Ketika Memori Hati Terlalu Penuh
Sudah sepekan ini aplikasi whatsApp di ponselku tak bisa dibuka.Hari gini nggak bisa buka whatsApp, hidup kayaknya jalan di tempat, nggak jalan. Buta informasi apa pun. Hehehe...lebay.Lantas, kubawa ke konter ponsel terdekat, jawabannya sederhana: “Kepenuhan, Bu. Muatannya terlalu banyak, jadi berat.”
Aku terdiam. Bukan karena ponselku yang bermasalah ini, tapi karena tiba-tiba aku merasa, jangan-jangan hidup kita juga sering begitu.
Klik. Aku jadi terinspirasi, jangan-jangan kita ini seperti aplikasi. Setiap hari menerima “pesan” yang beraneka ragam. Ada pesan tentang pekerjaan, keluarga, harapan, kekecewaan, bahkan luka yang belum selesai. Semua kita simpan. Semua kita biarkan menumpuk. Tanpa pernah benar-benar kita “bersihkan”.
Akhirnya, pelan-pelan kita mulai “lemot”, ya “lemot” seperti gawai yang memorinya kepenuhan. Sehingga, hati pun terasa berat. Pikiran mudah lelah. Langkah terasa tertatih. Bukan karena kita lemah, tapi karena terlalu banyak yang kita simpan.
Kadang kita lupa, bahwa seperti whatsApp yang butuh ruang, hati kita juga butuh ruang kosong. Ruang untuk memaafkan yang menyakiti, melepaskan yang tak bisa dimiliki, mengikhlaskan yang sudah pergi, dan berhenti memikirkan hal-hal yang di luar kendali. Karena jika tidak, hidup kita bisa “error” tanpa kita sadari. Hihihi...error kayak hp yang kepenuhan.
Maka, mungkin hari ini kita perlu belajar menghapus yang tak perlu, menyimpan yang penting, dan merapikan kembali isi “memori” hati kita.
Tidak semua harus kita bawa. Tidak semua harus kita pikirkan. Tidak semua harus kita pertahankan. Sebab hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita simpan, tetapi seberapa ringan kita bisa melangkah.
Jika aplikasi saja bisa kembali normal setelah dibersihkan, maka hati kita pun akan kembali tenang saat kita belajar melepaskan.
Dan.., mungkin itulah cara Allah mengingatkan kita, bahwa kadang yang kita butuhkan bukan tambahan, melainkan pengurangan.
#edisikiatkanhati#
#selfreminder#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 26 Juli 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
