Saat Me Time Menjelma Doa di Ruang Tunggu HCU
Sehabis sholat subuh tadi, aku keluar dari ruang tunggu HCU (High Care Unit) keluarga pasien. Langkahku pelan, seakan masih tertinggal bersama doa-doa yang kupanjatkan dalam diam. Meski hanya duduk menunggu panggilan dari dalam ruang HCU, aku sadar menjadi keluarga pasien membutuhkan energi yang luar biasa. Bukan hanya tenaga, tapi juga hati yang kuat dan doa yang tak boleh putus.
Perlahan langkahku menyusuri tangga darurat rumah sakit, karena sepagi ini lift belum diaktifkan. Satu per satu anak tangga kutapaki menuju halaman depan rumah sakit. Udara pagi terasa sejuk. Sang surya pun masih malu-malu memancarkan sinarnya.
Di depan rumah sakit, penjual sarapan baru saja membuka lapaknya. Ku hampiri. Seorang ibu paruh baya tersenyum ramah, tangannya cekatan menyiapkan pesanan pertama pagi itu. Kulihat ia dibantu anak gadisnya. Uap hangat dari panci mengepul pelan, seolah ikut menghangatkan suasana subuh yang masih menggigil.
“Ibu mau pesan apa?” tanyanya ramah. “Nasi gurih, Bu.” Jawabku setelah sejenak berpikir. “Pakai telur, Bu?” tanyanya kembali dengan lembut. Aku mengangguk pelan. “Iya, telur mata sapi, bu.” sambungku.
Tak lama, seporsi sarapan sederhana berpindah ke tanganku. Hangatnya meresap hingga ke telapak, seperti energi kecil yang Allah titipkan lewat makanan pagi ini. Aku juga memesan segelas minuman cereal hangat.
Aku melangkah kembali menuju rumah sakit. Memutuskan tidak kembali ke ruang tunggu HCU, ketika melewati poliklinik BPJS yang masih lengang. Kupikir, diam sejenak di sini akan membuatku lebih tenang. Tambah lagi, kurasakan frekuensi pernapasan yang agak lebih cepat dari biasanya, istirahat menjadi pilihanku. Kulihat jam masih menunjukkan pukul enam pagi.
Aku duduk di deretan kursi poliklinik yang masih kosong. Tak ada hiruk pikuk. Tak ada suara selain detak waktu yang berjalan pelan. Di tanganku, segelas cereal hangat menjadi teman sederhana. Kuseruput perlahan, menghadirkan sedikit kehangatan di tengah dinginnya pagi dan dinginnya rasa cemas yang tak sepenuhnya bisa kuusir. Ya Allah, beri kami kesehatan dan kekuatan.
Setelah itu, kubuka perlahan bungkus sarapan, lalu menikmatinya dengan pelan. Di antara suapan itu, tak ada percakapan. Hanya aku, pagi yang hening, dan doa-doa yang terus mengalir dalam diam. Aneh rasanya di tempat penuh kecemasan ini, justru kutemukan sepotong “me time” yang begitu jujur. Bukan tentang kesenangan. Bukan pula tentang kebebasan.Tapi tentang berhenti sejenak, menarik napas dan menyerahkan segala yang tak mampu kukendalikan kepada-Nya.
Setelah kurasa cukup, aku kembali ke ruang tunggu HCU. Mataku menatap pintu HCU yang tertutup rapat. Di baliknya, ada harapan yang terus kupanggil dalam doa.
Langkah petugas mulai terdengar. Wajah-wajah serius berlalu dengan tanggung jawab besar di pundak mereka. Aku hanya bisa memandang, lalu kembali menunduk, melanjutkan percakapan sunyi dengan Rabb-ku. “Ya Allah… Engkau yang Maha Menyembuhkan, pulihkanlah ia, kuatkanlah ia, dan kuatkan pula aku dalam penantian ini.”
Pagi mulai beranjak. Cahaya perlahan menyusup dari jendela. Ruang tunggu pun mulai dipenuhi aktivitas pagi. Ada yang bergantian ke kamar mandi, berbenah tikar-tikar yang dipakai tidur tadi malam, sebagian menikmati sarapan ditimpali suara perawat memanggil keluarga pasien. Masing-masing sibuk. Namun ada rasa yang tetap sama. Sama-sama masih menunggu, masih berdoa.
Tak apa jika hari ini belum ada kabar. Tak apa jika penantian ini terasa panjang. Selama Allah masih memberikan kekuatan untuk bertahan, aku akan tetap di sini, menjaga harap dan merawat doa.
Hingga akhirnya, aku dipanggil. Langkahku terasa berbeda kali ini, lebih berat, namun juga lebih pasti. Penjelasan dokter masih terngiang jelas tentang pembuluh yang menyempit, tentang aliran yang harus diperbaiki, tentang sebuah tindakan besar bernama bypass jantung.
Aku mendengarkan dengan teliti penjelasan dokter, takut ada yang terlewati. Di antara semua istilah itu, yang paling nyaring justru suara hatiku sendiri, bergetar dan takut. Namun perlahan dikuatkan oleh keyakinan.
Kupandangi kembali pintu HCU itu. Di baliknya, ada separuh jiwaku. Di ruang tunggu ini, aku akhirnya mengerti bahwa cinta bukan hanya tentang menemani dalam tawa, tetapi juga tentang berani mengambil keputusan di tengah ketakutan. Aku menarik napas panjang. “Ya Allah… aku titipkan segalanya pada-Mu.”
Dengan langkah yang mungkin masih gemetar, namun hati yang mulai mantap, aku memilih untuk percaya. Percaya pada ikhtiar terbaik. Percaya pada tangan-tangan dokter sebagai perantara. Dan percaya pada takdir Allah yang selalu membawa kebaikan. Hari ini aku tidak lagi hanya menunggu. Aku memutuskan bahwa kami akan melangkah menuju harapan yang lebih besar.
Di ruang tunggu HCU ini, “me time”-ku telah berubah makna bukan lagi sekadar jeda dalam sunyi, melainkan titik balik keberanian untuk memilih, untuk percaya, dan untuk berserah sepenuhnya. Karena cinta, pada akhirnya, adalah keberanian yang bersandar penuh kepada-Nya.
#edisikuatkanhati#
#hcubypassjantung#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
RS. MURNI TEGUH, HCU -lt.3, 10Juli 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
