Self Love
Kompilasi Amanat Pembina Upacara (19)
Self Love
Oleh : Nori Rapenta Nababan, S. Sos.
(Terinspirasi dari para pembina upacara setiap hari Senin, penulis menggagas tulisan ini. Sambil berdiri di bawah cerahnya sang surya yang gagah mentransfer energi cahayanya, penulis berpikir untuk mengumpulkan setiap amanat yang disampaikan oleh pembina upacara. Setiap hari Senin, yang bertindak sebagai pembina upacara bergiliran dari wali kelas yang satu ke yang lain. Uniknya, setiap pembina tampil dengan mengusung tema yang berbeda. Hal ini yang menurut penulis sangat sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja. Mengabadikannya dalam sebuah tulisan menjadi catatan tersendiri bagi penulis untuk terus belajar dan belajar dari wejangan yang mereka sampaikan.)
Senin, 17 Februari 2025
Cuaca pagi Senin 17 Februari 2025 cukup cerah dibandingkan beberapa hari belakangan ini yang selalu basah oleh rinai berkepanjangan. Persiapan pelaksanaan upacara bendera terlihat di lobi sekolah. Sementara itu siswa-siswa pun bergerak dari kelas menuju lapangan membentuk barisan. Yang bertugas sebagai pelaksana upacara bendera hari ini adalah kelas X-4 dengan demikian yang bertindak sebagai pembina upacara adalah wali kelas mereka yaitu Nori Rapenta Nababan, S.Sos.
Sebelum upacara dilaksanakan, ditampilkan siswa berprestasi yang membawa harum nama sekolah, yaitu :
1. SIMON TRISA SETIA ZAI dan MHD FAHRI NASUTION, Peraih Medali Emas bidang Matematika.
2. SATYA YUDHA SIREGAR dan MARIO YEHEZKIEL SILABAN, Peraih Medali Emas bidang Biologi,
pada POSBANAS ( Pekan Olimpiade Sains Bahasa dan Agama Nasional 2025).

Satu demi satu tertib acara upacara dilewati dengan baik. Hingga sampai pada amanat pembina upacara. Nori Rapenta Nababan, S.Sos. selaku pembina upacara mengawali amanatnya dengan ucapan rasa syukur karena Tuhan telah memberikan kesehatan dan kesempatan sehingga bisa melaksanakan upacara bendera sebagaimana biasa di hari Senin. Tak lupa pula ucapan terima kasih pada petugas upacara karena telah melaksanakan kewajibannya dengan baik.
“Pelaksanaan upacara ini sebagai wujud nasionalisme kita terhadap nusa dan bangsa.” Demikian pembina mengatakan. “Itu sebabnya kita harus melaksanakan upacara ini dengan sebaik-baiknya untuk melestarikan kecintaan kita pada bangsa ini yang kemerdekaannya diraih penuh dengan perjuangan.”
“Amanat kali ini mengambil tema sederhana yang semua orang bisa melakukannya namun sering terlupakan yaitu self love atau mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri atau self love berarti menerima dan menghargai diri sendiri dengan baik, apa adanya, dan tanpa mengorbankan diri. Self love bukan berarti tidak membutuhkan orang lain, tetapi self love mengharuskan kita untuk memperlakukan dan menerima diri sendiri dengan baik dan apa adanya.” Pembina upacara menjelaskan dengan lugas definisi self love yang menjadi tema pada amanat kali ini.
“Mengapa kita harus mencintai diri kita sendiri, hal ini disebabkan karena dengan self love membuat kita mengetahui kelemahan dan kekuatan diri serta potensi yang dimiliki. Mengenal diri sendiri juga membantu kita memahami diri sehingga dapat meningkatkan kelebihan dan memperbaiki kekurangan. Dengan begitu, kita dapat merencanakan masa depan yang lebih baik dan mencapai tujuan hidup.
“Self love atau mencintai diri sendiri juga dapat kita lakukan dengan tidak membandingkan diri dengan orang lain. Sikap membandingkan diri dengan orang lain bukanlah sesuatu yang baik untuk dilakukan. Jika dibiasakan, sikap ini dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi kehidupan sosial dan kesehatan mentalmu.” Pembina upacara kembali melanjutkan amanatnya di sela interupsi karena mulai terdengar suara di barisan siswa.
“Kita sering kali membandingkan diri kita dengan orang lain. Sikap ini terkadang bisa membangkitkan semangat untuk mempelajari hal baru agar tidak tertinggal. Selain itu, sikap ini juga dapat menyadarkan segala kekurangan yang dimiliki sehingga memacu diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, membandingkan diri dengan orang lain bukan lagi hal yang baik ketika orang lain menjadi patokan kualitas hidup. Hal ini dapat memicu perasaan iri yang bisa menurunkan rasa percaya diri, menghambat potensi diri, membuat murung, dan menimbulkan perasaan tidak berharga atau menyalahkan diri sendiri.
Terakhir, marilah kita senantiasa bersyukur atas segala sesuatu yang ada pada diri kita. Percayalah bahwa dengan semua kekurangan yang ada pada diri kita, Tuhan juga menitipkan kelebihan yang bisa kita banggakan. Dengan mensyukuri apa yang ada pada diri kita mulai dari hal kecil hingga yang besar, kita akan merasa cukup dan tidak akan lagi membuang waktu dengan membandingkan diri dengan orang lain. Sikap ini nyatanya bisa membuat kita menjadi pribadi yang optimis dan memiliki semangat untuk mencapai tujuan hidup. Semoga amanat ini bermanfaat bagi kita semua terutama untuk diri saya pribadi.” Pembina upacara pun menutup amanatnya.
#edisikuatkanhati#
#selflove#
#sensntiasabersyukur#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 17 Februari 2025



Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
