Mejaga Semangat Anak Ketika Cuaca Ekstrem
Hampir 4 hari ini Kota Medan diguyur hujan. Beberapa wilayah dikabarkan sudah terendam banjir. Kami yang berdomisili di Kecamatan Medan Denai, hingga hari ini 27 November 2025 kondisi masih tetap aman. Semoga tetap demikian. Aamiin.
Informasi dari BMKG yang menyampaikan bahwa di Sumatera utara kondisi cuaca ekstrem bertambah panjang, yaitu mulai 26 November – 2 Desember 2025, yang sebelumnya diprediksi sampai 30 November 2025. Kondisi global menunjukkan indeks IOD (Indeks Ocean Dipole) negatif masih bertahan hingga Desember 2025, sehingga uap air di pantai barat Sumut meningkat. Gelombang atmosfer yang aktif turut menambah pasokan air di wilayah Sumut sehingga potensi hujan masih tinggi.
(IOD adalah sebuah kondisi fenomena iklim di mana terjadi perbedaan suhu permukaan laut yang signifikan di Samudra Hindia, dengan dampak utama berupa peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat dan sekitarnya.)
Seperti yang terjadi pada hari ini. Hujan masih terus mengguyur kota kami. Jeda sesaat, seakan tak berarti karena kemudian disambung kembali. Sampai detik ini hujan masih terus datang bersusulan. Di grup-grup whatsApp pun ramai berseliweran berita banjir. Namun, selalu ada yang menarik dari setiap momen. Ada yang memunculkan empati, mendatangkan hikmah, tak luput juga kejadian lucu yang membuat senyum-senyum sendiri.
Di sekolah kami, banyak siswa yang tetap penuh semangat agar bisa sampai di sekolah meskipun pakaiannya harus basah kuyup. Ada yang masih menunggu, berharap dengan rasa cemas semoga hujan segera reda.
Banyak anak yang begitu ingin bisa ke sekolah. Begitu pun yang terjadi pada Muhammad Razka Agfi, putra sulung dari Fitria Mayasari, M.Pd., salah seorang guru Matematika SMA Negeri 14 Medan yang juga tempat penulis mengabdi. Kebetulan untuk mengetahui situasi dan kondisi sekitar sekolah, penulis chatingan dengan “Emaknya Razka” tadi.
Cerita pun meluas hingga ke Razka. Foto pun dikirimkan. Kondisi Razka sudah powerfull untuk berangkat sekolah sementara hujan tak kunjung reda. Posisi Razka dari mulai siap tempur dengan mantelnya hingga rebahan penuh resah sungguh mengulik rasa untuk menuliskannya (Hehehe).
Semangat untuk belajar ke sekolah sangat kuat, namun cuaca seakan mematahkan kekuatan itu. Menunggu driver online, tak jua membuahkan hasil. Ditambah kompor meleduk dari sang adik yang ngomong, “Sekolah abang sudah ditutup.” Si Emak pun merasa enggak bisa jadi Avatar untuk mengendalikan air, lengkaplah sudah. Akhirnya Razka tak bisa berangkat ke sekolah. Menelungkup di lantai masih dengan seragam sekolahnya. Merajuk. Alamaak.
Situasi anak seperti yang dihadapi Razka kerap terjadi. Penulis pun mengalami hal yang sama dengan cucu-cucu yang keras keinginannya untuk tetap ke sekolah dalam kondisi cuaca ekstrem. Jika ini terjadi, orang tua harus bisa menjelaskan kepada anak. Mengingat usia mereka yang tentu saja belum bisa menjaga dirinya dengan baik dalam kondisi cuaca sedemikian.
Kita jelaskan kepada mereka bahwa cuaca ekstrem adalah kondisi berbahaya yang dapat membuat mereka tidak aman di jalan, bahkan bisa membuat mereka sakit. Fokuskan penjelasan pada keselamatan mereka di atas segalanya dan biarkan mereka tahu bahwa tidak masalah jika harus tidak masuk sekolah hari itu.
Kita bisa menyampaikan pesan seperti ini, “Nak, hari ini cuaca sangat tidak baik, ada hujan lebat dan angin kencang. Jalan menuju sekolah bisa berbahaya dan kamu bisa sakit kalau keluar. Jadi lebih baik kita libur dulu dan tetap di rumah supaya aman. Nanti setelah cuaca membaik, kita bisa sekolah lagi ya".
Gunakan bahasa yang mudah mereka mengerti. Jelaskan bahwa cuaca ekstrem (panas ekstrem, banjir, angin kencang) bisa berbahaya bagi tubuhnya. Tekankan bahwa kesehatan dan keselamatan mereka lebih penting daripada sekolah saat cuaca buruk. Jelaskan secara spesifik bahaya yang ada, seperti kemungkinan banjir di jalan, risiko tergelincir, atau tertimpa pohon tumbang.
Jangan lupa tunjukkan empati. Terima perasaan anak jika mereka sedih atau kecewa karena tidak bisa pergi ke sekolah. Ajak mereka melakukan aktivitas lain di rumah yang menyenangkan untuk mengalihkan rasa kecewanya. Kemudian beri mereka informasi yang jelas. Beritahu anak bahwa keputusan libur ini adalah keputusan sementara dan mereka akan kembali ke sekolah setelah cuaca membaik.
Kita juga dapat mengajak anak melakukan kegiatan di dalam ruangan seperti membaca buku, bermain permainan papan, atau menggambar untuk mengisi waktu mereka.
Berikut ini contoh kalimat yang bisa digunakan agar mereka menerima keputusan kita untuk tidak berangkat ke sekolah :
"Sayang, hari ini cuacanya sangat tidak baik untuk kita pergi ke sekolah. Ada hujan yang sangat deras. Kalau kita keluar bisa basah kuyup dan masuk angin. Kamu bisa sakit. Kita ambil keputusan untuk tidak pergi dulu ya."
Atau seperti berikut ini :
"Mama lihat di TV, Fb, Titok, sekarang banyak tempat yang banjir. Jalan menuju sekolah mungkin tergenang dan berbahaya untuk kita lalui. Jadi lebih baik kita tetap di rumah hari ini agar lebih aman."
Tentu saja hal ini kita lakukan agar anak bisa menerima alasan mengapa kita tidak memenuhi keinginan mereka untuk pergi ke sekolah. Membiasakan mereka berpikir kritis menghadapi situasi dan kondisi bahwa suatu tindakan dilakukan dengan alasan yang kuat.
Semoga hujan yang turun membawa keberkahan. Aamiin.
#cuacaekstremsumut#
#hujantakkunjungreda#
#jagalingkungan#
#tetapsemangatjagakesehatansenantiasaberdoa#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 27 November 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
