Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Tak Hanya Mulia Dalam Syair

Tak Hanya Mulia Dalam Syair

Keputusan Presiden No. 78 Tahun 1994 menetapkan Hari Guru Nasional diperingati setiap 25 November. Penetapan ini sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada para pendidik yang telah mengabdikan diri dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Peringatan Hari Guru lahir dari kesadaran bahwa peran guru sangat besar dalam membangun peradaban. Melalui didikan mereka, lahir pribadi-pribadi yang berilmu, berakhlak, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan negara. Guru harus tetap bekerja dan setia menjalankan amanah dengan tulus serta penuh dedikasi meski dalam keterbatasan fasilitas, tantangan zaman, dan perubahan teknologi yang cepat.

Guru sebagai pembangun insan cendekia, namanya diagungkan dalam syair, dipuji dalam himne dan dihormati dalam setiap upacara. Namun sesungguhnya, kemuliaan seorang guru tidak berhenti pada bait lagu atau lirik penghormatan. Kemuliaan itu hidup dalam setiap napas perjuangan yang mereka jalani, dalam ruang kelas, dalam senyum yang menyembunyikan lelah, dan dalam kesabaran yang tak tercatat oleh siapa pun.

Guru tetap berdiri tegak ketika dunia berubah begitu cepat. Mereka menata hati ketika banyak yang meremehkan profesinya. Mereka tetap hadir, hari demi hari, mengukir masa depan lewat kata-kata, keteladanan, dan doa yang tak pernah mereka suarakan.

Di setiap upacara, nama guru dielu-elukan. Di setiap peringatan, jasanya dinyanyikan. Namun, diam-diam ada resah yang tumbuh di sudut hati seorang guru. Bukan tentang pagi yang datang terlalu cepat, bukan pula tentang tugas yang harus diemban. Sekali lagi, bukan tentang lelah yang menumpuk. Melainkan tentang sebuah kemuliaan yang sering digaungkan dalam semarak seremonial.

Tak nyana tiap kali tatanan acara usai, ketika tirai acara ditutup dan lampu panggung dimatikan bersamaan redupnya sorak-sorai, Ia kembali menjadi sosok biasa. Ia berjuang di ruang kelas yang kadang terlalu sempit untuk menampung besarnya cita-cita.

Rasa khawatir sering menyelinap di hati. Khawatir jika kemuliaan itu hanya tinggal lirik indah yang mengalun merdu. Namun tak pernah benar-benar menyentuh yang menjalani.

Rasa takut menyergap. Mengulik rasa. Jangan-jangan kata “pahlawan tanpa tanda jasa” hanya akan menjadi pujian yang kosong belaka. Karena pahlawan pun butuh didengar, butuh dihargai, bukan sekadar diingat setahun sekali. Namun, di balik gelisah itu, guru tetap berdiri. Dengan papan tulis sebagai saksi, sepotong penghapus yang kian menipis, ia terus menanam masa depan meski tidak selalu dilihat.

Pada akhirnya, yang meneguhkan langkahnya bukan gemuruh tepuk tangan, bukan pula syair lagu. Melainkan keyakinan sederhana bahwa setiap huruf yang ia ajarkan adalah doa yang bergerak. Setiap nilai yang ia tanam adalah cahaya yang kelak menyelamatkan.

Mungkin, suatu hari nanti kemuliaan itu tak lagi hanya dinyanyikan, tetapi dihayati dalam perlakuan, dalam penghargaan, dalam kebijakan, dalam perhatian. Hingga saat itu tiba, seorang guru tetap mengajar dengan hati yang kadang khawatir, namun selalu tulus.

SELAMAT HARI GURU NASIONAL KE-80

GURU HEBAT INDONESIA KUAT

#hgn2025#

#guruhebatindonesiakuat#

#pembanguninsancendekia#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

Murni Teguh Memorial Hospital, Ruang Hemodialisis lt.5, 24 November 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post