, tumbas gendhis.” Masih cerita adik ipar, sambil berjalan dari rumah menuju ke kede dia menghafal kalimat untuk membeli gula. . Lhaa...setelah sampai di kede lupa. Belum lagi kena semprot mbah Sonto, makin nervous jadinya. Lariii.., balik lagi ke rumah, nanya emak lagi. Hihihi. Satu lagi, hal ini juga menjadi pembeda anak-anak jadul dengan anak zaman now. Apakah anak zaman now masih mau balik lagi ke kede jika terjadi demikian. Mudah-mudahan mau ya.
Begitu repotnya menghafal kata-kata dalam bahasa Jawa halus mengingat kampung kami bukan terletak di pulau Jawa tetapi di Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Menurut emak, dulunya kakek buyut kami merantau dari Jawa membuka hutan menjadi pemukiman dan sawah ladang di kampung ini yang penduduk aslinya adalah suku Batak Simalungun. Maka dapat dimaklumi jika anak-anak bahasanya pun sudah berbaur. Namanya pun PuJaKeSuMa ( Putera Jawa Kelahiran Sumatera) sehingga bahasa Jawa-nya pun tak lagi murni.
Sambil menikmati cerita masa kecil adik ipar, meski diiringi derai tawa kami sekeluarga, Aku menangkap maksud serius dari Mbah Sonto untuk melestarikan kebudayaan yang dibawanya merantau dari Jawa ke Sumatera. Aku yakin Mbah Sonto tak ingin bahasa ibunya tergerus oleh waktu dari generasi ke generasi. Tak peduli dengan dagangannya. Yang paling penting bagi Mbah Sonto, orang-orang bisa berkomunikasi dengan bahasa leluhurnya.
Almarhum Mbah Sonto tanpa sadar telah menginspirasi gerakan literasi. Sederhana yang beliau lakukan namun sarat makna. Ternyata, tak perlu tunggu hebat untuk mewujudkan apa yang diinginkan. Hanya butuh memulainya untuk menjadi hebat dan meraih apa yang diinginkan.
#gerakanliterasibudaya#
#lestarikanbudayabangsa#
#edisikuatkanhati88#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Kabupaten Simalungun, Desa Bahung Kahean, 27 Desember 2023
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
