Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
BERBURU RUPIAH DARI KOTA KE KOTA
Suasana lomba Tebak Kota di ruang guru SMA Negeri 14 Medan pada hari Jumat 14 Agustus 2026. (Dokumen pribadi)

BERBURU RUPIAH DARI KOTA KE KOTA

Pagi itu, kantor guru SMA Negeri 14 Medan terasa sedikit berbeda. Suasana kerja yang biasanya dipenuhi suara percakapan tentang pembelajaran, murid yang masuk meletakkan buku tugas di meja guru, dan kesibukan masing-masing, mendadak berubah menjadi arena yang penuh rasa penasaran.

Kami sedang menunggu anak-anak OSIS mempersiapkan berbagai perlombaan dalam rangka Gebyar HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Tiba-tiba kepala sekolah masuk dan menginisiasi sebuah perlombaan yang sederhana, tetapi ternyata cukup membuat otak para guru bekerja keras. Hihihi. Namanya “Tebak Kota.”

Aturannya sebenarnya tidak rumit. Ade Syafrina wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana menjelaskan aturan dan memimpin jalannya perlombaan. Di smart board akan dituliskan sebuah kata atau frasa dalam bahasa Inggris. Tugas peserta adalah mencari arti kata tersebut, kemudian menghubungkannya dengan nama salah satu kota di Indonesia.

Sederhana? Ternyata, tidak sesederhana itu! Hehehe. Coba saja ketika dituliskan kata “RARE-T”di smart board, peserta mulai berpikir.

Rare artinya apa?” aku bertanya pada Fitria Mayasari guru Matematika yang berdiri tepat di sampingku. “Jarang.” Jawabnya. Kami masih berpikir, ketika dari depan sudah disebutkan salah satu nama kota : “LANGKAT”. Kok Langkat ? Dahi pun mengernyit. Kayak jeruk purut. Hihihi. Ooo..., jarang sama dengan langka, terus ada tambahan huruf T nya, jadilah

LANGKAT! “BENAAAR!”

Seketika suasana pecah, walau belum sepenuhnya mengerti. Ada yang tertawa, ada yang bertepuk tangan, ada yang mulai memasang wajah serius, dan ada pula yang langsung berpikir, “Wah, ini bisa jadi sumber rupiah!” Wkwkwk.

Bagaimana tidak? Setiap satu jawaban benar dihargai Rp10.000 oleh kepala sekolah. Sepuluh ribu rupiah! Satu soal sepuluh ribu. Dua soal dua puluh ribu. Empat soal empat puluh ribu. Kalau berhasil menjawab sepuluh soal? Wah… lumayan untuk membuat dompet tersenyum. Hahaha!

Sejak saat itu, permainan berubah menjadi lebih seru. Kata berikutnya muncul.

AREA. Kami mulai berpikir.

“Area itu daerah, wilayah…”

Lalu, seseorang meneriakkan nama sebuah kota. Dia, Syarifah Aini, guru kimia : “Aku tahu.” Teriaknya. “MEDAN!” Benar!

Belum sempat suasana tenang, muncul lagi kata berikutnya:

BAD LUCK.Bad luck artinya apa?” “Sial!” “Nasib buruk!” Lalu, dari antara kerumunan terdengar jawaban: “MALANG!” Benar lagi!

Tepuk tangan kembali terdengar. Dan sejak saat itu, kami benar-benar seperti sedang berburu.

Bukan berburu rusa. Bukan berburu harta karun. Tetapi, BERBURU RUPIAH DARI KOTA KE KOTA!

Yang menarik, semakin banyak soal yang diberikan, semakin sulit pula kami mempertahankan ketertiban. Berbagai kata dituliskan, berbagai nama kota bermunculan : Berastagi, Siantar, Kabanjahe, Batam, buanyaaak lagi.

Kepala sekolah sebenarnya sudah meminta kami untuk berbaris. Tetapi rupanya, sepuluh ribu rupiah memiliki daya tarik yang cukup kuat untuk membuat barisan kehilangan bentuk. Hahaha!

Awalnya masih berusaha rapi. Lama-lama mulai merapat. Yang berada di belakang maju ke depan. Yang tadinya duduk mulai berdiri. Yang merasa tahu jawabannya langsung mengangkat tangan. Ada yang baru mendengar soal sudah berteriak. Ada yang masih menerka-nerka. Ada pula yang hanya ikut mendengarkan sambil berharap keberuntungan tiba-tiba menghampiri. Hihihi.

