Duyufurrahman
(Tulisan ini didedikasikan untuk Al-Ustaz Muhammad Iqbal, M.Pd.I. yang sedang melaksanakan umrah. Semoga ibadah umrahnya berjalan lancar dan insya Allah mendapatkan umrah yang mabrur.)
Bisa melaksanakan rukun Islam yang ke-5 yaitu haji, menjadi cita-cita dan impian bagi orang yang beriman. Meski termasuk dalam rukun Islam, namun ada syarat yang mengikuti dalam pelaksanaannya yaitu menjadi kewajiban bagi mereka yang mampu, seumur hidup sekali.
Merupakan anugerah yang tiada tara ketika siapa pun di antara kita bisa mengunjungi tanah suci, baik melalui ibadah haji maupun ibadah umrah. Tentu saja anugerah terindah ini harus disyukuri dengan cara berusaha menjadi tamu Allah yang paripurna.
Kemuliaan anugerah ini terbukti dengan sebutan duyufurrahman (tamu Allah) yang diberikan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bagi orang-orang yang berangkat haji maupun umrah. Jamaah haji dan umrah disebut tamu Allah karena mereka akan dimuliakan Allah sebagaimana tamu dimuliakan.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda "Orang yang mengerjakan haji dan umrah merupakan tamu Allah. Maka jika mereka bermohon kepada-Nya, pastilah dikabulkan-Nya, dan jika mereka memohon ampunan pasti diampuni-Nya". (HR Ibnu Majjah).
Selain duyufurrahman banyak Ulama yang menyebut tamu Allah ini dengan sebutan : “Man atallaaha biqolbin salim”, yaitu mereka yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat, hati yang lembut atau hati yang tulus. Sebutan ini, menuntut seseorang agar menjadi tamu Allah yang paripurna yaitu orang yang sepanjang pelaksanaan ibadah haji dan umrah bisa menjaga hatinya untuk tidak menjadi keras.
Ada beberapa penyebab hati manusia bisa menjadi keras, di antaranya adalah tingginya ilmu dengan segala status yang melekat pada dirinya, apakah gelar akademik, kiyai, jenderal, pejabat, dan lain-lain, yang menjebak dirinya merasa paling pintar. Dalam hal ini kita dituntut untuk hati-hati karena ilmu yang dimiliki bisa mengangkat harkat dan martabat pemiliknya di hadapan Allah namun juga dapat membuat hatinya menjadi keras. Bukan tidak mungkin orang yang berilmu merasa praktik amal ibadah yang dilakukannya sebagai yang paling benar lalu sibuk menyalahkan praktik amal ibadah orang lain. Sibuk menyalahkan orang lain akan membuat hati kehilangan kesempatan untuk melihat kelemahan diri sendiri.
Penyebab lainnya yang membuat hati menjadi keras adalah status sosial dan nasab yang tak jarang menjebak jamaah haji dan umrah untuk merendahkan dan tidak menghormati orang lain.
Namun jika jamaah bisa menjaga hatinya, baik pada saat haji maupun umrah (haji kacil) Allah janjikan pahala yang berlipat ganda dan surga sebagai balasannya.
Allah Subhanahu wataala berfirman di dalam Al Quran tentang dua ibadah mulia ini di dalam Surat Al-Baqarah Ayat 196 :
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur),maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.”

Dalam pelaksanaan kedua ibadah ini, Allah subhanahu wataala memberikan kesempatan pada umat-Nya untuk menghapuskan dosa-dosa mereka, mendapatkan pahala yang besar, serta mendekatkan diri pada Allah dengan intensitas yang tinggi. Maka, setelahnya mereka akan mendapatkan ketenangan batin, serta menjadi sarana untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wataala.
Bagi orang-orang yang mampu menjaga hatinya dan senantiasa menjadi tamu Allah yang paripurna, Allah berikan banyak keutamaan-keutamaan, antara lain mendapatkan pahala yang berlipat ganda sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Sholat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 (seribu) kali sholat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram, Makkah, dan sholat di Masjidil Haram lebih baik dari 100.000 (seratus ribu) sholat di masjid lainnya.” (HR Ibnu Majjah.)
Keutamaan ibadah haji dan umrah juga dijelaskan di dalam hadis yang lain sebagai berikut :
Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
تَابِعُوا بين الحجِّ والعمرةِ ، فإنَّهما ينفيانِ الفقرَ والذنوبَ ، كما يَنفي الكيرُ خَبَثَ الحديدِ والذهبِ والفضةِ ، وليس للحجةِ المبرورةِ ثوابٌ إلا الجنةُ
"Iringilah ibadah haji dengan (memperbanyak) ibadah umrah (berikutnya), karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana alat peniup besi panas menghilangkan karat pada besi, emas dan perak. Dan tidak ada (balasan) bagi (pelaku) haji yang mabrur melainkan surga." (HR Imam At-Tirmidzi).
Wallahu a’lam bishowab.
Disarikan dari berbagai sumber :
**(censored)**
**(censored)**
**(censored)**
**(censored)**
**(censored)**
**(censored)**
#edisikuatkanhati#
#cintaharamain#
#rinduharamain#
#duyufurrahman#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Baiti Jannati, Perisai Pribumi, 21 Agustus 2024
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan