Guru Dalam Bingkai Adagium
Penyusunan Rencana Hasil Kerja (RHK) dan pengisian Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dengan bukti dukung yang harus diunggah di Platform Merdeka Mengajar (PMM), menuai banyak respon pro dan kontra. Termasuk yang pro atau kontra, semua berpulang pada dari sudut mana kita memandang.
Rasanya, belakang ini beban guru semakin bertambah saja. Namun jika kita merujuk pada visi pendidikan Indonesia yaitu untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global, memang begitulah tugas guru yang profesional. Dibutuhkan guru yang profesional untuk bisa mewujudkan visi pendidikan di atas.
Bagaimanakah guru yang profesional itu? Dari berbagai referensi yang penulis kumpulkan, seorang guru dikatakan profesional jika memiliki kemampuan untuk membuat perencanaan, kreatif dan inovatif, kritis serta dinamis. Seorang guru pasti memahami bahwa perencanaan yang konkret dan detail untuk melaksanakan pembelajaran adalah hal yang urgen. Sehingga guru dapat memanfaatkan waktu seoptimal mungkin dalam penyampaian materi pembelajarannya dan tidak asal-asalan. Dengan demikian dapat dilihat apakah tujuan tercapai atau tidak.
Adanya perencanaan yang matang, menuntut seorang guru harus memiliki administrasi yang lengkap untuk diimplementasikan di dalam proses pembelajaran. Perencanaan ini juga dapat digunakan sebagai dasar prestasi belajar siswa dan keberlanjutan proses pembelajaran.
Masalahnya, zaman terus berubah diiringi dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat. Hal ini membuat seorang guru harus adaptif terhadap situasi dan kondisi. “Didiklah anakmu sesuai zamannya. Karena ia hidup di zamannya bukan di zamanmu.” Kata-kata bijak dari Ali bin Abi Thalib ini, menuntut guru untuk bersifat dinamis yaitu harus berubah dan belajar terus menerus. Dengan kata lain, perubahan zaman juga akan membuat kurikulum berubah dan kurikulum adalah senjata guru dalam mengajar.
Dengan demikian untuk bisa menggunakan senjatanya dengan baik, maka guru harus mau dan berani berubah sesuai dengan visi pendidikan tersebut di atas. Peran siswa harus diubah dari penerima informasi, mencatat dan menghafal menjadi bertanya, menganalisa, sebagai penemu dan pembangun gagasan. Hal ini membuat fungsi guru sebagai motivator dan fasilitator membutuhkan kompetensi yang memadai. Guru menjadi indikator yang dapat memberi kontribusi terhadap optimalisasi peningkatan kualitas pendidikan. Sebuah adagium mengatakan : "Kualitas pendidikan tidak melebihi kualitas gurunya.” Adagium yang lain berbunyi : "Berani mengajar siap belajar". Bingkai adagium ini membuat guru harus dinamis mengikuti perubahan yang terjadi, menjadi sosok yang tangguh di tengah begitu banyak tugas dan tanggung jawabnya.
#edisikuatkanhati102#
#longlifeeducation#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 21 Januari 2024
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
