Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Empati
Illustrasi empati. (Sumber : RRI Digital)

Empati

Di depan lift rumah sakit terlihat ada sekitar 5 orang ibu-ibu yang mengantre. Penulis mendorong kursi roda suami dan bergabung dengan mereka. Lampu di atas lift menunjukkan angka 7 sementara kami berada di lantai 1. Tak berapa lama, seorang gadis mendorong kursi roda ibunya dan bergabung pula bersama kami. Kemudian ada lebih dari 3 orang lainnya pun datang mendekat.

Ketika pintu lift terbuka terdengar suara dari salah seorang ibu, “Beri jalan dulu orang yang keluar. Biarkan yang naik kursi roda masuk lebih dulu. Kalau tidak muat, biar kita belakangan saja.” Sembari mempersilahkan kami memasuki lift, suara ibu tersebut terdengar bijak. “Mau ke lantai 5 ya Bu?” Tegur ibu tersebut ramah kepadaku seakan mengerti jika kami akan Hd (Hemodialisis= cuci darah). Mungkin beliau tak asing dengan CDL (Chateter Double Lumen) yang terpasang di leher suami sebagai alat untuk cuci darah dan ruang Hd di Rumah Sakit Murni Teguh Medan ada di lantai 5. Kelihatannya beliau mengerti seluk beluk ruangan rumah sakit ini. “Iya, betul Bu. Kami akan Hd,” Jawab penulis tak kalah ramah. “Jam berapa jadwalnya, Bu?” lanjut beliau lagi. “Jam 2, Bu.”

Setelah diberi jalan, Kami pun masuk. Lega sekali rasanya. Tak berapa lama, “Permisi ibu-ibu, kami sudah sampai, terima kasih.” Ucapku sebelum keluar dari lift. “Iya, sama-sama, Bu. Semangat sehat ya Pak.” Ucap Ibu dan teman-temannya menyemangati sambil melambaikan tangan.

Alangkah damai dan indahnya. Meski tak saling mengenal namun empati yang ditunjukkan ibu-ibu tersebut berhasil menebarkan energi positif yang dapat dirasakan bersama. Menurut Wikipedia, empati atau timbang rasa adalah daya untuk memahami atau merasakan apa yang dialami orang lain dari sudut pandang mereka, yakni daya untuk menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain. Definisi empati mencakup berbagai proses sosial, kognitif, dan emosional yang terutama berkaitan dengan memahami orang lain (khususnya perasaan orang lain). Jenis-jenis empati meliputi empati kognitif, empati emosional (atau afektif), empati somatik, dan empati spiritual.

Apa yang dilakukan ibu-ibu tersebut sesuai dengan definisi empati yaitu mereka dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh orang lain. Mereka juga dapat menempatkan diri pada posisi orang lain. Rasa empati yang mereka miliki membuat mereka terdorong melakukan sesuatu untuk memudahkan orang lain. Hal kecil yang mereka lakukan dalam cerita di atas dengan mengutamakan pasien-pasien pengguna kursi roda, telah menciptakan harmoni yang indah yang bisa dirasakan oleh banyak orang.

Empati menjadi hal yang penting yang harus dimiliki oleh setiap orang sebagai jembatan untuk bisa berhubungan dengan orang lain. Empati membuat hidup lebih bahagia karena empati menumbuhkan belas kasih terhadap sesama dan menghilangkan rasa benci di hati. Rasa empati juga membuat seseorang menjadi lebih bijaksana seperti apa yang dilakukan oleh ibu-ibu tadi. Selain itu pada contoh di atas, empati dengan segera menghilangkan rasa sombong dan egois seseorang. Ketika rasa empati ditunjukkan maka hidup akan selalu dipenuhi dengan kebaikan.

#edisikuatkanhati#

#empatitinggibahagiahati#

#rsmurniteguhmedan#

#ruanghdlt5#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

RS. Murni Teguh Memorial Hospital, Ruang Hd lt.5, Hari ke-16 Tahun 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post