Guru Sakti Mandraguna
Liburan semester genap telah berlalu hampir dua pekan. Tahun ajaran baru pun telah di ambang pintu. Menyambut siswa baru, mengajar, memberikan ulangan dan akhirnya memberikan laporan hasil belajar sudah digeluti Bu Fulanah selama dua dekade lebih. Tahun ajaran berganti bahkan kurikulum berubah bagi Bu Fulanah terasa biasa saja. Dijalani saja lah, begitu pikirnya. Rutinitas kehidupannya sebagai guru adem-adem saja. Tak terpengaruh dengan gelombang revolusi pergantian kurikulum tiap kabinet pemerintahan berganti.
Masuk tahun ajaran baru, bahkan kurikulum baru sekalipun tak mampu mempengaruhi gaya mengajar Bu guru yang satu ini. Dengan stylenya sendiri, ia masuk dan mengajar di dalam kelas. “Memang sudah garis tangan menjadi guru. Mau gimana lagi.” Begitu gumamnya pada diri sendiri.
Mengikuti pertemuan MGMP sering dia lakoni, berbagai seminar baik daring maupun luring pun dikuti. “Aku butuh sertifikat ajanya.” Dialek khas Medan-nya pun mencuat. Itulah sebabnya tetap saja tak mampu mengubah “kesaktiannya” di dalam kelas (hahaha).
Ada banyak buku paket terbitan baru yang diberikan penerbit di meja kantornya. Tumpukan buku itu terlihat rapi, seakan tak ada jejak bahwa lembaran-lembaran itu tersentuh tangan dingin seorang guru. “Untuk apa lagi membaca buku-buku itu. Bikin repot saja.” Ucapnya. Bagi Bu Fulanah apa yang diperolehnya di bangku kuliah keguruan dulu, sudah lebih dari cukup sebagai senjata ampuh menghadapi siswa-siswanya. Buktinya pembelajaran berlangsung aman-aman saja. Apalagi selama ini Bu Fulanah cukup lihai sebagai guru silat (silat lidah maksudnya, hehehe) jika ada pertanyaan dari siswa terkait materi pelajaran yang diberikannya.
Baginya tak perlu kreasi apalagi inovasi dalam pembelajaran. Faktanya, siswa tetap tamat juga. “Jadi orang juganya.” Jawabnya bangga. Waah..., ini guru benar-benar sakti mandraguna (hahaha). Long life education tak ada dalam kamusnya. Berani mengajar harus siap belajar, kalimat ini pun tak pernah ada dalam benaknya. Apalagi harus beranjak dari zona nyaman mengikuti perkembangan kurikulum. “Ilmuku masih tetap lebih tinggi dari pada siswa.” Begitu Bu Fulanah selalu bersikeras.
Bu Fulanah betul-betul sakti mandraguna. Masuk ke kelas, menyapa siswa, memberikan penjelasan seperlunya, berikutnya : “Catat di buku kalian dari halaman 55 ini sampai 70 ya.” Setelah itu siswa mengerjakan latihan. Cukup begitu saja. Ajiannya ini tak pernah berubah. Tak peduli kurikulum berganti dari yang satu ke yang lain. Betul-betul sakti mandraguna, tetap eksis mengajar tanpa harus terus belajar. Hehehe.
#edisikuatkanhati#
#beranimengajarsiapbelajar#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Perisai Pribumi, Baiti Jannati, Hari ke-5 Juli 2024
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
