Evaluasi yang Menyala di Bawah Matahari Pagi
Senin, 21 September 2026, lapangan SMA Negeri 14 Medan kembali menjadi ruang belajar yang tak berdinding. Kelas XII-8 bertugas sebagai pelaksana upacara, sedangkan yang bertindak sebagai pembina upacara adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Melky Gunawan Harefa, S.Pd.
Pagi itu, sang surya bersinar cerah, seolah turut mengalirkan energi yang membangkitkan semangat nasionalisme dalam dada setiap peserta upacara. Hangat sinarnya menerpa wajah pembina di podium, menjadikan setiap kalimat yang terucap terasa hidup dan berapi. Tema yang diusung adalah evaluasi pelaksanaan budaya positif yang telah berjalan kurang lebih tiga bulan di semester ini.
Hal pertama yang disoroti adalah kehadiran siswa. Meski terdapat peningkatan dalam hal kedisiplinan waktu datang, angka ketidakhadiran masih belum menunjukkan perubahan yang berarti. Masih ditemukan siswa yang izin tanpa alasan yang jelas. Kata “urusan” sering kali menjadi jawaban, namun tanpa penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Padahal, sejatinya urusan utama seorang siswa adalah belajar di sekolah.
Demikian pula dengan alasan sakit. Masih ada siswa yang tidak hadir tanpa disertai surat keterangan dokter. Untuk keluhan ringan, kehadiran di sekolah justru dapat menjadi bagian dari ikhtiar melawan rasa malas dan menjaga ritme kehidupan yang sehat. Terlebih lagi, jumlah hari efektif pada semester ganjil ini hanya sekitar tujuh puluh hari. Dengan ketentuan maksimal ketidakhadiran sebesar 10%, maka batas toleransi yang dimiliki siswa hanyalah sekitar tujuh hari dalam satu semester, sebuah angka yang sebenarnya sangat terbatas.
Evaluasi berikutnya menyentuh sikap siswa selama berada di lingkungan sekolah. Masih tampak siswa yang berkeliaran di depan kelas saat menunggu guru datang. Bahkan, terdapat siswa kelas X yang duduk di pagar besi lantai dua, sebuah tindakan yang tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga membahayakan keselamatan, mengingat kondisi pagar yang sudah tidak lagi baru.
Selain itu, pemanfaatan waktu istirahat juga menjadi perhatian. Rentang waktu 50 hingga 65 menit seharusnya cukup untuk menunaikan kebutuhan pribadi, ibadah, dan makan. Namun, kebiasaan menunda masih sering terlihat. Ketika bel masuk berbunyi, justru saat itulah sebagian siswa mulai bergegas ke toilet atau menyelesaikan urusan lain yang seharusnya sudah dilakukan sebelumnya. Kebiasaan kecil ini, jika terus dibiarkan, akan membentuk pola disiplin yang lemah.
Melalui amanat ini, pembina upacara mengingatkan kembali pentingnya kembali pada budaya positif yang telah dicanangkan. Disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran diri bukanlah sesuatu yang hadir dengan sendirinya, melainkan harus dilatih, dijaga, dan dipilih setiap hari.
Sebab pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter. Dan karakter itu, sering kali tidak dibangun dari hal-hal besar, melainkan dari keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari datang tepat waktu, jujur pada alasan, menjaga sikap, dan menghargai waktu.
Pelan-pelan kita belajar, bahwa yang menentukan masa depan bukan hanya seberapa pintar kita hari ini, tetapi seberapa jujur kita dalam menjalani hal-hal sederhana yang sering ingin kita abaikan.
#edisiupacarabendera#
#amanatpembinaupacara#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Langit Biru di Sekolahku, 21 September 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
