DARI SURABAYA KE FIRE CHAIN KETIKA LITERASI HIDUP DI XII-5 SMA NEGERI 14 MEDAN
Pagi itu, Rabu 9 September 2026, halaman SMA Negeri 14 Medan kembali menjadi ruang kecil yang penuh makna. Dalam program RABU BERAKSI, giliran kelas XII-5 yang tampil membawa tema literasi baca tulis dan sains. Sebuah perpaduan yang sederhana di atas kertas, tetapi ternyata mampu menjelma menjadi panggung yang hidup dalam praktiknya.
Acara dibuka oleh wali kelas XII-5 Ibu Rumesti Gultom, S.Pd. Dengan penuh semangat beliau tidak hanya membuka kegiatan, tetapi juga menghidupkan kembali makna literasi di hadapan siswa. Bahwa literasi bukan sekadar membaca teks atau menulis tugas, melainkan keberanian untuk menyuarakan gagasan, menampilkan pemahaman, dan mengolah pengetahuan menjadi pengalaman yang bisa dirasakan bersama. Setelah itu, beliau menyerahkan jalannya acara kepada dua MC, Wilson dan Thomosa, yang memandu kegiatan dengan antusias dan percaya diri.
Sesi pertama adalah literasi baca tulis. Sebuah drama bertajuk Pertempuran Surabaya ditampilkan dengan penuh penghayatan. Di balik peran yang dimainkan, ada usaha siswa untuk memahami sejarah, meresapi perjuangan, dan menyampaikan kembali nilai-nilai itu dalam bahasa tubuh dan suara mereka sendiri. Aksara yang biasanya diam di halaman buku, pagi itu berubah menjadi gerak, emosi, dan percakapan yang hidup di hadapan penonton.
Kemudian, suasana berganti ke literasi sains melalui eksperimen Fire Chain. Di sini, rasa ingin tahu siswa tampak menyala. Setiap proses tidak hanya ditampilkan, tetapi juga dijelaskan, sehingga sains tidak lagi terasa jauh atau rumit. Ia hadir dalam bentuk sederhana, namun tetap memancing kagum dan pemahaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan hiburan yang menghadirkan Yehezkiel dan Wilson. Mereka meracik lagu Burung Kakak Tua dengan sentuhan musik Batak yang khas. Perpaduan budaya ini menghadirkan suasana hangat, ringan, sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas bisa lahir dari pertemuan berbagai unsur sederhana.
Sebagai penutup, seluruh siswa XII-5 menampilkan tarian berjudul Terhebat. Gerakan yang kompak menjadi simbol kebersamaan, kerja sama, dan semangat yang terbangun sepanjang rangkaian kegiatan. Tidak ada yang berdiri sendiri, semuanya menyatu dalam satu irama yang sama.
Seluruh kegiatan berlangsung dalam durasi yang sangat terbatas, hanya 50 menit, sesuai ketentuan sekolah agar tidak mengganggu proses pembelajaran berikutnya. Namun justru di dalam keterbatasan itu, ada pelajaran yang terasa lebih dalam: bahwa waktu yang singkat bukan alasan untuk membuat sesuatu menjadi kecil.
Di sela waktu yang singkat, ada usaha panjang yang ingin disampaikan bahwa belajar bisa benar-benar hidup, jika diberi ruang untuk bersuara. Dari 50 menit itu, kita belajar satu hal sederhana bahwa yang kecil bisa berarti, jika dilakukan dengan sepenuh hati.
#edisiliterasibacatulisdansains#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Langit Biru di Sekolahku, SMA Negeri 14 Medan, 9 September 2026



Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan