KETENANGAN ITU BERNAMA OYEN
Pagi itu belum benar-benar sibuk, tapi kehidupan sudah dimulai dari sudut kecil di teras belakang rumah. Lima ekor kucing berwarna sama oyen semua, berkumpul dengan cara mereka sendiri. Tidak ada undangan, tidak ada janji, tapi mereka tahu waktu itu akan tiba yaitu waktu makan.
Dengan sabar yang tidak selalu terlihat sabar, mereka mengelilingi mangkuk-mangkuk kecil. Ada yang menunduk cepat, ada yang mencuri posisi, ada yang menunggu celah. Kadang berebut, kadang berbagi. Sederhana, tapi hidup.
Aku berdiri di dekat mereka, memperhatikan sambil sesekali berbicara, “Nanti ya… belum masak nasinya.” Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Tapi entah mengapa, terasa seperti percakapan yang utuh. Seolah mereka mengerti, atau mungkin justru aku yang merasa dimengerti.
Nasi putih yang kucampur dengan teri atau udang kecepe itu bukan sekadar makanan. Ada kebiasaan yang tumbuh pelan di dalamnya. Dari yang dulu sesekali, kini menjadi rutinitas kecil yang kucari. Bukan karena kewajiban, tapi karena ada ketenangan yang datang diam-diam.
Di tengah banyaknya peran yang harus dijalani, mengurus rumah, menjadi guru, mendampingi keluarga, ternyata ada ruang sederhana yang mampu menenangkan hati. Tidak besar, tidak mewah, hanya di teras belakang, di antara lantai yang sedikit basah dan mangkuk-mangkuk plastik yang berpindah-pindah.
Aku tahu batasnya. Mereka tidak masuk ke dalam rumah. Bukan karena tidak sayang, tapi karena kasih juga perlu dijaga dengan bijak. Menyayangi tidak selalu berarti memiliki sepenuhnya.
Melihat mereka makan dengan lahap, berebut tanpa marah yang lama, ada pelajaran kecil yang terselip. Tentang menerima, tentang cukup, tentang hadir di saat ini tanpa beban yang terlalu jauh.
Dan entah mengapa, ingatanku melayang pada satu kisah lama tentang seorang anak yang pernah menangis seharian karena kehilangan kucingnya. Kini ia tumbuh menjadi dokter hewan, merawat lebih banyak kehidupan yang tak bisa berbicara. Mungkin memang sejak dulu, rumah ini diam-diam menanam benih kasih itu.
Oyen-oyen itu tidak tahu siapa aku sebenarnya. Mereka tidak tahu lelahku, tidak tahu pikiranku. Tapi mereka tahu satu hal setiap pagi, akan ada seseorang yang datang membawa makanan.
Dan mungkin, tanpa mereka sadari, mereka juga membawa sesuatu untukku ketenangan yang tak banyak diminta, tapi sangat terasa.
Alhamdulillah.
#edisikuatkanhati#
#limaekoroyen#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 14 Agustus 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
