Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Becak Tua dan Sebuah Pelajaran Tentang Rasa Syukur
Gambar ilustrasi AI

Becak Tua dan Sebuah Pelajaran Tentang Rasa Syukur

Suatu siang Bu Arin pergi ke pasar tradisional. Seperti biasa, ia menumpang bajaj.

Saat pulang, baru saja akan melangkah keluar dari gerbang pasar, seorang tukang becak menghampirinya dan menawarkan jasa untuk mengantar Bu Arin pulang.

Kondisi becaknya yang sudah tua dan reot bahkan pelat kendaraannya pun sudah tidak ada, membuat Bu Arin sempat ragu. Namun hati kecilnya berbisik, “Jika aku menolaknya, bagaimana ia bisa memberi makan keluarganya?” Akhirnya Bu Arin pun mengangguk, menyetujui tawaran itu.

Seketika wajah abang becak itu berubah. Matanya berbinar. Dengan penuh semangat ia mengangkat belanjaan Bu Arin dan menyusunnya dengan hati-hati di dalam becak.

Bu Arin naik, duduk, dan menunggu. Namun becak itu belum juga berjalan. “Sebentar ya, Bu…” ucapnya lirih. Ia mendorong becaknya perlahan. Bu Arin heran, tapi memilih diam. Hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah penjual minyak eceran.

Dengan suara pelan dan wajah tersaput rasa malu, tukang becak itu berkata, “Bisa saya pinjam uang ibu dulu dua belas ribu untuk beli minyak?” Bu Arin terdiam. Bingung, sekaligus tersentuh.

“Boleh, Pak…” jawab Bu Arin masih dalam kebingungan, sambil menyerahkan uang yang diminta. Dan di saat itulah Bu Arin memahami sesuatu. Ternyata, becak yang ditumpanginya tidak ada minyaknya. Bukan karena tukang becak itu lupa mengisi, tapi karena ia tidak punya uang untuk membeli minyak.

“Ya Allah.., sementara di dunia yang sama, ada orang-orang yang hidup berlimpah harta, namun masih tega mengambil yang bukan haknya dengan jalan korupsi. Sedangkan di hadapanku ini, seorang bapak sedang berjuang mencari nafkah halal, meski harus meminjam lebih dulu dari penumpangnya.” Bisik hati Bu Arin.

Perjalanan itu terasa sunyi. Bukan karena jalanan sepi, tapi karena hati Bu Arin sedang dipenuhi banyak hal yang tak bisa diucapkan. "Sudah sampai, Bu… ongkosnya potong saja dari uang yang saya pinjam tadi.” Bu Arin tersentak dari lamunannya. “Tidak usah, Pak. Itu rezeki bapak dari Allah. Ini ongkosnya.” Ucap Bu Arin sambil menyerahkan selembar lima puluh ribuan, jumlah yang Bu Arin lebihkan dari yang seharusnya ia bayar.

Ia menerimanya dengan wajah penuh haru. Ucapan terima kasih dan doa untuk Bu Arin berulang kali diucapkannya. Namun justru di saat itulah hati Bu Arin terasa sesak. Bukan karena kehilangan uang, tapi karena sadar kalau masih sering mengeluh atas hidup yang sebenarnya sudah jauh lebih cukup.

Hari itu Bu Arin belajar bahwa di luar sana, ada orang yang untuk memulai bekerja saja harus berutang terlebih dahulu. Ada orang yang tetap memilih jalan halal, meski hidupnya begitu sempit. Dan ada pula yang sering lupa bersyukur, padahal hidupnya jauh lebih lapang.

Maka jika hari ini masih bisa makan tanpa berutang, masih bisa bekerja tanpa harus meminjam lebih dulu, masih bisa pulang tanpa memikirkan esok harus bagaimana, apa lagi yang belum kita syukuri?

“Ya Allah… ajarkan kami untuk cukup. Ajarkan kami untuk jujur. Dan jangan biarkan hati ini keras hingga lupa bersyukur.”

Dari sebuah becak tua, hari ini Bu Arin belajar bahwa rezeki bukan hanya tentang banyaknya, tetapi tentang keberkahan dan kejujuran di dalamnya. Bu Arin mengusap titik bening yang hampir saja mengalir dari sudut matanya. Sambil berbenah barang belanjaannya, “Ya Allah, aku tidak bisa membantu mengubah kesulitan ekonominya, hanya doa yang kupanjatkan kepada-Mu ya Robb, berikan ia kesehatan, luaskan dan berkahilah rezekinya sehingga ia selalu bisa memberikan nafkah yang halal bagi keluarganya.” Doa tulus Bu Arin untuk tukang becak yang perlahan hilang dari pandangannya.

#edisikuatkanhati#

#hatiyangselalubersyukur#

#rezekiyangluasdanberkah#

Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 2 Agustus 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post