Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
SANG SAKA BERKIBAR DI DALAM DADA
Detik-detik di mana petugas bendera mempertahankan posisi bendera tetap terbentang pada saat tali pengikat bendera putus. (Sumber : humassman14medan)

SANG SAKA BERKIBAR DI DALAM DADA

 

 

Pada momen pengibaran bendera Senin 24 Agustus 2026,  seluruh perhatian tertuju pada tiga petugas yang melangkah dengan penuh keyakinan, yaitu Constanttinus Fajar Rivaldo Tarigan(XII-1), Dean Immanuel Sinaga (XII-4) sebagai pembawa bendera, dan Wanri Felix Pasaribu (XII-1). Dengan langkah yang seirama dan tegap, mereka menghadirkan suasana khidmat yang menggetarkan. Aba-aba yang dilantunkan Dean terdengar tegas, memandu setiap gerakan menjadi rapi, sigap, dan penuh wibawa.

Sesaat ketika Sang Merah Putih telah siap dikibarkan terbentang sempurna di hadapan seluruh peserta upacara terjadi insiden tak terduga. Tali pengait bendera tiba-tiba putus. Waktu seakan berhenti sejenak. Tak ada yang tahu pasti apakah ini sekadar kendala teknis, karena usia tali yang telah usang, ataukah menjadi isyarat sunyi tentang perjuangan yang belum sepenuhnya selesai. Biarlah itu menjadi ruang tafsir.

Namun, di balik peristiwa itu, tersingkap sesuatu yang jauh lebih penting yaitu ketenangan dalam menghadapi situasi genting. Dengan cekatan dan tanpa panik, Fajar dan Dean berupaya mempertahankan kehormatan Sang Saka agar tetap terbentang. Sikap sigap mereka menjadi potret ketangguhan yang tidak dibuat-buat.

Suasana berubah menjadi hening dan tegang. Lagu Indonesia Raya tetap berkumandang, mengalun dalam haru yang membiru. Meski Sang Saka tak sempat berkibar di angkasa, makna yang hadir tak berkurang sedikit pun. Rasa bangga dan cinta kepada tanah air tetap utuh, bahkan terasa semakin dalam.

Di wajah para petugas, tersirat gurat emosi yang sulit disembunyikan, ada haru, tanggung jawab, dan kebanggaan berpadu dalam satu momen yang tak akan mudah dilupakan. Pada akhirnya, mereka menuntaskan tugas dengan penuh kehormatan, meski harus membawa kembali Sang Merah Putih dalam pelukan, bukan dalam kibaran.

Terima kasih, anak-anak hebat. Kalian telah menunjukkan bahwa kehormatan tidak selalu diukur dari kesempurnaan jalannya upacara, tetapi dari keteguhan sikap saat menghadapi ujian. Dalam keterbatasan, kalian tetap menjaga marwah upacara ini dengan luar biasa.

Sang Saka mungkin tak mengudara pagi itu, namun cinta pada Indonesia justru terasa semakin tinggi menjulang di dada setiap yang menyaksikan.

 

#edisiupacarabendera#

#fajardeanwanri#

#sangsakagagalberkibar#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

 

Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 24 Agustus 2026#

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post