Pro dan Kontra Hilangnya Rangking di Rapor
Menjadi pendidik selama 31 tahun sejak 1992 hingga sekarang membuat saya menjadi guru lintas kurikulum karena melewati beberapa kurikulum yang berubah. Ada beberapa kurikulum yang saya lakoni, dari mulai Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Tahun 2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, Kurikulum 2013 (K-13) hingga saat ini Kurikulum Merdeka.
Setiap kurikulum memiliki ciri khas dan program unggulan yang berbeda. Termasuk pula bentuk buku laporan hasil penilaian (rapor) yang memiliki perbedaan pada setiap kurikulum. Buku rapor sebagai laporan hasil belajar siswa di setiap semester menjadi hal yang sentral baik bagi siswa maupun orang tua. Ada satu hal yang tak pernah lupa ditanyakan oleh siswa dan orang tua pada saat pengambilan rapor : “Anak saya rangking berapa, Bu?” Namun, sejak berlakunya Kurikulum 2013 sistem rangking di rapor dihapuskan. Di dalam rapor tidak ada lagi ruang yang memuat keterangan rangking siswa.
Situasi ini sungguh kontradiktif dengan apa yang diinginkan siswa dan orang tuanya. Kita ulas apa alasan hilangnya sistem rangking di dalam rapor pada kurikulum K-13 dan Kurikulum Merdeka sekarang ini. Menurut Permendikbud No.23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan bahwa penilaian hasil belajar memuat 3 aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor yang menjadi dasar laporan penilaian guru terhadap hasil belajar siswa. Dalam kenyataannya perolehan nilai siswa untuk hasil belajarnya dalam ketiga aspek tersebut berbeda-beda. Artinya, ada yang memperoleh nilai tinggi dan ada pula yang rendah.
Kontradiktifnya, rapor tidak memuat urutan rangking dari prestasi siswa. Hal positif yang ingin disampaikan dengan menghilangkan sistem rangking ini adalah bahwa setiap siswa istimewa yang dilahirkan dengan potensi kecerdasannya masing-masing. Dengan dihilangkannya rangking, siswa akan merasa menjadi bagian dari komunitas kelas yang setara dan sederajat tanpa peringkat di dalam kelas. Dihilangkannya urutan rangking di dalam rapor dapat menghilangkan rasa rendah diri bagi siswa yang berada di urutan rendah.
Hal demikian sah-sah saja dari satu sisi. Namun menutup mata dengan sistem rangking juga tidak seluruhnya bisa diterima sementara di sisi yang lain semua institusi pendidikan tetap meminta peringkat. Contoh nyatanya adalah dalam penentuan siswa eligible dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Ini menunjukkan bahwa sistem rangking tidak bisa dihindari.
Artinya, adanya sistem rangking bukan sesuatu yang buruk dan harus dihilangkan. Dari sisi yang berbeda, adanya rangking akan justru membuat siswa dapat dengan mudah mengetahui kemampuannya sehingga menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kekurangan di dalam proses belajarnya. Bagi orang tua dan guru adanya sistem rangking ini juga berguna untuk mengetahui apakah pembelajaran di dalam kelas dapat diterima dengan baik oleh siswa.
Meniadakan rangking juga membuat keinginan belajar siswa menjadi rendah karena tidak adanya apresiasi terhadap prestasi yang dicapainya karena semua sama saja. Tidak ada rangking satu, dua, tiga, dan seterusnya.
Bapak dan ibu termasuk yang pro atau kontra, kita ambil nilai positifnya saja. Namun hal yang kita hadapi sekarang adalah untuk masuk ke jenjang SMP dan SMA melalui jalur prestasi menggunakan sistem rangking. Begitu pun untuk masuk perguruan tinggi negeri. Satu lagi, siswa dan orang tua tetap bertanya : “Rangking berapa (anak) saya?”
#pentingnyaapresiasihasilbelajar#
#kurikulummerdeka#
#edisikuatkanhati83#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 22 Desember 2023
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
