Narkolema
Kompilasi Amanat Pembina Upacara (14)
Narkolema
Oleh : Ade Syafrina, S.Pd.
(Terinspirasi dari para pembina upacara setiap hari Senin, penulis menggagas tulisan ini. Sambil berdiri di bawah cerahnya sang surya yang gagah mentransfer energi cahayanya, penulis berpikir untuk mengumpulkan setiap amanat yang disampaikan oleh pembina upacara. Setiap hari Senin, yang bertindak sebagai pembina upacara bergiliran dari wali kelas yang satu ke yang lain. Uniknya, setiap pembina tampil dengan mengusung tema yang berbeda. Hal ini yang menurut penulis sangat sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja. Mengabadikannya dalam sebuah tulisan menjadi catatan tersendiri bagi penulis untuk terus belajar dan belajar dari wejangan yang mereka sampaikan.)
Senin, 29 Januari 2024
Seperti biasanya setiap hari Senin, upacara bendera digelar di SMA Negeri 14 dengan pelaksana yang bergiliran dari kelas yang satu ke kelas yang lain. Saat satu kelas bertindak sebagai pelaksana upacara, wali kelas dari kelas yang bertugas sekaligus sebagai pembina upacara. Hanya pada momen-momen tertentu pembina upacara digantikan. Misalnya saat ada kunjungan pejabat tertentu atau di awal dan akhir semester di mana kepala sekolah ataupun wakil kepala sekolah langsung bertindak sebagai pembina upacara.
Seperti pada hari Senin 29 Jahuari 2024, yang bertugas sebagai pelaksana upacara adalah kelas X-5 dan menjadi pembina upacara adalah wakil kepala sekolah bidang sarana prasana, Ade Syafrina, S.Pd.
Dalam kesempatan penyampaian amanat pembina upacara, Ade Syafrina, S.Pd. mengangkat tema NARKOLEMA. Amanat diawali dengan memberikan apresiasi kepada petugas upacara yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Tentunya apresiasi ini sebagai motivasi untuk dapat lebih baik lagi.
“Narkolema adalah Narkoba Lewat Mata.” Pembina upacara membuka amanatnya dengan menjelaskan tema yang sudah disebutkan beliau di awal penyampaian. Beberapa saat suasana seperti lebah berdengung. Mungkin karena istilah ini baru didengar namun pada kenyataan sedang mewabah.
“Narkolema atau narkoba lewat mata ini adalah bentuk perilaku kecanduan akibat menonton pornografi yang daya rusaknya sama bahkan lebih parah dari narkoba. Mengapa?” Sejenak pembina upacara beretorika untuk menegaskan apa yang disampaikannya. “Jawabannya, karena pornografi dapat dengan mudah diakses oleh semua orang melalui gadgetnya jika dibandingkan dengan narkoba yang tentunya lebih sulit untuk mendapatkannya. Tak butuh orang lain, narkolema dapat dengan mudah diperoleh seseorang.” Wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana ini menyampaikan kemudahan-kemudahan seseorang untuk mengakses situs pornografi di bandingkan dengan narkoba.
Untuk meyakinkan penjelasannya, pembina upacara menyuguhkan data-data dari Departemen Kesehatan : “Dari sebuah survei diperoleh data bahwa setiap tahunnya ada 72 juta pengunjung website pornografi. Dalam setiap detiknya ada 28.000 pengguna internet melihat konten pornografi. Dua pertiga para penikmat pornografi di internet ini adalah laki-laki dan sisanya adalah perempuan. Yang paling penting dari data ini adalah kelompok usia 12-17 tahun adalah konsumen terbesar pornografi di internet.”
Suasana kembali melebah demi mendengar data ini. “Kenapa, kamu merasa terusik?” Begitu respon pembina upacara saat mendengar suara berisik dari barisan anak-anak. Bagi penulis sendiri berasumsi bahwa siswa memang resah dengan data ini. Bisa jadi mereka sedang mengukur dirinya apakah masuk ke dalam kelompok konsumen narkolema tersebut atau tidak.
“Anak-anak semua, mari kita lihat apa dampak kerusakan yang disebabkan oleh narkolema ini.” Pembina upacara kembali mengumpulkan perhatian siswa agar fokus terhadap apa yang disampaikan. “Narkoba lewat mata adalah pornografi yang dilihat seseorang dan memiliki efek kecanduan dan daya rusak sebagaimana pada pengguna narkoba. Kerusakan yang dialami akibat kecanduan pornografi adalah rusaknya otak bagian depan yang disebut Pre Frontal Cortex (PFC) yang berfungsi sebagai pusat pertimbangan dan pengambilan keputusan serta membentuk kepribadian seseorang. Pornografi adalah narkoba di era milenium baru yang membuat dunia berada di tengah-tengah bencana yang mengerikan. Pornografi dapat mengacaukan kehidupan kerusakan pada bagian PFC yang mengatur fungsi kognitif dan emosi. Kerusakan pada PFC akan menimbulkan gejala-gejala yang ditandai dengan kurangnya daya berkonsentrasi, tidak dapat membedakan benar dan salah, berkurangnya kemampuan untuk mengambil keputusan dan menjadi pemalas. Oleh karena itu, mari kita berusaha untuk tidak merusak diri dengan narkolema ini. Isi waktumu dengan hal-hal yang bermanfaat misalnya dengan mengikuti ekskul di sekolah dan tingkatkan amal ibadahmu untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Bagi yang muslim misalnya dapat melakukan puasa sunnah Senin Kamis sebagai bentuk usaha untuk mencegah pengaruh narkolema ini. Semoga apa yang saya sampaikan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Karena penikmat narkolema ini tidak hanya dari kolongan remaja namun kita semua tidak mustahil dapat terjerat di dalamnya.” Pembina upacara menutup amanatnya dengan harapan kita semua dapat terhindar dari bahaya narkolema.
Semoga.
#edisikuatkanhati110#
#upacaranasional#
#bahayanarkolema#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 29 Januari 2024
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan