Endang Dwi Haryanti

Perjalanan hidup yang menempaku, mengantarkan ke blog gurusiana ini Walau terlambat memulai semoga tetap berarti. Menulis adalah wisata hati, tempat bebas unt...

Selengkapnya
Navigasi Web
HATI YANG LUKA -11 ( TTG 365-H-314)

HATI YANG LUKA -11 ( TTG 365-H-314)

@Episode 11

Wanita itu menerima telfon gengggamnya kembali sambil mengucap terimakasih pada Bimo, dan memandang Anto dengan seksama.

“Terimakasih dek, siapa namanya ?,” kata wanita itu sambil mengulurkan tangan. Bimo menjabat tangan wanita itu.

“Nama saya Bimo mbak, kalau mendapat kesulitan di terminal sini hubungi saja saya, ini nomor saya,” kata Bimo memberikan no telfon.

“Oya Bimo, saya Harsiwi, panggil saja Siwi, ini ada sedikit rizki untuk Bimo,” Siwi mengeluarkan uang ratusan sebanyak 5 lembar.

“OH, jangan mbak, biarlah Allah yang membayar saya, saya tabung buat nanti di sana,” kata Bimo serius. Siwi manggut-manggut kagum, lalu dia mengeluarkan kartu nama.

“Baik, saya hargai prinsip anda, saya kagum, semoga saja bukan hanya kamuflase, dan ini kartu nama saya, kalau Bimo ada kesulitan boleh cari alamat ini” kata Siwi sambil berpamitan.

Ketika melangkah pergi, mendadak Siwi berbalik dan memandang Anto,

“Kamu, kalau masih hoby mencopet, kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan, bagaimana orang mau percaya sama kamu, berubahlah, supaya Allah juga merubah nasibmu, “ Siwi menasehati Anto sambil menepuk pundaknya. Anto merasa terpana, dan kagum dengan Siwi, Siwi sama sekali tidak memandang rendah dirinya, bahkan SIwi seperti menasehati adiknya sendiri.

“Ah, andai aku punya kakak seperti dia, pasti aku tidak akan jadi pencopet“ batinnya mengkhayal.

“Ayo, jangan mengkhayal punya saudara perempuan seperti dia, kamu ga pantas,” kata Bimo menarik tangan Anto dan membawanya ke warung budhe Surti.

“Budhe, ini ada bocah kelaparan, tolong kasih nasi,” kata Bimo sambil mendudukkan Anto di sebuah kursi plastik. Anto menurut saja, kalau tidak bisa tambah bonyok badannya. Lagian memang dia sednag sangat lapar.

“Ngapa Bim bocah ini, nyopet lagi?”, kata budhe sambil meletakkan sepiring nasi dengan tempe tahu dan sayur kangkung.

“Ya budhe, penyakitnya kambuh, katanya sih mau tobat, biar nanti kubawa ke Romo guru, biar dihajar,” kata Bimo masih saja geram.

“Jangan bang, kumohon jangan sampai Romo tahu,” Anto langsung bersimpuh memeluk kaki Bimo. Kalau Arsyad tahu Anto kembali mencopet, bisa dihukum berat sama Ketua perguruan Lang Lang Buana itu.

Dari jauh Risna memperhatikan kejadian demi kejadian, dan semakin kagumlah dia dengan pribadi Bimo, meski anak jalanan tapi sikapnya sangat terpuji. Kita memang tidak boleh menilai seseorang hanya dengan sekali lihat, dan dari penampilannya saja. Sebab penampilan seseorang sering kali tidak mencerminkan perilakunya, yang kita lihat belum tentu seperti yang kita bayangkan.

#Depok, 11 November 2022

#EDH

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post