Skenario Kegiatan Itu Perlu...
Skenario Kegiatan Itu Perlu...
#Tagur:005
Ribuan orang hadir di lokasi gotong royong bersama membersihkan sisa bencana Galodo yang melanda daerah Saniangbaka, Muaro Pingai dan Paninggahan Kabupaten Solok akhir November lalu. Titik sentral kegiatan di perbatasan antara Nagari Muaro Pingai dan Paninggahan di Kecamatan Junjung Sirih. Areal persawahan yang berhektar- hektar membentang hingga pinggiran Danau Singkarak dibelah dua jalan raya yang merupakan lintas Solok ke Malalo Tanah Datar.
Sebanyak tiga puluh enam sekolah setingkat SMA/SMK di lingkungan Kota Kabupaten Solok yang tergabung di Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Solok Raya, Minus Solok Selatan dilibatkan untuk kegiatan ini. Ada dua ribu delapan belas orang yang diminta untuk ikut berpartisipasi ditambah dengan sejumlah ASN di Lingkungan Pemerintahan Daerah Kabupaten Solok.
Dalam surat undangan sedianya kegiatan akan dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat. Disebabkan satu dan lain hal kehadiran Buya Mahyeldi batal dan kegiatan dibuka secara resminya oleh Wakil Bupati Solok H.Chandra, S.Hi. Kegiatan yang tidak diplanningkan secara matang skenarionya, maka hasilnya tentu akan sangat jauh dari ekspektasi. Kehadiran kita para partisipan sangat tidak terskenariokan seperti apa yang jadi tujuan kegiatan. Di surat edaran kita diminta membawa perlengkapan goro, sementara OPD seperti BPBD, Dinas PUPR, KLH menyiapkan armada dump truck dan peralatan berat.
Nyatanya peserta datang dengan tanpa peralatan dan tidak sesuai edaran yang disampaikan ke sekolah. Jadinya modal tangan kosong wara wiri mengangkat dan mengangkut potongan-potongan sisa kayu glondongan dan kayu-kayu sisa material bawaan banjir banda lalu yang berbentuk potongan-potongan bahkan masih ada yang berakar.
Kalau diskenariona denga jumlah tenaga sebanyak itu maka hasil yang diharapkan dan bisa dicapai bakal maksimal. Misalnya luas persawahan itu dikapling untuk masing-masing sekolah serta OPD Ditentukan titik kumpul buangan kayu dan armada yang akan mengangkut pun demikian. Dump truck hanya ada dua unit, begitu juga dengan eskavator pun dua. Sementara mesin potong kayu (chainsaw) yang disediakan BPBD pun sama. Mengandalkan kekuatan dua tangan saja , seberapalah daya dan kapasitasnya. Apalagi ibu-ibu ANS dari beberapa OPD kesannya asal ikut serta dan hadir saja. Cukup angkat kayu kecil trus tumpuk dionggokan potongan kayu yang dibuat kelompok-kelompok untuk dibakar, terus foto dan upload sebagai laporan.
Miris,....mau mengharapkan para murid terbentuk karakternya, kalau para orang tua yang jadi contoh dan among mereka mentalnya seperti itu adanya. kalau diawal sudah ada skenarrio kerja" Siapa Mengerjakan Apa" pasti semua berlomba-lomba dan bertanggungjawab dengan jobnya. Ndak gampang membuat kegiatan besar dengan memobilisasi massa sebanyak ini. Apalagi mereka Gen Z yang amit-amit dengan pekerjaan seperti ini. kecuali yang terbiasa dan terlatih. menghidupkan api dengan media daun kelapatua dan sudah mati saja ndak bisa, apalagi dengan pembakaran kayu hidup.
Mereka yang terlatih dan terbiasa hidup dan berkegiatan di alam terbuka dan sudah ditempa mungkin masih bisa diharapkan. Kaum rebahan ini, bisanya foto-foto, video dan bikin konten saja. Begini potret dunia pendidikan kita. generasi yang kita hasilkan dengan kualitas empati dan tanggung jawab dibawah rata-rata.....
***
Solok, 30 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
