CEO PUN TAK BERKUTIK
Ada satu hal menarik yang belakangan ini sering menggelitik pikiranku, berawal dari sebuah warung makan sederhana yang cukup ramai pengunjung. Menu yang disajikan beragam. Dari nasi soto, sop hangat, nasi goreng, mie goreng, hingga aneka jus yang menyegarkan. Sekilas, semuanya tampak berjalan biasa saja. Namun, entah kenapa, telingaku beberapa kali menangkap kalimat yang sama dari para karyawan, “Sebentar ya, nanti bos marah.” Aku tersenyum kecil setiap mendengarnya. Dalam hati, aku hanya berpikir, mungkin memang gaya kepemimpinan yang tegas.
Waktu terus berjalan. Dalam rentang satu setengah tahun, tanpa sengaja aku menyaksikan pergantian karyawan yang tidak sekali dua kali. Setidaknya, sudah tiga orang yang silih berganti mengisi posisi yang sama. Awalnya, aku tidak terlalu ambil pusing.
Sampai hari ini, saat aku kembali berkunjung, ada yang terasa berbeda. Dua orang chef yang biasanya sigap di dapur, tak tampak batang hidungnya. Dapur yang biasanya hidup, hari itu terasa agak canggung.
Dan di situlah aku melihatnya. Sang owner yang selama ini lebih sering mengatur dari depan, kini turun langsung ke dapur, mengambil alih peran sebagai chef.
Aku menunggu dengan rasa penasaran. Ketika makanan disajikan, dahiku mulai berkerut pelan. Tampilan makanan yang disajikan berbeda. Bukan berbeda karena lebih istimewa, tapi justru sedikit berantakan. Aku mencicipi kuahnya perlahan. Hmm.., ada yang hilang. Rasanya tidak “nendang” seperti biasanya.
Dari seorang customer service yang sempat kusapa, aku mendapat cerita kecil bahwa dua chef itu rupanya tidak hadir bersamaan hari ini. Seolah ada kesepakatan diam-diam.
Aku tersenyum lagi. Kali ini bukan sekadar geli, tapi seperti menemukan satu potongan pelajaran yang jatuh tepat di depan mata. Ternyata, sehebat apa pun seorang “CEO”, ketika ia berdiri sendiri tanpa timnya, ia tetap akan kewalahan.
Karena di balik sepiring rasa yang nikmat, ada tangan-tangan yang bekerja diam-diam. Ada ritme yang terbangun dari kebersamaan. Ada peran-peran kecil yang jika hilang satu saja, keseimbangan itu ikut goyah.
Hari ini aku belajar, bahwa kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling kuat berdiri di depan, tetapi tentang siapa yang mampu membuat orang-orang di belakangnya tetap mau tinggal.
Sebab saat orang-orang terbaik memilih pergi, yang tersisa bukan hanya kursi-kursi kosong tetapi juga kebenaran yang tak bisa lagi disembunyikan. Hari ini aku belajar bahwa ada pemimpin yang ditakuti, namun perlahan ditinggalkan. Di sisi lain, ada pemimpin yang dihargai, sehingga bahkan saat ia tak terlihat, pekerjaan tetap berjalan dengan setia.
#edisikuatkanhati#
#belajardariuniversitaskehidupan#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
RS. Murni Teguh Medan, Ruangan Hd, 14 September 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
