SELEMBAR KARTU SEUTAS HARAPAN
Ada hal yang perlahan membuatku resah dalam proses belajar di kelas, bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi kebiasaan kecil yang terus berulang, mereka tidak membaca petunjuk.
Setiap kali LKPD dibagikan, pertanyaan ataupun petunjuk yang sudah tertulis di lembar kerja kembali ditanyakan. Seolah kata-kata di depan mereka tidak benar-benar hadir sebagai sesuatu yang perlu dibaca dan dipahami.
Aku sering mengingatkan dengan suara pelan, “Nak, baca dulu petunjuknya. Di situ sudah ada arah yang harus kalian ikuti.” Namun, kebiasaan itu seperti tidak benar-benar pergi. Ia menetap dalam bentuk yang halus, tapi konsisten.
Di titik itu, aku mulai bertanya pada diriku sendiri: apakah yang lebih bermasalah adalah materi pelajaran, atau kebiasaan membaca yang belum tumbuh?
Dari kegelisahan itu, aku mencoba cara yang berbeda. Suatu hari aku bertanya di sela proses pembelajaran di dalam kelas: “Nak, kalian kan suka nongkrong. Sekarang Ibu kasih tahu tempat nongki paling keren.” (Nongki = Nongkrong)
Mereka langsung bereaksi. “Di mana, Bu?” Aku sengaja memberi jeda. Membiarkan rasa penasaran itu bekerja. “Kalau tidak ke sana, kalian belum bisa disebut keren,” lanjutku sambil tersenyum menggoda. Biasanya, gen z akan resah jika tidak disebut keren. Hehehe.
“Tempat itu adalah Perpustakaan Daerah Sumatera Utara. Tidak jauh dari sekolah kita.” Ada keheningan singkat setelahnya, seperti mereka sedang menimbang makna kata “nongkrong” yang baru.
Aku kemudian menambahkan, “Silakan kalian datang, daftar menjadi anggota perpustakaan. Gratis. Setelah itu kirim foto kartunya ke Ibu. Akan ada reward.”
Beberapa hari kemudian, satu per satu foto kartu anggota mulai masuk ke ponselku. Di balik itu, aku tidak sedang mencari bukti kepatuhan. Aku hanya berharap, mungkin di antara langkah kecil itu, ada pintu yang mulai terbuka. Bukan hanya menuju perpustakaan, tetapi menuju kesadaran bahwa membaca adalah cara lain untuk hadir di dunia. Aku pun sedang belajar ulang tentang bagaimana menumbuhkan sebuah kebiasaan, tanpa tergesa-gesa.
Di balik foto-foto kartu anggota yang mulai berdatangan itu, aku tidak serta-merta merasa berhasil. Sebab aku tahu, kartu itu hanya tanda bahwa mereka pernah datang bukan jaminan bahwa mereka telah membaca.
Namun mungkin memang tidak semua perubahan harus tampak langsung di depan mata. Ada yang bekerja diam-diam, seperti kebiasaan yang perlahan bergeser, atau kesadaran yang tumbuh tanpa suara.
Aku juga mulai belajar menerima satu hal bahwa membaca bukan hanya soal membuka buku, tetapi juga tentang bersedia membuka diri untuk memahami apa yang sebelumnya diabaikan.
Barangkali, di antara mereka yang hari ini baru sekadar menjadi anggota perpustakaan, akan ada satu atau dua yang suatu hari kembali bukan karena tugas, tetapi karena rasa ingin tahu yang tumbuh pelan.
Di titik itu, aku hanya berharap satu hal sederhana, semoga aku tidak terlalu lama menunggu untuk percaya bahwa perubahan kecil pun tetap berarti, meski datang tanpa banyak suara.
#edisikuatkanhati#
#gerakanliterasisekolah#
#membacamenambahilmumenulismengikatilmu#
Langit Biru di Sekolahku, 30 September 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
