Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
BANYAK MERTUA TAK ADA YANG MARAH
Ilistrasi AI

BANYAK MERTUA TAK ADA YANG MARAH

Pagi itu aku pulang dari kedai dekat rumah tempat yang baru dua bulan terakhir ini jadi favorit ibu-ibu. Namanya Dapur Fresh Mart. Kedainya cukup besar, isinya lengkap. Dari sayur-mayur, buah-buahan, ikan segar, hingga bumbu dapur dan sembako, semua tersedia rapi. Harganya pun tak jauh berbeda dengan pasar tradisional. Wajar jika tempat ini cepat ramai.

Yang menarik perhatianku bukan hanya kelengkapannya, tetapi orang-orang di dalamnya. Anak-anak muda, kira-kira berusia 20 sampai 30 tahun, sibuk bekerja dengan peran masing-masing. Ada yang membersihkan ikan, ada yang menimbang cabai dan sayuran, ada yang mengurus lauk kering seperti teri dan ikan asin, dan dua orang di kasir melayani pembayaran. Mereka tampak terlatih, seolah ada pembagian tugas yang jelas.

Namun, ada satu hal yang paling menonjol: keramahan.

Pagi itu, seperti biasa, aku berdiri di dekat meja ikan. Seorang pemuda (sebut saja) Bang Boy sedang dikerubungi ibu-ibu yang menunggu ikan mereka dibersihkan. Tangannya cekatan, tapi antrean cukup panjang.

Tiba-tiba terdengar suara setengah kesal dari seorang ibu, “Cepatlah kau bersihkan ikan ibu, Bang.” Bang Boy tidak tergesa. Ia justru tersenyum, lalu menjawab santai, “Sabar ya, Bu mertua.” Sejenak suasana menjadi hening, lalu pecah tawa di antara kami.

“Yang mana pula mertuamu, Bang? Semua kau bilang mertuamu!” sahut ibu yang lain. Bang Boy hanya terkekeh. “Semua calon mertua saya, Bu. Jadi harus dilayani baik-baik.”

Tawa makin riuh. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang tersinggung. Justru suasana menjadi cair, hangat, dan terasa akrab. Antrean yang tadinya terasa lama, tiba-tiba menjadi ringan.

Aku tersenyum sambil memilih cabai. Di tengah kesibukan dan rutinitas, ternyata yang membuat orang kembali bukan hanya harga atau kelengkapan barang, tetapi rasa dihargai.

Keramahan sederhana, seperti yang dilakukan Bang Boy, mungkin terlihat sepele. Namun di situlah letak keistimewaannya. Ia tidak sekadar menjual barang, tetapi juga menghadirkan suasana. Mengubah lelah menjadi tawa, dan menukar penantian dengan kehangatan.

Mungkin banyak dari kita pernah berada di dua sisi, yaitu sebagai orang yang dilayani, atau sebagai orang yang melayani. Dan dari kedai kecil itu, aku diam-diam belajar bahwa sikap ramah bukan perkara besar atau kecilnya tempat, melainkan keluasan hati dalam memperlakukan orang lain.

Sebab pada akhirnya, yang tinggal dalam ingatan bukan hanya apa yang kita bawa pulang, tetapi bagaimana kita diperlakukan saat singgah.

Dan pagi itu, “banyak mertua” benar-benar tak ada yang marah karena semua merasa diterima seperti keluarga.

#edisiceritahati#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

Perisai Pribumi, Baiti Jannati, 1 September 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post