Desi Triyani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ranking itu bukan segalanya, Bunda...

Setelah pembagian rapor, berbagai media sosial akan dipenuhi dengan status capaian prestasi siswa.

"Alhamdulillah Si Kakak dapat juara 1" (disertai postingan foto seorang anak yang sedang memeluk rapor dan hadiah dari sekolah)

"Juara lagi seperti tahun-tahun sebelumnya" (dengan lampiran foto lembaran rapor yang berisi nilai-nilai yang tinggi)

"Semoga ilmu yang kamu peroleh menjadi berkah di masa depanmu, buah hatiku" (plus foto sang ibu yang memeluk anaknya sambil mengangkat rapornya tinggi-tinggi)

Itu adalah sekelumit status dari sekian ribu status sejenis di media sosial.

Kebanggaan orangtua saat anaknya mendapat juara dicurahkan di media- media sosial..

Untaian doa untuk si buah hati bukan lagi ditujukan kepada Sang Khalik, melainkan kepada sesuatu yang melahirkan riya'. Keinginan untuk disanjung dan dipuji semua pihak menguasai hati para orangtua sang juara. Naudzubillah!

Tahukah bunda, Alya seorang siswa kelas 1 di kelasku bukanlah juara kelas. Tetapi setiap waktu istirahat tiba, dia akan memungut sampah baik itu plastik jajanan ataupun daun-daun kering tanpa mempedulikan teman dan kakak kelas yang bermain di sekelilingnya.

Sementara Asya Sang Juara kelas bahkan tidak mampu membuang sampah bekas jajanannya ke tong sampah.

Berli juga bukan juara kelas. Tetapi saat waktu pulang tiba yang pertama kali diambilnya adalah setangkai sapu. Setiap hari dia selalu menyapu kelasnya dengan senyum yang lebar. Seolah-olah dia ingin mengungkapkan bahwa saat yang paling menggembirakan hatinya adalah kala Ia bisa melihat kelasnya bersih. Kebiasaan kecil yang mengilhami teman-temannya untuk melakukan hal yang sama setiap hari.

Mengapa hanya ranking yang menguasai hati kita, Bunda?

Apakah ranking adalah segalanya buat Bunda?

Tahukah Bunda, saat Si Kecil tidak mampu meraih ranking, banyak hal negatif yang kita lakukan.

Kita akan memaksa Si Kecil untuk belajar lebih dari kemampuannya. Memberikan pelajaran tambahan berupa les ini dan les itu hingga waktu bermain dengan teman-temannya habis tak bersisa.

Memarahi dan menghujat saat mereka salah mengisi. Padahal saat itu yang sangat mereka butuhkan adalah bimbingan dan pelukan hangat kita karena mereka sedang terpuruk.

Hal terakhir yang kita lakukan adalah menyalahkan gurunya. Tidak mampu mengajarlah, tidak memperhatikan anaklah, dan tidak mampu-tidak mampu lainnya.

Sudah hebatkah kita, Bunda? Yang telah melenyapkan masa anak-anaknya, rasa gembira bermain, berkejaran, tertawa ceria tanpa beban seperti yang kita lakukan saat kecil dulu.

Sudah hebatkah kita, Bunda? Yang telah memarahi mereka saat mendapat nilai rendah, menginjak mereka yang sedang terpuruk dan merasa hina, menghujat mereka seolah-olah kitalah manusia terhebat di bumi Allah.

Sudah hebatkah kita, Bunda? Yang dengan kata-kata kasar menyalahkan guru yang sudah mendidik anak kita saat kita sendiri tidak mampu melakukannya.

Mereka adalah titipan untuk kita. Mereka hebat karena kelebihannya dan mereka istimewa karena kekurangannya.

Di senja kita, merekalah yang akan merawat, meyuapi, mengantar kita ke dokter, dan mengirim doa sebagai benteng dari jilatan api neraka.

Di saat itu, apakah ranking masih di atas segalanya?

Mereka pernah hidup di dalam rahim kita, mereka bahkan pernah berada dalam satu nafas dengan kita. Pantaskah mereka mendapat perlakuan ini hanya karena tidak mendapat ranking.

Ranking tidaklah salah, mendapatkannya memang memerlukan tenaga dan pikiran. Alangkah indahnya, saat Si Kecil mendapat ranking, Sang Bunda menadahkan tangan mengucap syukur kepada Sang Maha.

Alangkah hebatnya saat Si Kecil tidak mendapatkan apa-apa, Sang Bunda bersujud kepada Sang Cipta dan mendoakan mereka agar menjadi amal tiada henti kepada orangtuanya, bahkan saat kita sudah tidak berada di bumi Allah.

Allah percayakan mereka kepada kita.

Pantaskah kita menyiakannya?

Hebatkah kita karena menzoliminya?

Pejamkan mata, bisikkan dalam hati...

"Rangking bukan segalanya, Bunda..."

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Rangking bukan segalanya, sangat setuju. Perihal pola pendidikan anak kebetulan istri dan saya guru. Senantiasa dimusyawarahkan dan diiskusikan. Terpenting bagaimana anak tergali potensinya secara alami. Dasar agama yang kuat, karakter diri, cakap bersosialisasi, dan sesuai potensi diri yang muncul. Pada dasarnya setiap anak memiliki multiple intelegensi. Semuanya terkait "bagaimana setiap anak mampu menjadi pribadi yang unggul sesuai dengan potensi dirinya yang khas". Sehat, bahagia, dan sukses. Terus menginspirasi. Barakallah.

17 Jan
Balas

Terimakasih, Pak.. Subhanallah! Pasangan guru. Semoga melahirkan generasi mulia bangsa.

17 Jan

Aamiin ya Allah. Semoga Putra/i Ibu Desi Triyani juga

17 Jan

Amiin...

17 Jan

Setuju Bund, kemampuan anak tidak hanya kognitif, tapi yang lain juga harus dilihat. Karena setiap punya kelebihan dan kekurangan. Sukses selalu dan barakallah

17 Jan
Balas

Betul Bunda.. Mereka semua istimewa.. Makasih Bunda

17 Jan

Sepakat Bunda Desi.... Semoga selalu sehat dan menginspirasi ..Barakallah...

17 Jan
Balas

Amiin.. Makasih Bunda.. Semoga kita senantiasa berada di jalur ilahi..

17 Jan

Mohon izin ditulis dibuletin sekolah sata bu...

17 Jan
Balas

Alhamdulillah.. Silakan Bunda.. Terimakasih...

17 Jan



search

New Post