Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Membaca Kreativitas di Atas Jok Becak
Ilistrasi AI

Membaca Kreativitas di Atas Jok Becak

Pagi ini aku pulang dari sebuah swalayan kecil, jaraknya tak sampai satu kilometer dari rumah. Sebelum ke sana, aku dan suami singgah sebentar ke lapak anakku yang berjualan sarapan sejak pukul 06.00 hingga menjelang siang. Kami diantar oleh anak bungsuku, sekalian ia akan berangkat ke luar kota menghadiri undangan temannya.

Dari lapak itu, kami berjalan kaki sekitar dua ratus meter menuju swalayan. Kami membeli beberapa bahan untuk membuat minuman yang akan kami bawa ke acara arisan keluarga di rumah adikku.

Ah, begitulah.., dengan kebiasaan menulis yang mulai tumbuh dalam diriku, selalu saja ada yang bisa “kubaca”. Ternyata, membaca tidak selalu tentang buku. Lingkungan di sekitar kitalah yang sering kali menjadi sumber cerita paling jujur.

Sepulang dari swalayan, kami menaiki sebuah becak bermotor yang terparkir di depannya. Baru saja duduk di jok, mataku mulai bekerja membaca situasi.

Pertama, aku melihat sebuah jerigen putih. Sekilas kukira itu wadah air minum milik abang becak. Namun, saat kuperhatikan lebih saksama, cairan di dalamnya berwarna hijau kebiruan.

“Oh… ini pertalite,” gumamku pelan.

Pengamatanku berlanjut. Sebuah selang kecil tampak terhubung dari jerigen itu menuju mesin. Seketika aku paham jerigen itu bukan sekadar wadah, tapi telah “naik pangkat” menjadi tangki bahan bakar. Sementara itu, tangki asli justru tertutup plastik kresek biru, jelas tak lagi difungsikan.

Masya Allah… sederhana, tapi cerdas.

Belum selesai kekagumanku, mataku kembali menjelajah. Di atas kepalaku, bagian atap becak dihiasi kardus-kardus bekas mie instan, detergen, sabun cuci piring, dan berbagai kemasan lainnya. Fungsional, mungkin juga sebagai pelindung tambahan.

Di situlah muncul keusilan kecil dalam benakku.

Bagaimana mungkin, di negeri ini, ada orang-orang berpendidikan tinggi, duduk di kursi jabatan, tetapi tak sekreatif abang becak ini? Tak mampu mencari solusi yang arif, malah sibuk dengan satu hal yang itu-itu saja korupsi.

Sementara di hadapanku, seorang lelaki sederhana yang mungkin tak memiliki gelar panjang justru mampu merakit solusi dari keterbatasan. Mengubah yang ada menjadi yang berguna. Menyambung hidup dengan cara yang halal dan bermartabat.

Kadang, pelajaran hidup tidak datang dari ruang-ruang megah. Ia justru hadir di atas jok becak, di balik jerigen putih, dan dalam diam orang-orang yang terus berjuang tanpa banyak suara.

Ya Allah, tanamkan dalam hati kami kejujuran dan rasa cukup. Ajarkan kami untuk kreatif dalam keterbatasan, kuat dalam ujian, dan istiqamah mencari rezeki yang halal. Jauhkan kami dari sifat tamak yang menjerumuskan, dan jadikan setiap langkah kami bernilai ibadah di sisi-Mu. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

#edisikuatkanhati#

#membacalingkungankuatkanempati#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 9 Agustus 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post