Daun Salam (Syzygium polyanthum) di Teras Rumah
Luar biasanya kuliner Nusantara adalah pada penggunaan rempah-rempah yang berkhasiat untuk kesehatan tubuh. Salah satu rempah yang paling banyak atau sering digunakan adalah daun Salam(Syzygium polyanthum). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Indonesian bay-leaf atau Indonesian laurel, sedangkan nama ilmiahnya adalah Syzygium polyanthum.
Daun salam digunakan terutama sebagai rempah pengharum masakan di sejumlah negara di Asia Tenggara, baik untuk masakan daging, ikan, sayur mayur, maupun nasi. Daun ini dicampurkan dalam keadaan utuh, kering ataupun segar, dan turut dimasak hingga makanan tersebut matang. Rempah ini memberikan aroma herba yang khas namun tidak keras. Di pasar dan di dapur, daun salam kerap dipasangkan dengan lengkuas.
Meski hanya dibutuhkan tak lebih dari 3 lembar tiap kali memasak, tanpa kehadirannya terasa kurang klop. Harga daun salam sangat murah. Dengan membeli seribu rupiah saja pun telah didapatkan jumlah daun salam yang cukup banyak sehingga sering berlebih dan akhirnya terbuang. Untuk mengatasi hal ini, penulis berinisiatif untuk menanamnya di dalam pot.
Pohon Salam termasuk berukuran sedang hingga mencapai tinggi 30 m namun dapat ditanam di dalam pot. Setelah penulis menanamnya di dalam pot besar, untuk keperluan rumah tangga sehari-hari ternyata lebih dari cukup. Bagaikan kulkas hidup, daun salam bisa siap digunakan kapan diperlukan. Tidak repot lagi menyimpannya bahkan ada yang menjadi kering. Sebenarnya dalam bentuk kering pun daun salam bisa digunakan namun terkadang ada aroma kurang enak yang menyertainya.
Setiap kali akan digunakan, dapat dengan cara memetik daun yang berwarna hijau tua atau dipangkas secara acak pada ranting-rantingnya. Cara ini justru semakin membuat tunas-tunas baru bermunculan. Itulah sebabnya penulis katakan, hanya dengan satu pot tumbuhan salam di teras rumah sudah dapat memenuhi kebutuhan bumbu dapur rumah tangga sehari-hari ditambah lagi membuat sejuk pandangan mata dan udara menjadi segar karena ada pemasok oksigen.
Selain sebagai penyedap masakan, daun salam juga digunakan sebagai obat sakit perut dan untuk menghentikan buang air besar yang berlebihan. Penggunaan daun salam sebagai obat tersebut disebabkan oleh kandungannya yakni pada daun salam kering terdapat sekitar 0,17% minyak esensial, dengan komponen penting eugenol dan metil kavikol (methyl chavicol) di dalamnya. Ekstrak etanol dari daun menunjukkan efek antijamur dan antibakteri, sedangkan ekstrak metanolnya merupakan anticacing, khususnya pada nematoda kayu pinus Bursaphelenchus xylophilus. Kandungan kimia yang dikandung tumbuhan ini adalah minyak asiri, tannin, dan flavonoida. Bagian pohon yang bisa dimanfaatkan sebagai obat adalah daun, kulit batang, akar, dan buah. Dari referensi yang lain, rebusan daun salam dapat juga digunakan untuk mengobati asam urat, kolesterol dan diabetes.
Wah...ternyata daun salam di teras rumah memiliki banyak manfaat. Lagi pula, minimal sebagai indikator rumah guru biologi dengan adanya tanaman-tanaman di lingkungan rumah meskipun lahannya sangat terbatas. Hehehe.
#edisikuatkanhati#
#tambulampotkulkashidup#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 3 Februari 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
