Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Utang Ibu Kepada Anak
Sumber : Liputan 6.com

Utang Ibu Kepada Anak

Tulisan ini hadir dalam momen yang sangat istimewa dan penuh makna yaitu Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember. Bukan sekadar merayakan kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu, namun lebih kepada menghormati peran dan kontribusi seorang ibu dalam membangun keluarga bahagia sebagai cikal bakal mewujudkan tatanan masyarakat sejahtera.

Ada banyak puisi indah yang dituliskan untuk seorang ibu. Salah satunya adalah puisi mahakarya sang Maestro Kahlil Gibran penyair kelahiran Lebanon dan produktif di Amerika (1883 – 1931). Penulis sangat mengagumi karya-karya beliau. Memperingati Hari Ibu dengan membaca puisi-puisi indahnya, menghadirkan kesan tersendiri di dalam hati. Ada banyak mutiara hikmah yang bisa dipetik darinya.

Berikut penggalan puisi indah berjudul IBU karya Kahlil Gibran :

IBU

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia.

Dan "Ibuku" merupakan sebutan terindah.

Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.

Ibu adalah segalanya.

Ibu adalah penegas kita di kala lara,

Impian kita dalam rengsa,

Rujukan kita di masa nista.

Ibu adalah mata cairan cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.

Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.

...

Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.

Penuh cinta dan kedamaian.

Menjadi seorang ibu adalah anugerah. Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Dari sosok ibu seorang anak belajar banyak hal. Maka seorang ibu dituntut untuk pintar dan bijaksana. Sebelum seorang anak memasuki pendidikan formal, ibunyalah yang menjadi guru pertama dalam mendidiknya. Bagaimana seorang ibu mendidik anaknya di rumah akan berpengaruh pada kecerdasan dan karakter anak.

Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember merupakan momen yang sangat istimewa dan penuh makna. Tanggal ini tidak hanya menjadi ajang untuk merayakan kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu, tetapi juga sebagai penghormatan atas peran dan kontribusinya dalam membangun keluarga dan masyarakat.

Sejarah Hari Ibu 22 Desember bermula dari Kongres Perempuan Indonesia III yang digelar di Bandung pada tahun 1938. Dari sana kemudian ditetapkan sebagai hari nasional melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959. Untuk itu memperingati Hari Ibu adalah momen di mana kita merayakan dengan penuh kehangatan akan kehadiran sosok ibu dengan penuh cinta dan apresiasi atas segala baktinya.

Tak ada yang sempurna. Begitu pun sosok ibu. Tulisan ini mencoba mengangkat keagungan seorang ibu yang dengan caranya berjuang bagi anak-anak dan keluarganya. Tak pelak dalam perjuangannya seorang ibu “terlilit utang” justru kepada anaknya.

Utang kepada anak yang dimaksud adalah beberapa kesalahan yang sering kali tak sadar dilakukan. Kesalahan yang dilakukan umumnya terjadi dalam membangun komunikasi dengan anak seperti pada saat memerintah, menyalahkan, meremehkan dan membandingkannya dengan anak lain. Membiarkan anak melakukan kesalahan, berperilaku buruk dan tidak jujur serta tidak memberikan apresiasi ketika anak berprestasi dan berperilaku baik termasuk catatan utang yang tanpa sadar dilakukan.

Catatan utang yang lain adalah terlalu banyak melarang anak, terlalu banyak menuntut, selalu membantu dan menuruti semua keinginannya. Apalagi sampai melakukan kekerasan fisik terhadap anak, ini adalah catatan terparah. Tidak adanya kekompakan antara ayah dan ibu dalam mendidik anak, dan selalu menilai buruk dan menjelek-jelekkan anak, adalah daftar utang yang sering terlupakan.

Belum lagi kesalahan besar lainnya yaitu lebih mementingkan pendidikan umum dan mengesampingkan pendidikan agama. Kebanyakan orang tua akan sangat khawatir jika prestasi anak buruk pada pelajaran umum seperti Matematika misalnya dari pada pelajaran Agama. Padahal dari hasil penelitian kesuksesan seseorang 80% ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan Spiritual (SQ) bukan kecerdasan intelektual (IQ).

Sejatinya, seorang ibu yang berpendidikan tinggi bukanlah seseorang yang ingin sukses dengan sendirinya melainkan bagaimana ia mempersiapkan anak-anaknya menuju masa depan yang cerah sebagai generasi unggul berkarakter dengan tidak meninggalkan catatan-catatan kesalahan sebagai utang kepada anaknya.

SELAMAT HARI IBU.

Semoga semua ibu sehat-sehat selalu dan senantiasa di dalam lindungan-NYA.

Aamiin.

#hariibu22desember2023#

#tetapsemangatibuibuhebat#

#wonderwoman#

#edisikuatkanhati82#

Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 21 Desember 2023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post