Ramadhianty

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Jangan Sampai Terjadi ...

Jangan Sampai Terjadi ...

Jangan Sampai Terjadi...

#Tagur:012

"'Belajar dari Kasus Pak Agus: Guru Tidak Boleh Kehilangan Batas dengan Siswa". Judul sebuah tulisan mllik sebuah akun sosial media yang dipublish setelah marak dan vitalnya pemberitaan kasus guru bentrok dengan muridnya di SMK. 3 Tanjung Jabung Timur Jambi.

Hubungan guru dan murid memang dibatasi oleh etika dan struktur peran. Dari awal kegiatan belajar memang sudah disepakati membangun kedekatan itu penting, tetapi tidak sampai kehilangan batas. Mengapa harus dibatasi? Karena tidak semua murid memiliki kedewasaan emosional untuk membedakan bercanda dengan teman dan bersikap hormat kepada guru.

Menjadi guru yang dekat, disukai daaan akrab dengan murid tentunya impian semua guru. Humble, tidak kaku dan bisa menyatu dengan dunia mereka. Harus diingat, sedekat apapun seorang guru dengan muridnya tetap dikoridor dan batasannya. Guru bukan teman sebaya, meski kadang guru berada pada posisi itu untuk mendengarkan curhatan muridnya.

Di sinilah urgensi wibawa guru.

Banyak guru—terutama yang muda—takut dicap kaku atau kuno jika menjaga jarak dengan siswa. Padahal, menjaga jarak bukan berarti dingin atau tak peduli. Menjaga jarak adalah cara membangun otoritas, bukan memutus kedekatan.

Ada pepatah lama yang relevan hingga hari ini:“Familiarity breeds contempt” — keakraban berlebihan sering kali melahirkan sikap meremehkan. Saat guru terlalu cair, perintah dianggap candaan, teguran jadi bahan lelucon. Ketika guru naik nada, siswa merasa punya hak untuk melawan. Relasi yang seharusnya mendidik justru berubah menjadi konflik setara.

Guru harus tetap bisa mempertahankan wibawanya. Bukan lahir dari amarah dan teriakan, melainkan dari konsistensi siikap dan ketegasan yang jelas untuk semua murid tanpa tebang pilih. Dikelas boleh keras, cadas bahkan sangar,, tetapi dddilain kesempatan justru menunjukkan sikap kebapakann ddan keibuan kepada anaknya.

Meskipun demikian guru pun tak boleh kehilangan martabatnya agar dicap sebagai guru asyik. Buat para murid tetap memiliki rasa hormat karena rasa hormat itu tidak gratis. Mempertahankan mereka memiliki rasa hormat itu penting karena kalau rasa hormat itu hilang, sulit untuk dikembalikan.

Menjadi guru yang disukai memang menyenangkan. Tapi menjadi guru yang dihormati adalah keharusan. Jangan sampai demi terlihat keren dan relevan, kita para guru justru kehilangan kendali di kelasnya sendiri. Prinsip ini Yang hampir memasuki dua puluh tahun mengabdikan diri sebagai guru membangun kedekatan dengan para murid. Memposisikan diri secara tepat bagi mereka tentu punya seni tersendiri.

Kapan harus jadi gurunya. Di saat yang lain harus memposisikan diri sebagai orang tua. Tak kalah pentingnya ketika harus jadi teman curhat mereka. Mudah-mudahan kedekatan yang di bangun selama ini bersama mereka para murid yang setiap tahunnya berganti wajah, karakter dan latar belakang sosial kehidupan, tetapi tidak pernah berganti posisi karena tetap guru mereka.

Mudah-mudahan kedekatan dan metode pendekatan selama ini tidak akan jadi bumerang yang membuat para murid tak lagi hormat bahkan kehilangan rasa kalau kita adalah gurunya...

***

Solok, 19 Januari 2026....

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post