Membangun Budaya Menghargai Orang Lain
Mengenang terbentuknya grup whatApss secara gencar adalah ketika pandemi Covid-19 melanda negeri tercinta. Bersamaan dengan mewabahnya virus tersebut, "demam" grup WA pun meninggi. Hampir 100% aktivitas pembelajaran berlangsung di grup WA. Nyatanya, setelah serbuan virus itu enyah dari negeri ini, penggunaan aplikasi WA justru semakin intens karena dianggap memudahkan komunikasi antara guru dan siswa dan komunikasi di masyarakat pada umumnya.
Namun, seiring berjalannya waktu ada yang berubah. Respon siswa di dalam grup tidak lagi segemuruh di awal. Bukan tak pernah terjadi, kiriman guru di grup “berdiri sunyi” tanpa satu pun sapaan dari siswa. Mirisnya, ini tidak hanya terjadi di dalam satu grup kelas, tetapi bisa di beberapa kelas. Fenomena apa ini ?
Apakah ini pertanda bahwa budaya menghargai orang lain sudah mulai tergerus oleh laju teknologi? Menurutku, ini tidak bisa dinormalisasi. Ini bukan sesederhana menjawab salam ataupun merespon informasi, tetapi lebih kepada bagaimana kita menghargai orang lain.
Hal ini terlihat sederhana, namun sangat bermakna dalam kehidupan kita. Dari hal kecil seperti inilah karakter dibangun. Menghargai orang lain tidak muncul tiba-tiba saat kita terjun ke masyarakat, tetapi dilatih dari kebiasaan-kebiasaan sederhana setiap hari termasuk dalam cara kita berkomunikasi di grup whatApps.
Coba bayangkan dalam kehidupan nyata, ketika seseorang menyapa, lalu kita diam saja tanpa menjawab. Atau saat orang lain berbicara kepada kita, tetapi kita tidak memberi respons. Tentu itu terasa tidak nyaman, bahkan bisa dianggap tidak sopan, bukan?
Begitu juga nanti ketika kita berada di dunia kerja. Atasan memberi arahan, rekan kerja menyampaikan informasi, atau klien menghubungi, lalu tidak ada respons. Hal kecil seperti ini bisa berdampak besar: dianggap tidak menghargai, tidak profesional, bahkan bisa menghilangkan kepercayaan.
Apa yang kita biasakan hari ini, akan menjadi cerminan sikap kita di masa depan. Karena itu, belajarlah dari sekarang untuk hadir, merespon, dan menghargai orang lain.
Ingatlah, apa yang kita lakukan di dunia digital tetap dicatat sebagai amal. Cara kita merespon, menghargai, dan memperlakukan orang lain meski hanya melalui layar adalah bagian dari akhlak kita di hadapan Allah.
Sejatinya, balasan yang panjang tidak diharapkan, cukup satu kata, satu tanda bahwa kita hadir dan menghargai. Karena dari situlah tumbuh kebiasaan baik yang akan membentuk kepribadian kita.
Mari kita jaga adab, bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital yang kita gunakan setiap hari.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang menjaga lisan, tulisan, dan sikap, serta dimudahkan menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan bermanfaat di tengah masyarakat.
Kita mulai dari hal sederhana, tapi menentukan. Karena orang yang terbiasa menghargai hal kecil, kelak akan dipercaya untuk memegang hal besar.
#edisikuatkanhati#
#adabdiatasilmu#
#kepercayaanhebatdimulaidatimenghargaihalkecil#
Perisai Pribumi, Baiti Jannati, Awal Agustus 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
