Endang Dwi Haryanti

Perjalanan hidup yang menempaku, mengantarkan ke blog gurusiana ini Walau terlambat memulai semoga tetap berarti. Menulis adalah wisata hati, tempat bebas unt...

Selengkapnya
Navigasi Web
HATI YANG LUKA (TTG 365-H-327)

HATI YANG LUKA (TTG 365-H-327)

@Episode 20

Dini hari menjelang subuh masih berselimut hawa dingin, rasanya malas untuk beranjak dari peraduan. Tapi tidak dengan bude Surti, dia segera beranjak membangunkan Risna untuk sholat tahajud. Tidak perlu waktu lama, syukurlah Risna masih menurut diajak bude sholat meskipun wajahnya sering hampa tanpa ekspresi.

Setelah selesai sholat malam, bude mengajak Risna membaca surah Arrahman, surah yang menggambarkan betapa besar kasih sayang dan nikmat Allah, surah yang menyuruh kita untuk bersyukur. Tiba pada ayat yang selalu di ulang-ulang:

“Fabbi ayyi ala irrobbikuma tukazziban,” maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan", bude membacakan artinya itu di depan Risna, awalnya Risan tidak peduli, setelah ayat itu terus berulang, Risna memandang bude dan akhirnya jatuh dalam pelukkanya, dalam tangis yang dalam. Apa iya aku harus bersyukur dalam keadaan seperti ini, rintih hati Risna.

“Sabar ya nduk, percaya sama Allah,bahwa Allah hanya menguji hambaNYA sesuai dengan kemampuannya, jadi Risna pasti mampu melewati ini semua,” nasehat bude sambil mengecup ujung kepala Risna.

Selesai sholat subuh, bude tetap memasak seperti biasa, meskipun bude tidak pergi jualan tetapi warungnya tetap buka, kasihan para pelanggan. Ada Tinah yang menggantikan bude, ibu satu anak yang ditinggal suaminya ke Jakarta. Tinah juga pintar dan rajin membersihkan warung. Biasanya Tinah hanya disuruh bude, kalau bude tidak bisa menjaga warungnya.

“Mbak, sabar ya, mbak harus kuat, aku akan menjaga mbak, dan akan mencari laki-laki yang sudah membuat mbak seperti ini,” kata Bimo iba melihat Risna yang terus bersedih. Risna hanya memandang Bimo dan mengangguk, Risna juga tak tega dengan Bimo, dia seperti menemukan kakaknya kembali, sebenarnya mereka saling membutuhkan.

Siang itu Bimo berniat mencari alamat di kartu nama yang pernah diberikan seorang wanita muda yang masih cantik yang ditolongnya ketika kecopetan di terminal tempo hari. . “ya, mbak Siwi yang akan dia datangi, siapa tahu bisa mencarikan solusi untuk Risna. Bimo tiba di sebuah perkebunan teh, sebuah tempat tersembunyi antara gunung Merbabu dan Merapi, di sini pemandangannya begitu indah, perkebunan teh yang menghampar dan meliuk begitu tertiup angin, dari kejauhan seperti permadani hujau yang memukau.

Bimo terdiam, siapa sebenatnya mbak Siwi ini, dan di mana tinggalnya, apa iya dia tinggal di perkebunan teh ini. Sejauh mata memandang hanya perkebuna teh, di kejauhan sana ada sebuah bangunan yang dikelilingi tembok.

“Aku harus ke sana”, kata hati hati Bimo setengah bimbang, dia segera menaiki kembali sepeda motornya menuju bangunan itu.

#Bersambung

#Braling Hotel, 24 November 2022

#EDH

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Wah, ada tokoh baru lagi ni. Makin seru aja, Bun. Keren

24 Nov
Balas

Luar biasa Bunda penuh inspirasi dan mencerahkan

24 Nov
Balas

Salam literasi, sehat selalu Bunda, ditunggu cerita lanjutannya ya bund.

24 Nov
Balas

Duuhh...tabahkan hatimu, Risna.

24 Nov
Balas



search

New Post