Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Literasi Jelang Pemilu
Sumber : Tribunnews.com

Literasi Jelang Pemilu

Tulisan ini berawal dari bincang-bincang ringan antara nenek dan cucu. Bukan rekayasa tapi nyata adanya. Meski hanya cerita receh, namun aku merasa ada pesan tersirat di dalamnya. Terkadang memang dari hal-hal ringan kita bisa dapatkan banyak hikmah yang terselip di dalamnya.

Dalam perjalanan pulang dari acara arisan keluarga, cucu pertamaku yang tanggal 21 Januari 2024 ini tepat berusia 10 tahun tiba-tiba menanyakan hal yang sedang hangat saat ini. “Uthi.., uthi dukung siapa?” Fahira bertanya padaku sambil bersandar santai di sampingku. “Maksudnya ini dukungan apa, mbak?” Jawabku sambil menoleh ke wajahnya yang imut. “Presiden lho...thi.” Iya mempertegas pertanyaannya.

Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaannya. Merasa heran karena anak seusia dia ternyata juga ikut larut dalam semarak kontestasi politik yang mulai meningkat suhunya, bikin gerah. Bisa jadi karena situasi dan kondisi lingkungan di sekitar kita yang memang ramai menyuguhkan kemeriahan pesta demokrasi.

Memenuhi permintaannya, aku pun menyebutkan nama salah satu pasangan calon presiden dan wakilnya. Tak disangka, ternyata jawabanku berbuntut panjang. “Sama, thi. Saya juga dukung yang itu.” Sahutnya lagi. “Oh..ya, kenapa mbak dukung bapak itu?” Aku pun jadi semakin heran dan penasaran ingin tahu apa alasannya menetapkan dukungan. Aku semakin tercengang mendengar bocil ini menjabarkan alasannya. “Dari mana mbak tahu?” Aku pun bertanya menyelidik. “Baca dan lihat di youtube.” Sahutnya.

Saat mendengarkan Fahira menjelaskan pilihannya inilah, aku berpikir bahwa literasi menjelang pemilu itu penting. Bocil seumur Fahira, dengan analisa sederhana yang dia punya ternyata bisa menentukan pilihan. Ia memiliki alasan dengan menyerap informasi dari apa yang dilihat dan dibacanya. Di sinilah aku memahami bahwa literasi yang kuat membuat seseorang dapat mengumpulkan informasi sehingga tidak akan sesat dalam menentukan pilihannya.

“Tapi.., mbak belum boleh ikut memilih presiden.” Ucapku setelah mendengarkan alasannya dalam menentukan dukungan. “Kenapa, thi?” Fahira balik bertanya penasaran. “Karena mbak belum cukup umurnya. Nanti...ya, kalau sudah 17 tahun baru boleh ikut memilih.” Kulihat bersit kecewa di wajahnya. Lhaa...kalau bocil seperti Fahira saja ingin menyuarakan pilihannya, kenapa kita yang sudah dewasa memilih golput. Aah...betul-betul tak literat.

#jikaliterattakakansesat#

#pestademokrasi#

#kontestasipolitik#

#edisikuatkanhati95#

Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 14 Januari 2024

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post