Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Melawan Batas Keterbatasan
Suasana upacara bendera pada Senin 20 April 2026 di SMA Negeri 14 Medan. (sumber : fitriyenihtbrt)

Melawan Batas Keterbatasan

Melawan Batas Keterbatasan

Seperti biasa setiap awal pekan selalu diawali dengan upacara bendera. Suasana pagi ini lumayan teduh. Sinar sang surya tak terlalu terik namun cukup hangat untuk membangkitkan energi guna memulai aktivitas. Di SMA Negeri 14 hari Senin 20 Apri 2026 merupakan hari pertama kembali memulai aktivitas belajar bagi kelas 10 dan 11 setelah hampir 2 pekan belajar di rumah disebabkan kelas 12 melaksanakan asesmen akhir sekolah.

Bertindak sebagai pembina upacara adalah Melky Gunawan Harefa , S.Pd., wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Suasana terasa tenang dan barisan siswa terlihat rapi. Rangkaian tertib acara berjalan dengan baik. Dalam kesempatan ini pembina upacara mengangkat tema yang sedang viral yaitu dua mahasiswa asal Sumatera Utara yang bernama Albert Lukas Pithel Hasugian (SBM ITB): anak sopir angkot trayek 07 Medan Amplas-Tembung dan Zulfi Harahap (Teknik Metalurgi ITB) anak kuli bangunan dari Langkat sebagai wisudawan terbaik dan terpilih sebagai Valedictorian atau perwakilan wisudawan untuk memberikan pidato di hadapan ribuan peserta wisuda serta jajaran senat ITB.

Hal apa yang membuat keduanya viral? Tak lain karena perjuangan mereka yang sangat menginspirasi dan memotivasi. Dalam pidatonya, Albert Lukas Pithel Hasugian dengan bangga mengatakan bahwa keluarganya hidup dalam keterbatasan. Ayahnya seorang sopir angkot di Kota Medan trayek 07 jurusan Tembung-Amplas. Namun dalam keterbatasan hidup mereka yang selalu diliputi perasaan tidak akan mampu mencapai pendidikan yang tinggi, mamanya selalu menguatkan dengan kalimat : “Kita usahakan.”

Apalagi bagi orang Batak ada filosofi “ Anakkonhi do hamoraon di au" yang berarti "Anakku adalah kekayaanku". Ungkapan ini merupakan prinsip hidup utama yang menegaskan bahwa anak adalah harta paling berharga, kehormatan, dan kebanggaan tertinggi bagi orang tua, melebihi kekayaan materi. Orang tua rela bekerja keras, membanting tulang, bahkan hidup pas-pasan demi pendidikan anak-anak agar sukses dan tidak tertinggal. Keberhasilan anak dianggap sebagai martabat dan kebanggaan keluarga. Ungkapan ini sangat mendarah daging dan menjadi motivasi utama orang tua Batak dalam merawat dan mendidik anak-anak mereka.

Begitu pula Zulfi Harahap yang berhasil lulus tercepat hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cumlaude. Tak jauh beda dengan Albert, Zulfi berasal dari keluarga yang juga dengan keterbatasan ekonomi, ayahnya adalah seorang kuli bangunan. Kedua mahasiswa yang tentu saja menjadi kebanggaan Sumatera Utara dan terkhusus keluarga mereka, menghadapi jalan yang penuh tantangan dalam menyelesaikan studi mereka. Usaha dan kerja keras mereka berbuah manis, prestasi mereka tak hanya berhenti di meja sidang. Sebelum resmi menyandang gelar sarjana, mereka sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan multinasional.

“Anak-anak yang kami banggakan, kisah ini menunjukkan bahwa setiap anak punya hak untuk sukses di masa depannya. Namun hak untuk sukses itu dibarengi dengan memenuhi kewajiban yaitu belajar dan berusaha. Mama Lukas selalu mengatakan “kita usahakan” karena hal yang diusahakan oleh Lukas sangat jelas yaitu pendidikannya. Itu juga yang harus kamu lakukan. Tidak ada hal yang dapat mengubah hidup kita kecuali pendidikan. Tugas kamu sekarang adalah memperjuangkan cita-citamu terwujud melalui pendidikan dengan melawan batas keterbatasan yang ada.” Demikian pembina upacara menekankan pesan moral dari kisah inspiratif dua mahasiswa yang sedang viral saat ini.

Pada akhirnya, kerja keras yang dilakukan kedua mahasiswa hebat itu menemukan jalannya. Mereka mampu berdiri dengan penuh percaya diri di antara banyak orang hebat. Bukan sebagai yang paling beruntung, tetapi mereka membuktikan bahwa mereka mampu melewati batas keterbatasan. Bahwa keterbatasan bukanlah penghalang melainkan sebagai suport energy bagi pergerakan mereka dalam mewujudkan cita-citanya. Mereka mampu membuka mata semua orang bahwa anak sopir angkot dan kuli bangunan bisa melangkah jauh bahkan menjadi yang terbaik.

“Kisah ini bukan sekadar tentang siapa yang paling pintar. Ini tentang siapa yang paling bertahan, paling tekun, dan paling percaya bahwa mimpi layak diperjuangkan. Yang paling penting kita menyadari bukan dari mana kita berasal yang menentukan masa depan, tetapi seberapa kuat kita berani melangkah melampaui batas keterbatasan yang ada.”

#lewatibatasketerbatasan#

#wujudkanmimpidancita-cita#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 20 April 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post