Raihana Rasyid

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Beda Tipis Antara Sabar dan Tak Sabar
Ilistrasi AI

Beda Tipis Antara Sabar dan Tak Sabar

Setiap hari Kamis, seperti biasa, aku menemani suami menjalani terapi hemodialisis. Rutinitas yang tak lagi terasa asing, namun selalu menyisakan cerita. Salah satunya: antrean lift.

Siang itu, antrean mengular panjang, wajar. Jam berobat bertemu dengan jam besuk. Semua mata tertuju pada angka dan tanda panah di atas pintu lift. “Masih naik…” gumamku dalam hati.

Mataku beralih pada barisan di depan. Seorang anak muda berdiri tenang. Di belakangnya, seorang nenek duduk di kursi roda, didorong oleh seorang anak yang kuperkirakan cucunya. Di sisi lain, berdiri seorang perempuan dengan penampilan yang langsung menarik perhatian.

Terusan peach bertabur bunga marun, panjangnya sebatas lutut. Lengan pendek, leher mode sabrina. Rambutnya dihiasi bando pita berwarna senada. Kulitnya bersih, kuning langsat. Iseng, aku menebak dalam hati, mungkin bukan pengguna BPJS. Ah, pikiran kecil yang kadang lewat begitu saja, seperti notifikasi yang tak penting tapi tetap kita buka. Hihihi.

Pintu lift terbuka. Kami masuk satu per satu. Di dalam, ruang sempit itu memaksa kami saling bersenggolan. Si ibu cantik tampak terusik saat kursi roda di sampingnya menyentuh sedikit tubuhnya. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan, tapi matanya tetap terpaku pada layar ponsel.

Tak lama, suara dari gadgetnya memenuhi ruang lift. Beberapa ibu tersenyum tipis. Rupanya, drama Korea sedang sampai di adegan yang “tidak boleh dilewatkan”. Jenis adegan yang membuat dunia nyata mendadak di-pause, sementara lift tetap berjalan tanpa menunggu siapa pun. Hehehe.

Lift berhenti di lantai lima, pintu terbuka. Kursi roda mulai didorong keluar. Namun si ibu masih terpaku pada layar, seakan lupa bahwa ia juga berada di jalur orang lain yang ingin bergerak. Kursi roda itu kembali menyenggolnya.

Kali ini terdengar jelas nada tak senang dari bibirnya, “Sabar kenapa?” Ia menoleh sekilas pada pendorong kursi roda.

Aku tersenyum di balik masker. Dalam hati, ada pertanyaan kecil yang mengetuk pelan: ini… beda tipis antara sabar dan tidak sabar. Sebab sering kali, kita merasa sedang menunggu orang lain untuk bersabar, padahal diam-diam, orang lainlah yang sedang bersabar menunggu kita.

Menunggu kita yang terlalu asyik dengan dunia sendiri. Menunggu kita yang lupa bahwa ruang ini milik bersama.

Di dalam lift yang sempit itu, aku belajar lagi bahwa sabar bukan hanya tentang menahan diri saat terganggu, tetapi juga tentang sadar bahwa kita pun bisa menjadi gangguan bagi orang lain.

Bukan tak mungkin, tanpa kita sadari kita pernah berkata “sabar ya…” kepada orang lain. Di saat yang sama kitalah yang paling perlu belajar sabar.

#edisikuatkanhati#

#belajardariuniversitaskehidupan#

#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#

RS. MURNI TEGUH MEDAN, RUANG HEMODIALISIS LT.5, 24 September 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post