Harapan dan Doa Orang Tua (Amanat Pembina Upacara)
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.
Yang sama-sama kita hormati ibu kepala sekolah SMA Negeri 14 Medan, ibu Eva Fitra Spd., M.Si, Kemudian, yang saya hormati bapak/ibu wakil kepala sekolah beserta staf. Selanjutnya, bapak/ibu dewan guru dan staf pegawai tata usaha. Dan tentunya seluruh siswa-siswi SMA Negeri 14 Medan yang kami banggakan.
Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya kita masih diberikan kesehatan sehingga dapat melaksanakan upacara pada pagi hari ini dengan baik. Harapannya, semoga dengan rutinitas pelaksanaan upacara bendera ini setiap Senin akan semakin menambah rasa nasionalis di dalam diri kita.
Terima kasih kita ucapkan kepada para petugas upacara yang sudah berlatih dan mempersiapkan diri dengan baik sehingga rangkaian upacara pada hari ini dapat terlaksana dengan baik pula.
Anak-anak sekalian,
Amanat pagi ini ibu mulai dengan cerita sederhana yang kita alami setiap hari terutama pada saat-saat tahun ajaran baru. Namun, meski pun sederhana, bagi kita yang punya hati dan mau berpikir, cerita ini memiliki makna yang dalam.
Ceritanya seperti ini :
Pagi itu, halaman sekolah penuh dengan pemandangan yang hampir selalu sama setiap tahun ajaran baru. Langkah-langkah kecil yang masih ragu, seragam yang masih kaku, dan genggaman tangan yang belum siap dilepas. Di antara keramaian itu, ada sosok yang sering luput dari perhatian setelah beberapa waktu berlalu yaitu orang tua yang mengantarmu.
Mereka berdiri sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Menatap punggungmu yang berjalan masuk ke gerbang sekolah. Ada harap yang mereka titipkan di setiap langkahmu, ada doa yang diam-diam mereka ucapkan saat kamu tak lagi menoleh.
Hari itu, banyak di antara kamu yang masih merasa canggung. Masih rajin, masih takut salah, masih ingin terlihat baik. Kamu datang tepat waktu, mengikuti aturan, mendengarkan guru dengan saksama.
Namun waktu punya cara sendiri untuk menguji. Kami para guru menyaksikan bahwa setiap tahun, awalnya semua seperti ini rapi, semangat dan patuh. Namun beberapa waktu kemudian ada yang berubah. Rasa itu bisa memudar. Semangat bisa tergeser oleh rasa malas. Perhatian bisa tergantikan oleh pergaulan yang salah arah. Dan tanpa terasa, ada yang mulai berani bolos, mengabaikan tugas, bahkan terlibat dalam hal-hal yang dulu mungkin tak pernah terpikirkan seperti tawuran.
Anak-anakku,
Ibu tidak berdiri di sini untuk menunjuk siapa yang salah, yang berubah arah, dan bukan untuk menghakimi. Tidak. Amanat ini adalah untuk kita semua.
Karena sejatinya, setiap kita adalah bagian dari wajah sekolah ini. Apa yang dilakukan oleh satu orang, bisa berdampak pada nama baik banyak orang.
Anak-anakku,
Mari sejenak kita ingat. Siapa yang pertama kali mengajari kita bicara, menggenggam tangan kita saat belajar berjalan? Dan sangat khawatir ketika kita terjatuh. Siapa yang bangun lebih pagi, menyiapkan kebutuhan kita, memastikan kita bisa berangkat sekolah dengan baik? Siapa yang diam-diam berdoa agar kita selamat, berhasil, dan menjadi kebanggaan?
Mereka adalah orang tua kita.
Namun sering kali, dalam satu emosi sesaat, dalam satu keputusan yang tidak dipikirkan panjang, kita lupa pada mereka.
Padahal, ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ketika masalah menjadi besar, bahkan sampai ke ranah hukum, siapa yang dipanggil pertama kali?
Bukan kita sendiri. Tetapi orang tua kita.
Mereka yang harus datang, mereka yang harus menjelaskan, mereka yang harus menanggung rasa malu, cemas, dan takut.
Ingat, anak-anakku, Saat ini kalian masih dalam proses menjadi dewasa. Kalian belum sepenuhnya memikul tanggung jawab itu sendiri. Setiap tindakan kalian, selalu ada orang tua yang ikut menanggung akibatnya.
Lalu pertanyaannya, sudahkah kita menjaga mereka sebagaimana mereka menjaga kita?
Anak-anakku,
Menjadi pelajar bukan hanya tentang hadir di kelas, mengerjakan tugas, atau mendapatkan nilai. Menjadi pelajar adalah tentang mengendalikan diri, tentang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang hanya mengikuti emosi sesaat, dan tentang bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kita ambil.
Konflik itu wajar. Perbedaan itu pasti ada. Tetapi cara kita menyikapinya, itulah yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
Orang hebat bukan yang paling kuat memukul, tetapi yang paling mampu menahan diri.
Orang berpendidikan bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling bijak sikapnya.
Dan siswa yang membanggakan bukan yang paling ditakuti, tetapi yang paling bisa menjaga diri, keluarga, dan nama baik sekolahnya.
Hari ini, Ibu ingin kita semua kembali pada satu kesadaran, bahwa kita tidak hidup sendiri. Ada nama orang tua yang kita bawa. Ada nama sekolah yang kita jaga. Dan ada masa depan yang sedang kita bangun.
Jangan biarkan waktu menghapus rasa hormatmu. Jangan biarkan pergaulan mengubah arah langkahmu. Dan jangan pernah menganggap sepele pengorbanan yang mungkin tak pernah orang tua ceritakan.
Kamu boleh tumbuh, kamu boleh berubah, tapi jangan sampai berubah menjadi seseorang yang melupakan asalnya.
Sekarang, Ibu minta kalian lakukan satu hal. Tutup mata kalian sebentar. Bayangkan wajah orang tua kalian pagi ini, ingat tatapan mereka, harapan mereka.
Sekarang, buka mata kalian dan jawab dalam hati pertanyaan ibu. kalian mau jadi kebanggaan atau kekecewaan?
Kalau mau jadi kebanggaan, kita buktikan semangat itu bersama!
Ikuti Ibu, jawab dengan lantang!
Kalau Ibu bilang: Orang Tua! Kalian jawab: Harapan Kita!
Orang Tua! (“Harapan Kita!”)
Sekali lagi!
Orang Tua! (“Harapan Kita!”)
Sekarang!
Kalau Ibu bilang: Masa Depan! Kalian jawab: Tanggung Jawab Saya!
Masa Depan! (“Tanggung Jawab Saya!”)
Lebih keras!
Masa Depan! (“Tanggung Jawab Saya!”)
Terakhir!
Kalau Ibu bilang: SMAN 14! Kalian jawab: Siap Berprestasi!
SMAN 14! (“Siap Berprestasi!”)
Sekali lagi yang paling semangat!
SMAN 14! (“Siap Berprestasi!”)
Baiklah, anak-anak ibu, mari selalu ingat cerita itu ya. Dan buktikan bahwa kalian adalah kebanggaan orang tua dan kebanggaan SMA Negeri 14 Medan.
Akhir kata kepada seluruh hadirin saya mohon maaf dan kepada Allah SWT saya mohon ampun untuk kesalahan dan kekhilafan yang terjadi.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.
#upacarabenderatingkatkannasionalisme#
#harapandandoaorangtua#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, Senin 27 Juli 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan