LADANG PAHALA DI RUANG HEMODIALISIS
Hari itu saat menemani suami menjalani terapi cuci darah (hemodialisis), tepat berhadapan dengan tempat tidur suamiku, seorang ibu paruh baya terbaring, ditemani seorang anak laki-laki di sisinya. Entah mengapa, pikiranku sempat mereka-reka. Usia anak laki-laki itu mungkin sekitar 17 atau 18 tahun, seusia anak-anak kelas XII yang setiap hari kutemui di sekolah.
Melihat sikapnya yang sabar menemani ibunya menjalani hemodialisis (hd) ku pun menebak-nebak: mungkinkah ia tidak memiliki saudara perempuan? Atau mungkin ia anak bungsu, sementara kakak-kakaknya telah sibuk dengan kehidupan masing-masing? Ah, betapa mudahnya kita menyusun cerita dari kejauhan. Padahal setiap keluarga menyimpan kisahnya sendiri.
Namun, yang benar-benar menarik perhatianku bukanlah siapa dia, melainkan bagaimana ia bersikap. Ibunya beberapa kali mengeluh, suaranya pelan namun berulang. Dan setiap kali itu pula, anak lelaki itu menjawab dengan nada yang sama, lembut dan sabar. “Iya, Mak… sabar ya. Nanti kita pulang.” Walaupun ia tahu, tak akan ibunya diizinkan pulang dari rumah sakit dengan kondisi demikian. Ia hanya sedang menenangkan ibunya.
Tangannya tak pernah diam. Sesekali ia mengelus kepala, lalu berpindah ke tangan, lalu ke kaki, seolah ingin memastikan ibunya tahu bahwa ia tidak sendiri dalam sakitnya.
Di tubuh sang ibu, terpasang berbagai alat medis yang bahkan aku tak sepenuhnya memahami namanya. Selang-selang, monitor, dan di sisi bawah tempat tidur, tergantung kantong penampung urine sebagai tanda bahwa ibunya benar-benar harus terbaring tanpa banyak bergerak.
Pemandangan itu membuat dadaku sesak oleh rasa haru. Di tengah segala keterbatasan itu, ada satu hal yang terasa begitu utuh yaitu kesabaran seorang anak. Luar biasa kebaikanmu, Nak. Tanpa kau sadari, engkau sedang menanam sesuatu yang tak kasat mata berupa ladang pahala yang begitu sunyi, tetapi pasti.
Di ruang yang dipenuhi suara mesin dan keluhan yang berulang, aku justru menemukan pelajaran yang tak diajarkan di ruang kelas mana pun bahwa bakti tidak selalu hadir dalam kata-kata besar, tetapi dalam kesediaan untuk tetap tinggal, tetap sabar, tetap menggenggam, meski lelah.
Saat aku memandang anak itu lebih lama, diam-diam aku bertanya pada diriku sendiri: “Jika suatu hari aku berada di posisi ibunya, akankah ada tangan yang setia tinggal seperti itu di sisiku?”
Pertanyaan itu tidak bersuara, tetapi ia tinggal di dalam dada. Entah mengapa, terasa jauh lebih lama daripada bunyi mesin-mesin di ruangan itu.
“Kenapa lama kali orang kakak menjemput kami?” Anak laki-laki itu kemudian kudengar berucap pada seorang perawat yang kulihat memegang map berisi rekam jejak kesehatan si ibu dan segera mendorong bed menuju ruang rawat inap. Kulihat si ibu sudah lebih tenang. Entahla karena pasrah atau merasa terbebas dari suara mesin hd yang terus bekerja di sampingnya selama 5 jam. Semoga sehat selalu, ibu. Aamiin.
#edisikuatkanhati#
#orangtuasebagailadangpahala#
#membacamenambahlilmumenulismengikatilmu#
RS. Murni Teguh, Ruang Hemodialisis, 14 September 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
