Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
TRADISI NUSANTARA DALAM MENYAMBUT MAULID NABI SAW
Ilustrasi dibuat oleh AI

TRADISI NUSANTARA DALAM MENYAMBUT MAULID NABI SAW

Tulisan ini hadir terinspirasi dari percakapan di grup WA keluarga sesaat setelah penulis mengirimkan link tulisan mengenai kelahiran sang junjungan alam Rasulullah ﷺ . Adalah adinda Ali Azhar dan Malahayati Ar Rasyid, kedua adik kami ini berdomisili di Pangkal Pinang Kepulauan Bangka Belitung. Dari mereka penulis mendapat informasi bahwa setiap kali maulid nabi tiba, di tempat mereka selalu digelar tradisi Nganggung. Dari situ penulis pun langsung berselancar ke dunia maya untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber tentang tradisi-tradisi di nusantara terkait maulid baginda nabi Muhammad ﷺ. Dan.., jadilah tulisan ini. Semoga bermanfaat.

______________________________________________________________________________________________________________________

Maulid Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar peringatan hari lahir, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan cinta, mengenal lebih dekat, dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Di Indonesia negeri yang kaya akan budaya, cinta kepada Rasulullah ﷺ menjelma dalam beragam tradisi yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Setiap daerah memiliki cara unik dalam menyambut Maulid, namun semuanya bermuara pada satu tujuan yaitu memuliakan sang Rasul dan menguatkan ukhuwah.

Salah satu tradisi yang menarik datang dari Kepulauan Bangka Belitung, yaitu Nganggung. Dalam tradisi ini, masyarakat membawa dulang atau nampan berisi hidangan makanan yang ditutup tudung saji khas. Makanan tersebut kemudian dikumpulkan di masjid untuk disantap bersama. Nganggung bukan hanya tentang berbagi makanan, tetapi juga simbol kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur atas kelahiran Rasulullah ﷺ.

Di Yogyakarta, dikenal tradisi Sekaten, yang telah berlangsung sejak zaman Kesultanan. Sekaten ditandai dengan tabuhan gamelan pusaka dan puncaknya adalah Grebeg Maulud, di mana gunungan hasil bumi diarak dan diperebutkan oleh masyarakat sebagai simbol keberkahan. Tradisi ini menjadi jembatan antara dakwah Islam dan budaya lokal.

Bergeser ke Jawa Barat, masyarakat mengenal tradisi Panjang Jimat di Cirebon. Dalam prosesi ini, benda-benda pusaka keraton dibersihkan dan diarak, disertai pembacaan shalawat dan doa. Ada pula pembagian nasi jimat yang diyakini membawa berkah bagi yang menerimanya.

Di Sumatera Barat, semangat Maulid hadir dalam tradisi Makan Bajamba. Masyarakat duduk bersama dalam satu wadah besar untuk menikmati hidangan secara berkelompok. Nilai yang ditanamkan adalah kebersamaan, kesederhanaan, dan persaudaraan.

Sementara itu, di Aceh, perayaan Maulid dikenal sangat meriah dan bisa berlangsung hingga berbulan-bulan, disebut Maulid Akbar. Masyarakat menyajikan berbagai hidangan khas dan mengundang tamu dari desa lain. Ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus wujud penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.

Di Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan masyarakat Bugis-Makassar, terdapat tradisi Maudu Lompoa. Perayaan ini diwarnai dengan arak-arakan perahu hias dan pembacaan barzanji. Tradisi ini sarat makna spiritual dan sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut.

Di Banten, masyarakat merayakan Maulid dengan tradisi Panjang Mulud, yaitu arak-arakan hasil bumi yang dihias dan dibagikan kepada masyarakat. Ini menjadi simbol rasa syukur atas nikmat Allah SWT sekaligus bentuk sedekah.

Melihat beragam tradisi ini, kita menyadari bahwa Islam di Nusantara tumbuh dengan damai, merangkul budaya tanpa kehilangan esensinya. Setiap tradisi menjadi bahasa cinta masyarakat kepada Rasulullah ﷺ. Rasa cinta yang tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam kebersamaan, sedekah, dan zikir.

Barangkali bentuknya berbeda-beda, namun ruhnya tetap sama yaitu menghadirkan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan. Tradisi-tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa dakwah tidak selalu harus dengan kata-kata, tetapi bisa melalui budaya yang menyentuh hati.

Maka, ketika Maulid Nabi kembali hadir, mari kita tidak hanya menyaksikan tradisi, tetapi juga menangkap maknanya. Menjadikan setiap perayaan sebagai jalan untuk semakin mencintai, mengenal, dan meneladani Rasulullah ﷺ dalam setiap langkah kehidupan kita.

Semoga rasa cinta itu terus tumbuh dalam doa, dalam amal, dan dalam jejak-jejak kecil yang kita upayakan setiap hari.

#edisimaulidnabisaw#

#tradisinusantaradalambalutancintarasulullahsaw#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 12 Rabiulawal 1448H/25 Agustus 2026 M

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post