Takwanya Ibrahim Sabarnya Ismail dan Ikhlasnya Siti Hajar
Disarikan dari khutbah Idul Adha
Oleh Al-ustaz Muhammad Gunawan, S.Pd., M.Pd.
Di Masjid Al Muqorrobin – Asrama Polisi
Jalan Raya Menteng-Pasar Merah- Medan.
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.
Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah semata, karena hanya dengan rahmat dan karunia-Nya kita kembali dapat bertemu dengan Idul Adha yang mengisahkan sejarah tingginya ketakwaan seorang kekasih Allah, Nabi Ibrahim AS beserta anak dan istrinya.
Sholawat berangkai salam kita hadiahkan ke haribaan yang mulia junjungan alam Rasulullah SAW, insya Allah kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan syafaatnya di hari kiamat kelak. Aamiin yaa Robbal alaamiin.
Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1445 H yang tahun ini bertepatan jatuh pada tanggal 17 Juni 2024, merupakan peringatan atas sebuah kisah inspiratif dan menyentuh hati yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya Ismail AS beserta istrinya Siti Hajar. Peringatan Idul Adha identik dengan kegiatan ibadah haji dan berkurban, sehingga banyak masyarakat Indonesia yang menyebut perayaan ini sebagai Lebaran Haji dan Lebaran Kurban.
Menurut Imam Al-Ghazaly bahwa pengertian takwa adalah melaksanakan semua perintah Allah, menjauhi larangannya dan membersihkan hati dari berbagai dosa. Nabi Ibrahim mendapatkan julukan khalilullah (kekasih Allah) karena ketakwaannya yang sangat tinggi kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim telah melewati ujian hidup yang Allah berikan kepadanya. Allah memberikan ujian kepada hamba-Nya tidak lain untuk menguji keimanan mereka. Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Ankabut ayat 2 yang artinya :
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja pada setiap waktu, tempat dan situasi hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji lagi ?”
Semua manusia diberikan Allah ujiannya masing-masing sesuai dengan kemampuannya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari apa yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.” (Surat Al-Baqarah ayat 286)
Hari Raya Idul Adha merupakan momen di mana umat manusia belajar dari tingginya ketakwaan Ibrahim sebagai kepala rumah tangga, sabarnya Ismail sebagai seorang anak dan ikhlasnya seorang istri sekaligus ibu yang dicontohkan oleh Siti Hajar.
Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim tidak juga dikaruniai anak padahal usianya telah mencapai 86 tahun. Ia pun meminta kepada Allah SWT agar diberikan anak yang saleh. Kisah paling menyentuh hati ini, Allah abadikan di dalam Al-Quran surat Ash-Shaffat. Ketika Ibrahim bermunajat kepada Allah SWT :
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh,” pinta Nabi Ibrahim seperti dalam QS Ash-Shaffat ayat 100.
Kemudian Allah SWT mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Ibrahim dikaruniai seorang anak yang saleh dan sangat sabar yaitu Nabi Ismail. Namun Allah terus saja menguji keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim. Saat Ismail bayi, Allah memerintahkan agar Ibrahim membawa istri dan anaknya hijrah ke sebuah lembah yang tandus dan sunyi, itulah Kota Mekkah sekarang ini.
Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya di lembah yang gersang tersebut. Semua ini mereka lakukan semata-mata karena mematuhi perintah Allah SWT. Dari sini bermula ritual sai di mana Siti Hajar berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa untuk mendapatkan air demi Ismail kecil yang terus saja menangis kehausan. Dengan izin Allah pula, di sini bermula terjadinya sumur Zam-Zam.
Saat Nabi Ismail beranjak remaja, Allah SWT kembali memberikan ujian kepada mereka. Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT lewat mimpi untuk menyembelih anaknya. “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” kata Nabi Ibrahim sebagaimana dikutip dari QS Ash-Shaffat ayat 102. “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,” jawab Nabi Ismail.
Nabi Ibrahim Sang Khalilullah, yang dikenal sebagai sosok yang sangat taat melaksanakan perintah Allah SWT akhirnya melakukan apa yang telah terjadi pada mimpinya yaitu mengurbankan anaknya demi menjalankan perintah Allah SWT. Meski sebagai manusia biasa hati Ibrahim dipenuhi rasa sedih yang mendalam.
Namun ternyata Ismail tidak berbeda dengan ayahnya. Dengan penuh kesabaran ia meminta ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah tersebut.
Nabi Ibrahim dan Ismail pun sepakat menjalankan perintah Allah dan mereka menuju ke Mina untuk melaksanakan penyembelihan. Dikisahkan pula bahwa detik-detik pelaksanaan penyembelihan ini, setan pun melancarkan godaannya kepada Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar. Momen ini yang kemudian diabadikan dalam ritual melempar jumrah.
