Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MENUMBUHKAN BUDAYA MENULIS DI KALANGAN GURU
Ilustrasi AI

MENUMBUHKAN BUDAYA MENULIS DI KALANGAN GURU

Sejatinya, menulis adalah dunia yang tak lepas dari tugas seorang guru. Menulis adalah salah satu cara seorang guru mengabadikan perjalanan profesinya. Setiap hari kita berbicara kepada siswa. Kita menjelaskan, berdiskusi, memberikan nasihat, menemukan cara baru agar pembelajaran lebih mudah dipahami, menghadapi berbagai karakter siswa, menyelesaikan persoalan, bahkan sesekali pulang dengan membawa cerita yang masih terngiang sampai di rumah.

Semua itu akan berlalu. Hari berganti hari. Tahun berganti tahun. Siswa datang dan kemudian meninggalkan sekolah untuk melanjutkan perjalanan mereka. Lalu, apa yang tersisa dari semua pengalaman itu? Salah satunya adalah tulisan.

MENULIS TIDAK HARUS MENJADI PROFESI

Menulis tidak harus menjadi profesi. Namun, menulis adalah satu kegiatan yang dapat dilakukan oleh banyak profesi. Menulis adalah keterampilan yang bisa dipelajari oleh siapa saja.

Seorang guru Matematika bisa menulis tentang perjuangan seorang siswa memahami angka.

Guru Biologi bisa menulis tentang rasa takjubnya melihat siswa menemukan sesuatu di laboratorium.

Guru Sejarah bisa menulis tentang bagaimana sebuah peristiwa masa lalu menjadi bermakna bagi anak-anak hari ini.

Guru olahraga bisa menulis tentang sportivitas dan perjuangan.

Guru BK bisa menulis tentang percakapan sederhana yang ternyata mengubah cara seorang anak memandang hidupnya.

Dan guru dari bidang apa pun memiliki cerita yang tidak kalah berharga. Karena yang membuat sebuah tulisan bermakna bukan semata-mata susunan bahasa, tetapi apa yang pernah dialami, direnungkan, dan dipelajari oleh penulisnya.

MENGAPA GURU HARUS MENULIS

Karena pengalaman yang hanya disimpan dalam ingatan suatu hari akan hilang bersama waktu. Tetapi pengalaman yang dituliskan memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama. Tulisan seorang guru hari ini mungkin dibaca oleh guru lain bertahun-tahun kemudian. Mungkin ada seorang guru muda yang menemukan inspirasi dari pengalaman kita. Mungkin ada seseorang yang sedang menghadapi persoalan yang sama dan merasa, “Ternyata saya tidak sendirian.”

Mungkin pula suatu hari nanti siswa kita membaca tulisan gurunya dan baru memahami bahwa di balik teguran, nasihat, tugas, dan aturan yang dulu terasa berat, ada seorang guru yang sesungguhnya sedang berusaha mendampingi mereka dengan caranya.

Itulah salah satu kekuatan tulisan.

Ia dapat melampaui ruang dan waktu.

MENULIS BUKAN AJANG MENUNJUKKAN SIAP YANG PALING HEBAT

Budaya menulis juga bukan tentang siapa yang paling pandai merangkai kata. Bukan pula tentang siapa yang bukunya paling banyak. Bukan juga tentang siapa yang paling bagus tulisannya.

Menulis adalah ruang untuk berbagi. Karena itu, mari kita tidak menulis dengan nada mengajari orang lain.

Kita tidak perlu mengatakan, “Guru harus begini.”

Kita bisa mengatakan, “Saya pernah mengalami ini, dan dari pengalaman tersebut saya belajar...”

Kita tidak perlu berkata, “Siswa seharusnya seperti ini.”

Kita bisa bercerita tentang seorang siswa dan apa yang pengalaman itu ajarkan kepada kita.

Dengan demikian, tulisan menjadi lebih manusiawi.

Kita tidak sedang berdiri di atas mimbar untuk memberikan petuah.

Kita sedang duduk bersama, saling bertukar cerita.

Karena itulah antologi guru hadir. Bukan sebagai kewajiban untuk semua guru.

Bukan pula sebagai ukuran siapa yang rajin dan siapa yang tidak.

Setiap orang tentu memiliki pertimbangan masing-masing. Ada yang ingin ikut menulis, ada yang mungkin belum siap, dan ada pula yang memilih untuk tidak berpartisipasi. Semua pilihan patut dihargai.

Namun sesungguhnya antologi guru merupakan kesempatan menjadi bagian dari upaya membangun budaya literasi di lingkungan sekolah kita.

Bukankah akan indah jika kelak sekolah kita tidak hanya dikenal karena prestasi siswanya, tetapi juga karena para gurunya memiliki tradisi untuk membaca, menulis, berbagi pengalaman, dan mendokumentasikan perjalanan pendidikan?

Sebab budaya literasi tidak cukup hanya kita ajarkan kepada siswa. Budaya literasi akan menjadi lebih kuat ketika guru juga ikut menjalaninya.

Dan mungkin, inilah saatnya kita memberikan contoh yang sederhana. Tidak perlu menunggu menjadi penulis.

Tidak perlu menunggu tulisan sempurna. Tidak perlu menunggu memiliki banyak waktu. Mulailah dari satu cerita.

Satu pengalaman. Satu peristiwa yang pernah menyentuh hati. Satu pelajaran yang pernah kita dapatkan dari murid.

Lalu tuliskan.

Karena bisa jadi, sesuatu yang bagi kita hanya sebuah cerita kecil, bagi orang lain justru menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Pada akhirnya, antologi guru bukan hanya tentang sebuah buku yang akan diluncurkan pada Hari Guru Nasional. Ia adalah tentang jejak. Jejak para guru yang pernah hadir di ruang-ruang kelas. Jejak tentang bagaimana kita mendidik, belajar, berjuang, gagal, mencoba kembali, dan tumbuh bersama anak-anak.

Dan bertahun-tahun setelah kita meninggalkan ruang kelas, mungkin masih ada satu hal yang bisa berbicara tentang perjalanan kita yaitu tulisan.

Mari menulis. Bukan untuk menunjukkan bahwa kita lebih hebat daripada siapa pun.

Bukan untuk menggurui siapa pun. Tetapi untuk berbagi. Untuk belajar dan untuk menginspirasi.

Dan terutama...

untuk meninggalkan jejak bahwa pernah ada guru-guru yang dengan tulus mengabdikan sebagian hidupnya untuk pendidikan. 💙

Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 7 Agustus 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post