Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pentingnya Mengukur Berat Badan Pasien Hemodialisis
Gambar : Drs.H.Legimin Syukri, MH., pada saat penimbangan berat badan setelah proses hd di RS.Murni Teguh-Medan. (Sumber : RaRa)

Pentingnya Mengukur Berat Badan Pasien Hemodialisis

Saat pertama kali mengantarkan suami untuk melakukan proses hemodialisis (hd) atau cuci darah, penulis belum mengetahui kalau pasien yang akan melakukan hd harus ditimbang berat badannya sebelum dan sesudah hd. Penulis sempat kebingungan saat paramedis menanyakan berat badan suami sebelum proses hd dilakukan. “Nanti lain kali setiap akan dan sesudah hd, bapak ditimbang ya, Bu. Seterusnya begitu dan Ibu catat di buku.” Begitu pesan paramedis yang membantu proses hd.

Pantesan..., di depan ruang hd ada timbangan.” Gumam penulis dalam hati. Ingatan penulis pun tertuju pada keberadaan timbangan besar di depan pintu ruangan hd yang bisa digunakan untuk menimbang pasien. Apakah pasien yang bisa berdiri ataupun yang duduk bersama kursi rodanya sekaligus, bisa ditimbang di situ. Sejak saat itu, penulis tidak pernah lupa menimbang berat badan suami sebelum dan sesudah proses hd.

Apa sih pentingnya menimbang berat badan sebelum dan setelah hd bagi pasien? Berikut penjelasan yang penulis rangkum dari penjelasan paramedis dan berbagai sumber di dunia maya.

Saat ginjal sudah tidak bisa lagi menjalankan fungsinya, prosedur cuci darah perlu dilakukan secara rutin. Seperti diketahui, ginjal berfungsi untuk menyaring darah dalam tubuh. Jika terjadi gagal ginjal, seseorang perlu cuci darah, agar bisa tetap sehat.

Selain untuk menyaring, prosedur cuci darah juga dapat membantu mengontrol tekanan, serta menyeimbangkan mineral dalam darah, seperti natrium, kalsium, dan kalium.

Pengidap gagal ginjal perlu menjalani prosedur cuci darah, agar kesehatannya terjaga. Selama menjalani cuci darah, pengidap gagal ginjal perlu mengonsumsi protein dalam jumlah banyak, dan membatasi asupan fosfor, natrium, dan kalium.

Jika kadar mineral dalam darah terlalu banyak, risiko masalah kesehatan lainnya dapat meningkat. Tak hanya itu, pengidap gagal ginjal yang perlu menjalani cuci darah rutin, juga harus menginformasikan riwayat penyakit dan obat-obatan. Termasuk produk herbal dan suplemen yang selama ini dikonsumsi.

Ginjal yang gagal tidak dapat menjalankan tugas normalnya untuk membuang cukup cairan dari tubuh dan dialisislah yang mengambil alih tugas ini. Komplikasi dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan yang tidak biasa di dalam tubuh di antara sesi dialisis. Oleh karena itu, pasien harus ditimbang sebelum dan setelah sesi dialisis dan juga diminta untuk memantau berat badan mereka di rumah setiap hari. Pemantauan berat badan ini membantu tenaga kesehatan untuk memutuskan berapa banyak cairan yang perlu dikeluarkan dari tubuh .

Penambahan cairan ditentukan oleh penambahan berat badan pasien di antara perawatan , itulah sebabnya pasien ditimbang sebelum setiap perawatan dialisis dimulai. Penambahan cairan di antara perawatan dialisis tidak boleh lebih dari 5% dari perkiraan berat badan target.

Pasien cuci darah atau hemodialisis (HD) perlu mengukur berat badan untuk menentukan berat badan kering dan derajat overhidrasi. Berat badan kering adalah berat badan normal tanpa cairan ekstra di dalam tubuh atau berat pasien saat tidak terjadi penumpukan cairan berlebih di dalam tubuh. Setiap pasien ditimbang sebelum dan setelah sesi dialisis.

Berat badan kering penting untuk diketahui karena:

• Membantu menentukan jumlah cairan yang perlu dibuang selama sesi hemodialisis

• Membantu menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh

• Membantu menjaga status gizi pasien

Untuk menjaga berat badan kering, pasien cuci darah perlu memperhatikan asupan cairan, menghindari makanan asin, memantau berat badan harian, menjaga tekanan darah tetap normal, dan menjaga pernapasan tetap nyaman.

Adanya proses dialisis yang mengeluarkan zat gizi, asam amino, zat protein itu juga menyebabkan kekurangan energi protein akan berakibat pada status gizinya kurang. Oleh karena itu, setiap pasien tentu harus menjaga kondisi tubuh agar tidak kekurangan gizi. Caranya, untuk pasien hemodialisis (HD) harus memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 20-25 kg/m2.

Adapun simulasi yang bisa dilakukan untuk menghitung IMT antara lain ialah dengan rumus sebagai berikut :

IMT = Berat badan kering : (tinggi badan kuadrat).

Misalnya : pasien memiliki berat badan kering 60 kg dan tinggi 1,6 meter (kuadrat), maka IMT-nya = 60/2,56 = 23,43 yang berarti status gizinya baik.

Penulis pun segera menghitung IMT suami :

Berat badan kering = 63,5 kg

Tinggi = 1,65 meter(kuadrat), maka IMT-nya = 63,6/ 2,7225 = 23, 32 kg/m2.

Alhamdulillah, berarti status gizi suami penulis adalah baik.

(Disarikan dari berbagai sumber)

#edisikuatkanhati#

#beratbadanpasienhd#

#imt#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

RS. Murni Teguh Memorial Hospital Medan, Ruang Hd lt.5, Hari ke-20 Tahun 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post