Pada saat penyembelihan yang penuh kesedihan itu tiba, Nabi Ismail lantas mengatakan pada ayahnya dengan penuh keikhlasan:
يا أبت اشدد رباطى حتى لا اضطرب، واكفف عنى ثيابك حتى لا يتناثر عليها شئ من دمى فتراه أمى فتحزن، وأسرع مرّ السكين على حلقى ليكون أهون للموت على، فإذا أتيت أمى فاقرأ عليها السلام منى
Artinya: "Wahai ayahku! Kencangkanlah ikatanku agar aku tidak lagi bergerak, singsingkanlah bajumu agar darahku tidak mengotori, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya ia akan bersedih, percepatlah gerakan pisau itu dari leherku, agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu sangat dahsyat. Apabila engkau telah kembali maka sampaikanlah salam (kasih)ku kepadanya." (Syekh Muhammad Sayyid Ath-Thanthawi, Tafsir Al-Wasith.)
Nabi Ibrahim menuruti permintaan Ismail. Ia pun mencium putranya dengan penuh kasih sayang dan linangan air mata. Akhirnya ia mengambil pisau dan meletakkan pisau tajam itu ke leher Nabi Ismail. Allah mengirimkan keajaiban, pisau itu ternyata sama sekali tidak melukai Nabi Ismail. Beberapa kali Nabi Ibrahim mengulanginya, namun tetap sebagaimana semula. Jangankan melukai, bahkan pisau itu tidak memberi bekas apa pun pada anak semata wayangnya itu. Nabi Ismail mengatakan pada ayahnya:
يا أبتِ كبّني لوجهي على جبيني، فإنّك إذا نظرت في وجهي رحمتني، وأدركتك رقّة تحول بينك وبين أمر الله وأنا لا أنظر إلى الشفرة فأجزع
Artinya: "Wahai ayahku! Palingkanlah wajahku hingga tak terlihat olehmu! Karena sungguh, jika melihat wajahku, engkau akan selalu merasa iba. Perasaan iba itu dapat menghalangi kita untuk melaksanakan perintah Allah. Apalagi di depan mataku terlihat kilatan pisau yang sangat tajam, tentu membuatku ketakutan." (Syekh Abu Ishaq bin Ibrahim Ats-Tsa'labi, Tafsir Ats-Tsa'labi.)
Saat itu Allah SWT kembali menunjukkan kekuasaan-Nya, tubuh Nabi Ismail digantikan dengan domba jantan yang besar berwarna putih, bermata indah dan bertanduk yang berasal dari surga. Allah SWT pun berfirman di dalam Al-Quran, Surat Ash-Shaffat ayat 104-108 sebagai berikut:
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ.
Artinya: "Lalu Kami panggil dia, 'Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.' Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian," (Surat Ash-Shaffat ayat 104-108).
Peristiwa bersejarah yang sangat menyentuh hati tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah untuk menegaskan bahwa perintah mengurbankan Nabi Ismail itu adalah ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta Siti Hajar sampai sejauh mana cinta dan ketaatan mereka kepada Allah SWT. Ternyata keluarga Ibrahim telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Mereka telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dan ketakwaan yang tinggi untuk berbakti melaksanakan perintah Allah SWT.
Dari peristiwa tersebut awal mula umat Islam melakukan ibadah kurban setiap Hari Raya Idul Adha. Momen ini menjadi pelajaran yang berharga bagi setiap umat Islam untuk selalu patuh kepada perintah Allah SWT. Sebuah keluarga yang mampu membuktikan ketakwaannya dalam melaksanakan perintah Allah, sabar dan ikhlas menerima ketentuan dari Allah SWT.
Puncak ketakwaan seseorang adalah ketika ia rela berbagi, sebagaimana gambaran di dalam ibadah kurban. Penyembelihan hewan kurban sebagai tamsilan untuk menyembelih dan mengorbankan sifat egois, rakus atau tamak dengan berbagi kepada sesama yang dibarengi dengan mencurahkan rasa cinta kita kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bishshowab
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA.
SEMOGA KITA SEMAKIN MENGERTI MAKNA PENGORBANAN DAN KEIKHLASAN.
INSYA ALLAH MENAMBAH KEIMANAN DAN KETAKWAAN KITA KEPADA ALLAH SWT.
#iduladha1445h#
#masjidalmuqorrobin#
#muhammadgunawanspdmpd#
#edisikuatkanhati#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 10 Zulhijjah 1445H/17 Juni 2024
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
