Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Istimewanya Kedudukan Ibu Bagi Anak Laki-lakinya
Ilustrasi ibu dan anak laki-lakinya (sumber : pinterest).Insert foto Al-ustaz Muhammad Iqbal, M.Pd.I.

Istimewanya Kedudukan Ibu Bagi Anak Laki-lakinya

 

Terinspirasi dari ceramah Al-Ustaz Muhammad Iqbal, M.Pd.I.

Di Pengajian Ash-habul Jannah -Perisai Pribumi, Medan.

 

 

 

Allah swt memerintahkan kepada kita semua, terlebih anak laki-laki, untuk berbakti kepada ibunya yang telah dengan susah payah menjaga dan merawatnya. Sebagaimana Allah firmankan :

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman: 14)

Dalam sebuah hadis, Abu Hurairah ra. berkata, “Suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti pertama kali?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Sekali lagi laki-laki itu bertanya, ‘Kemudian siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Ayahmu.'” (HR Bukhari).

Begitu mulianya seorang ibu hingga Rasulullah menyebutkan sampai 3 kali seorang anak laki-laki harus berbakti kepada ibunya, setelah itu barulah berbakti kepada ayah. Allah swt menempatkan seorang ibu pada kedudukan yang mulia. Bahkan pada hadis yang lain menyebutkan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Diceritakan bahwa pada suatu hari Mu’awiyah bin Jahimah datang kepada Nabi saw., lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin berperang, dan aku datang untuk meminta petunjukmu.” Nabi saw. bersabda, “Apakah engkau memiliki ibu?” Mu’awiyah menjawab, “Iya, benar.” Lalu Rasulullah bersabda, “Menetaplah dengannya, karena sungguh surga di bawah kedua kakinya.” (HR Ibnu Majah)

Ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadis nabi yang menjelaskan kemuliaan seorang ibu. Kita pun bisa merasakan bahwa Ibu merupakan kata tersejuk yang kita lantunkan. Ibu adalah sebutan terindah yang penuh semerbak cinta dan impian. Tak ada yang dapat mengalahkan ketulusan seorang ibu menerima anaknya di saat dunia tak berpihak padanya.

Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa mendoakannya, terputusnya hubungan anak dengan Robb-nya. Hilang aksesnya bagi doa yang mustajab, karena doa ibu tak terhijab.

 Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (safar), dan doa baik orang tua pada anaknya.” (HR Ibnu Majah, Abu Daud)

Beberapa ulama menyampaikan pendapatnya tentang hadis-hadis yang menunjukkan doa orang tua kepada anaknya itu mustajab. Baik doa ayah maupun doa ibu. Namun, doa ibu lebih mustajab lagi.

Al-Munawi rahimahullah menjelaskan, “Doa orang tua kepada anaknya diijabah disebabkan rasa sayang orang tua yang tulus kepada anaknya dan orang tua selalu mendahulukan anaknya daripada dirinya sendiri. Sehingga setiap doa yang disertai rasa sayang yang tulus, mengakibatkan dikabulkan doanya.

Islam memberikan kewajiban pengasuhan anak kepada ibu. Seorang ibu mencurahkan segenap perhatian untuk anak-anaknya sejak mulai di alam rahim hingga terlahir ke dunia dari bayi hingga dewasa kasih sayang ibu tak terbilang.

Sejatinya, Islam mengajarkan bahwa semua manusia di hadapan Allah swt. sama, kecuali iman dan takwanya yang membedakan. Di sini tidak bertujuan membeda-bedakan anak laki-laki dan perempuan, namun kita harus mengakui ada perbedaan karakter antara anak laki-laki dan perempuan. Inilah yang menyebabkan ada beberapa hukum syarak yang berbeda terkait fungsi dan peran laki-laki dengan perempuan.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah ra., beliau bertanya kepada Rasulullah saw., “Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya (apabila sudah menikah).” Aisyah bertanya lagi, “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab “Ibunya.” (HR Muslim)

Artinya adalah bagi seorang laki-laki, setelah ia mengucapkan janji suci dalam pernikahan, dia tetap memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orang tuanya, terutama ibunya. Ia memiliki kewajiban untuk selalu memuliakan, menaati, dan mendengar kata-kata yang disampaikan oleh orang yang telah melahirkannya, serta bertanggung jawab kepada ibunya.

Namun, bagi seorang perempuan ketika ia menikah kewajiban utamanya berubah. Dari yang semula berbakti kepada orang tua menjadi beralih wajib berbakti dan taat kepada suaminya.

Yang harus diingat adalah bahwa Islam mengajarkan konsep keseimbangan dalam memperlakukan istri, ibu dan anak. Keduanya, baik suami maupun istri harus saling memahami, jujur dan terbuka. Meski bakti utama seorang istri adalah kepada suaminya, namun suami tidak boleh semena-mena terhadap istrinya. Di sisi lain, istri juga harus tetap ikhlas dan selalu mendorong suaminya untuk berbakti pada orang tuanya, terlebih kepada ibunya.

Seorang suami harus adil dalam membagi waktu, perhatian dan kasih sayang pada keluarga. Sikapnya haruslah mencerminkan keadilan dan kebersamaan dalam membangun kehidupan keluarga yang harmonis dan penuh berkah. Baik dalam menjaga kebahagiaan istri, memuliakan ibu, dan memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Hal ini akan menjadi fondasi yang kokoh dalam membina keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah.

Begitulah istimewanya kedudukan ibu bagi anak lelakinya karena ia kelak menggantikan posisi ayah ketika sudah tua apalagi setelah ayahnya meninggal. Ia bertanggung jawab penuh terhadap ibunya, berbakti dan menemani ibunya ketika dibutuhkan adanya mahram.

 

 

 

Wallahu a’lam bishowab.

 

 

 

#edisikuatkanhati#

#anaklakilakimilikibunya#

#sakinahmawaddahwarohmah#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 3 Agustus 2024

 

 

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post