Akhirnya, barisan tidak terbentuk. Yang terbentuk justru GEROMBOLAN GURU! 😂😂

Lucunya, tidak ada yang benar-benar peduli lagi dengan posisi berdiri. Semua sibuk mengejar satu hal siapa cepat, dia dapat! Mungkin ada sedikit gengsi juga. Bagaimana kalau sudah mendapat giliran tetapi ternyata tidak bisa menjawab? Daripada malu, lebih baik menunggu di kerumunan sambil mengamati. Tetapi kalau sudah yakin, tangan langsung terangkat! Serrruuu.

Suasana kantor guru yang biasanya penuh keseriusan mendadak berubah menjadi penuh gelak tawa. Dan justru di situlah keseruannya. Kami yang setiap hari berdiri di depan kelas, meminta siswa untuk tertib, fokus, dan mengikuti aturan, pagi itu justru mengalami sendiri bagaimana rasanya terbawa suasana permainan.

Kami lupa sejenak pada rutinitas, lupa pada kesibukan, lupa bahwa beberapa saat sebelumnya kami sedang menunggu perlombaan yang sedang disiapkan oleh anak-anak OSIS. Yang kami ingat hanya satu : kata apa lagi yang akan muncul dan kota apa yang harus kami temukan?

Menariknya, permainan ini bukan hanya menguji kemampuan berbahasa Inggris. Kami juga dipaksa berpikir cepat, menghubungkan makna kata dengan nama tempat, dan tentu saja sedikit mengandalkan keberanian.

Sebab tahu jawabannya saja tidak cukup. Harus berani mengangkat tangan! Dan tentu saja, ada imbalannya. Sepuluh ribu rupiah! 😂 Bagi sebagian orang mungkin jumlah itu tidak seberapa. Tetapi dalam sebuah permainan, sepuluh ribu rupiah bisa berubah menjadi penyemangat yang luar biasa. Apalagi kalau sudah berhasil mengumpulkan beberapa lembar.

“Berapa dapat?”

“Dua puluh ribu.”

“Kalau aku empat puluh ribu!”

“Wah, lumayan!”

Obrolan sederhana seperti itu pun kembali mengundang tawa. Hari itu kami belajar satu hal yang mungkin sederhana, tetapi terasa begitu menyenangkan: orang dewasa pun tetap membutuhkan ruang untuk bermain.

Guru tidak selalu harus berada dalam suasana serius. Sesekali kami perlu tertawa bersama. Sesekali kami perlu menjadi peserta yang berebut menjawab. Sesekali kami perlu membiarkan barisan menjadi berantakan, asal hati justru semakin dekat.

Mungkin itulah salah satu makna kemerdekaan yang kami rasakan pagi itu. Bukan sekadar upacara, perlombaan, atau kemeriahan menyambut hari kemerdekaan. Tetapi juga tentang kebersamaan. Tentang tawa yang tidak dibuat-buat. Tentang rekan kerja yang tiba-tiba menjadi teman sepermainan. Tentang kantor guru yang untuk beberapa saat berubah menjadi arena petualangan kecil menjelajah Indonesia melalui kata-kata.

Dari Langkat ke Medan. Dari Malang ke entah kota mana lagi. Hari itu, kami memang tidak pergi ke mana-mana. Kami tetap berada di kantor guru. Tetapi melalui permainan sederhana itu, kami seolah-olah melakukan perjalanan dari kota ke kota. Dan yang kami bawa pulang bukan hanya uang hadiah.

Kami membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu tawa, kebersamaan, dan sebuah kenangan kecil tentang bagaimana guru-guru SMA Negeri 14 Medan pernah menjadi “gerombolan pemburu kota” yang lupa berbaris karena terlalu asyik berburu rupiah.

Ah, ternyata kemerdekaan memang bisa dirayakan dengan banyak cara. Termasuk dengan BERBURU RUPIAH DARI KOTA KE KOTA. 💙💙💙

SELAMAT MERAYAKAN HUT RI ke 81, SEMAKIN JAYA DAN SEJAHTERA NEGERIKU.

#edisimerdeka#

#gebyarhutri81#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 14 Agustus 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post