Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Menekan Tombol Empati
Ilustrasi AI

Menekan Tombol Empati

Hari ini adalah jadwal hemodialisis suamiku. Seperti biasa, aku mengantar dan menemaninya. Ketika waktu Ashar tiba, aku bergegas turun ke lantai satu untuk menunaikan salat di masjid yang terletak di depan rumah sakit.

Sore hari seperti ini, lift selalu dipadati pengunjung. Jam besuk membuat antrean menjadi panjang dan melelahkan. Mendapatkan kesempatan naik lift dengan cepat terasa seperti sebuah keberuntungan tersendiri.

Usai salat, aku kembali mengantre untuk naik ke ruang hemodialisis di lantai lima. Ketika pintu lift terbuka, ternyata sudah ada beberapa orang di dalamnya, mungkin mereka naik dari basement. Di dekat panel tombol, berdiri seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluhan. Ia tampak seperti operator, sigap menekan tombol buka dan tutup pintu.

Sesaat setelah aku masuk dan pintu hampir tertutup, dari kejauhan terlihat seorang lelaki paruh baya berlari sambil melambaikan tangan. “Tunggu…” ucapnya terengah-engah.

Refleks, aku menekan tombol buka.

Namun, laki-laki yang berdiri di dekat panel itu tiba-tiba marah. “Apa sih, Bu?” ujarnya dengan nada kesal.

Belum sempat aku menjawab, lelaki paruh baya yang tadi berlari akhirnya berhasil masuk. Dengan napas tersengal, ia mengucapkan terima kasih sambil mengacungkan jempol kepadaku.

Aku mengurungkan niat untuk menanggapi kemarahan pemuda tadi. Pandanganku tertuju pada lehernya yang terdapat benjolan-benjolan besar seperti bisul. Saat itu aku berpikir, mungkin ia sedang menahan sakit dan sangat membutuhkan waktu yang cepat untuk segera mendapatkan penanganan. Mungkin, itulah yang membuatnya merasa terganggu ketika harus menunggu orang lain.

Aku memilih diam. Mencoba memahami, tak perlu menjelaskan ataupun membalas.

Seorang perempuan di sampingnya mungkin keluarganya, berusaha menenangkannya. Ia sempat menoleh kepadaku dan mengangguk pelan, seolah menyampaikan permohonan maaf tanpa kata.

Aku membalasnya dengan senyum kecil.

Dalam hati aku berdoa, semoga ia lekas sembuh.

Terkadang, dalam hidup, kita hanya perlu menekan satu tombol sederhana : tombol empati.

#edisikuatkanhati#

#tumbuhkanempati#

RS.Murni Teguh Medan, Lt.5 ruang Hd, 3 Agustus 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post